Hadis
populer dari Nabi Muhammad Saw. Menyatakan: "Sesungguhnya amal
bergantung pada niatnya. Dan sungguh orang akan memperoleh sebagaimana yang
telah diniatkan...". Hadis ini tidak hanya memberi penekanan betapa
pentingnya niat, tetapi juga niat itu sangat menentukan, niat menjadi motif
melaksanakan amal. Demikian seterusnya.
Jika ingin
melihat lanjutan Hadis tersebut tentu lebih menarik lagi: "Siapa yang
berniat hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan
Rasul. Tetapi, jika hijrahnya untuk dunia (harta), atau karena ingin
mendapatkan perempuan (jodoh), maka hijrahnya itu adalah untuk apa yang ia niatkan".
Konteks
Hadis tersebut memang untuk meneguhkan hati para sahabat yang akan ikut bersama
Nabi Muhammad hijrah dari Mekkah ke Madinah. Secara psikologis, memang agak
berat meninggalkan kampung halaman, apalagi keadaan ekonomi sudah mapan bahkan
sangat nyaman. Tetapi Nabi Muhammad mencoba memotivasi sahabatnya agar yakin
bahwa Allah akan mengganti apa yang sudah mereka miliki, gantinya tentu akan
lebih banyak dari apa yang sudah ada sekarang. Kuncinya satu, yang penting
yakin.
Memang,
banyak pengalaman hidup orang-orang sukses yang telah dibukukan, hampir semuanya
berangkat dari pengalaman hijrah dengan niat dan keyakinan yang mantap. Penulis
sendiri berasal dari kampung yang sampai sekarang jalannya belum diaspal, di
pelosok desa, diujung perbatasan provinsi, daerah minoritas muslim pula. Tapi,
karena keyakinan dan niat yang kuat mencari ilmu, belajar lillahi ta'ala,
hasilnya ternyata jauh melampaui apa yang diniatkan dulu.
Ketika
berangkat dari kampung tujuannya kuliah, bisa selesai S1 dari IAIN Sumatera
Utara, menjadi guru agama dan mengembangkan Islam di kampung halaman, tapi
ternyata hasilnya lebih, malah sampai selesai kuliah pada jenjang yang paling
tinggi, dapat kerjaan dan bahkan dapat jodoh juga di tempat mencari ilmu.
Sungguh, ini sama sekali di luar dugaan. Atau jika ingin meminjam istilah
Azyumardi Azra, beliau sering menyebut sebagai beyond imagination.
Kembali ke
pangkal, bahwa sangat penting mengelola niat, mengatur, dan memanajemen niat
itu. Niat harus terus diperbaiki, ditujukan kepada hal-hal yang mendatangkan
kebaikan tanpa mengharap apapun. Agama mengenalnya dengan sebutan lillahi
ta'ala, karena Allah saja.
Agaknya,
semua ibadah mempersyaratkan niat berada pada urutan pertama dan terpenting.
Kalau niatnya salah maka amalnya juga salah. Salat jika tidak menggunakan niat,
maka tidak disebut sebagai salat, mungkin hanya sebatas gerakan-gerakan yang
mirip dengan olah raga atau bahkan hanya sekedar stretching sebelum
melakukan olahraga. Haji pun demikian, kalau dilaksanakan tanpa niat, maka serangkaian
ritual yang dikerjakan itu tidak bernilai, mungkin hanya sekadar napak tilas
atau bahkan sekadar berwisata ketempat-tempat bersejarah.
Demikian
halnya dengan puasa, dimaklumi bahwa rukunnya hanya dua: niat dan menjaga dari
hal-hal yang membatalkan puasa. Penjelasan mengenai hal-hal yang membatalkan puasa
bisa dicari di buku-buku Fikih, sangat panjang penjelasannya. Tetapi dalam
konteks niat, lagi-lagi ini menjadi penting dan menentukan. Karena itu, ulama
berbeda pendapat tentang kapan harus berniat, apakah harus diperbarui niat
setiap hari, atau bagaimana?. Mayoritas umat Islam Indonesia yang bermazhab
Syafi'i melafalkan niat setiap malam setelah selesai salat witir. Tetapi ada
juga yang mengatakan, terutama Mazhab Maliki bahwa niat itu cukup satu kali
diucapkan, berniat puasa selama sebulan penuh. Dalam praktiknya, ada juga
sebagian lainnya yang berniat sehabis makan sahur, berarti mereka berniat pada
saat pelaksanaan puasa. Apapun itu, pendeknya, setiap yang akan berpuasa wajib
memasang berniat.
Niat yang
dimaksud tentu tidak hanya sebatas "Nawaitu shauma ghadin...".
Ini standar Fikih untuk membayar hutang rukun puasa. Tetapi, ada niat yang
perlu di atur terutama dalam mengawali ibadah Ramadan tahun ini. Apa yang
menjadi target akhirat, misalnya memperbanyak ibadah. Ini juga harus diniatkan.
Karena ini masih awal, maka penting direncanakan ibadah apa yang ingin
dimaksimalkan. Boleh misalnya membaca Al-Qur'an, beristighfar, shalat tarawih full
dan lain sebagainya.
Ada juga
niat keduniawian yang ingin dikerjakan selama bulan Ramadan. Karena, biasanya
akan terjadi perubahan pola waktu yang signifikan. Ini perlu dimanfaatkan,
diniatkan dan betul-betul dilaksanakan. Misalnya menuntaskan naskah buku yang
belum selesai, belajar disiplin ilmu baru, memulai usaha, dan sebagainya.
Akhirnya,
niat yang menjadi motivasi beribadah lillahi ta'ala itu, bisa kita
sandingkan dengan aktivitas keduniawian yang lebih produktif, produktif yang tentunya
lillahi ta'ala juga.
