Presiden Prabowo punya program unggulan yang disebut dengan Astacita, mengapa disebut Astacita, sepertinya ini sejalan dengan angka kesukaan presiden yaitu 8, dan benar saja beliau menjadi presiden kedelapan Indonesia. Memang, dalam bahasa Sansekerta Asta itu berarti delapan. Jadi, Astacita adalah 8 cita-cita besar.
Begini
ringkasan Astacita tersebut: 1) Memperkokoh Ideologi, 2) Memantapkan pertahanan
dan keamanan, 3) Meningkatkan lapangan kerja, 4) Pengembangan SDM, 5)
Hilirisasi dan Industrialisasi, 6) Membangun dari desa, 7) Reformasi birokrasi,
dan 8) Penyelarasan kehidupan yang lebih harmonis.
Bagaimana
penjelasannya? Apa langkah konkret yang sudah dilakukan? Biarlah itu menjadi
tugas pemerintah, sebagai rakyat yang baik kita perlu mendukung dan mendoakan
agar negara ini semakin baik kedepan.
Dalam
kaitannya dengan manajemen ibadah Ramadan yang lebih produktif, tampaknya
Astacita tersebut perlu juga diterapkan dalam konteks amalan-amalan teknis.
Setidaknya ada delapan tawaran amaliah Ramadan yang perlu dilakukan.
Pertama
adalah Salat di awal waktu. Sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw.
Amalan apakah yang paling dicintai Allah? Rasul menjawab: "Salat tepat
pada waktunya". Dalam suasana Ramadan yang baru saja dimulai, tampaknya
semangat untuk melaksanakan salat di awal waktu sangat mungkin dan iklimnyapun
mendukung. Momentum ini perlu benar-benar dimanfaatkan.
Apa pentingnya
salat di awal waktu?. Keberhasilan seseorang sesungguhnya diukur berdasarkan
bagaimana ia merespon panggilan Muazzin, kalau cepat, biasanya akan
cepat pula keberhasilan menghampiri, demikian sebaliknya.
Ustaz Yusuf
Mansur pernah menganalogikan hal ini dengan sangat baik. Katanya, ada dua orang
anak berangkat dari kampung yang sama, kuliah di kampus yang sama, terdaftar
pada prodi yang sama dan keduanya diwisuda pada waktu yang bersamaan. Tetapi,
satu dari mereka cepat mendapatkan pekerjaan, cepat mendapat Jodoh, dan secara
ekonomi hidupnya relatif layak. Tapi yang satunya, lama baru dapat pekerjaan,
lama juga baru menemukan jodoh dan relatif lama mendapat penghidupan yang
layak.
Alasannya
adalah tergantung respon dari mereka dalam mengerjakan salat. Dari dua orang
yang disebut tadi, yang satu sudah berada di masjid bahkan sebelum waktu salat
tiba, ia menungguwaktu dengan sangat tenang. Sementara yang satunya salat di
penghujung waktu, bahkan sering kali tertinggal. Jadi, sesederhana itu
membandingkannya. Jika selama empat tahun dalam proses menyelesaikan kuliah,
selama itu pula menyepelekan salat, maka ketika ia mengantarkan lamaran
pekerjaan, berkasnya tertumpuk, tidak kelihatan, kalaupun kelihatan tidak
menarik untuk dipekerjakan. Jika ia melamar calon istrinya, tidak tampak
kebaikan pada raut wajahnya, sehinga berkali-kali melamar, ia tidak bisa
meyakinkan calon mertuanya. Seberapa lama kondisi ini akan berlangsung?
Seberapa lama ia lalai dalam salatnya.
Ada yang
lebih menarik tentang ini, baru saja dirilis oleh sebuah lembaga survei Indonesia
Moslem Report bahwa katanya, di
Indonesia ini hanya 38, 9% saja umat Islam yang melaksanakan salat. Hasil
survei tersebut jika dibaca lebih lanjut, lebih mencengangkan lagi, hanya 2%
umat Islam Indonesia yang salat berjamaah di masjid. Miris, tapi ini merupakan
hasil survey, dilakukan melalui cara kerja yang terukur dan ilmiah. Bahwa bisa
saja salah, iya. Tapi perlu dibantah dengan hasil penelitian yang serupa,
sayangnya sampai hari ini belum ada yang berani merilis bantahan hasil
penelitiannya ke publik.
Jangankan
salat di awal waktu, kalau melihat hasil survei tersebut, sekadar mau
melaksanakan salat saja sudah lumayan. Tapi, optimisme itu harus terus
dimiliki, setidaknya Ramadan ini akan mengubah hasil survei tersebut,
sukur-sukur bertahan hingga akhir Ramadan dan seterusnya.
Bersambung…
