Manajemen Niat

Refleksi Kehidupan
0

 


Hadis populer dari Nabi Muhammad Saw. Menyatakan: "Sesungguhnya amal bergantung pada niatnya. Dan sungguh orang akan memperoleh sebagaimana yang telah diniatkan...". Hadis ini tidak hanya memberi penekanan betapa pentingnya niat, tetapi juga niat itu sangat menentukan, niat menjadi motif melaksanakan amal. Demikian seterusnya.

 

Jika ingin melihat lanjutan Hadis tersebut tentu lebih menarik lagi: "Siapa yang berniat hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul. Tetapi, jika hijrahnya untuk dunia (harta), atau karena ingin mendapatkan perempuan (jodoh), maka hijrahnya itu adalah untuk apa yang ia  niatkan".

 

Konteks Hadis tersebut memang untuk meneguhkan hati para sahabat yang akan ikut bersama Nabi Muhammad hijrah dari Mekkah ke Madinah. Secara psikologis, memang agak berat meninggalkan kampung halaman, apalagi keadaan ekonomi sudah mapan bahkan sangat nyaman. Tetapi Nabi Muhammad mencoba memotivasi sahabatnya agar yakin bahwa Allah akan mengganti apa yang sudah mereka miliki, gantinya tentu akan lebih banyak dari apa yang sudah ada sekarang. Kuncinya satu, yang penting yakin.

 

Memang, banyak pengalaman hidup orang-orang sukses yang telah dibukukan, hampir semuanya berangkat dari pengalaman hijrah dengan niat dan keyakinan yang mantap. Penulis sendiri berasal dari kampung yang sampai sekarang jalannya belum diaspal, di pelosok desa, diujung perbatasan provinsi, daerah minoritas muslim pula. Tapi, karena keyakinan dan niat yang kuat mencari ilmu, belajar lillahi ta'ala, hasilnya ternyata jauh melampaui apa yang diniatkan dulu.

 

Ketika berangkat dari kampung tujuannya kuliah, bisa selesai S1 dari IAIN Sumatera Utara, menjadi guru agama dan mengembangkan Islam di kampung halaman, tapi ternyata hasilnya lebih, malah sampai selesai kuliah pada jenjang yang paling tinggi, dapat kerjaan dan bahkan dapat jodoh juga di tempat mencari ilmu. Sungguh, ini sama sekali di luar dugaan. Atau jika ingin meminjam istilah Azyumardi Azra, beliau sering menyebut sebagai beyond imagination.

 

Kembali ke pangkal, bahwa sangat penting mengelola niat, mengatur, dan memanajemen niat itu. Niat harus terus diperbaiki, ditujukan kepada hal-hal yang mendatangkan kebaikan tanpa mengharap apapun. Agama mengenalnya dengan sebutan lillahi ta'ala, karena Allah saja.

 

Agaknya, semua ibadah mempersyaratkan niat berada pada urutan pertama dan terpenting. Kalau niatnya salah maka amalnya juga salah. Salat jika tidak menggunakan niat, maka tidak disebut sebagai salat, mungkin hanya sebatas gerakan-gerakan yang mirip dengan olah raga atau bahkan hanya sekedar stretching sebelum melakukan olahraga. Haji pun demikian, kalau dilaksanakan tanpa niat, maka serangkaian ritual yang dikerjakan itu tidak bernilai, mungkin hanya sekadar napak tilas atau bahkan sekadar berwisata ketempat-tempat bersejarah.

 

Demikian halnya dengan puasa, dimaklumi bahwa rukunnya hanya dua: niat dan menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa. Penjelasan mengenai hal-hal yang membatalkan puasa bisa dicari di buku-buku Fikih, sangat panjang penjelasannya. Tetapi dalam konteks niat, lagi-lagi ini menjadi penting dan menentukan. Karena itu, ulama berbeda pendapat tentang kapan harus berniat, apakah harus diperbarui niat setiap hari, atau bagaimana?. Mayoritas umat Islam Indonesia yang bermazhab Syafi'i melafalkan niat setiap malam setelah selesai salat witir. Tetapi ada juga yang mengatakan, terutama Mazhab Maliki bahwa niat itu cukup satu kali diucapkan, berniat puasa selama sebulan penuh. Dalam praktiknya, ada juga sebagian lainnya yang berniat sehabis makan sahur, berarti mereka berniat pada saat pelaksanaan puasa. Apapun itu, pendeknya, setiap yang akan berpuasa wajib memasang berniat.

 

Niat yang dimaksud tentu tidak hanya sebatas "Nawaitu shauma ghadin...". Ini standar Fikih untuk membayar hutang rukun puasa. Tetapi, ada niat yang perlu di atur terutama dalam mengawali ibadah Ramadan tahun ini. Apa yang menjadi target akhirat, misalnya memperbanyak ibadah. Ini juga harus diniatkan. Karena ini masih awal, maka penting direncanakan ibadah apa yang ingin dimaksimalkan. Boleh misalnya membaca Al-Qur'an, beristighfar, shalat tarawih full dan lain sebagainya.

 

Ada juga niat keduniawian yang ingin dikerjakan selama bulan Ramadan. Karena, biasanya akan terjadi perubahan pola waktu yang signifikan. Ini perlu dimanfaatkan, diniatkan dan betul-betul dilaksanakan. Misalnya menuntaskan naskah buku yang belum selesai, belajar disiplin ilmu baru, memulai usaha, dan sebagainya.

 

Akhirnya, niat yang menjadi motivasi beribadah lillahi ta'ala itu, bisa kita sandingkan dengan aktivitas keduniawian yang lebih produktif, produktif yang tentunya lillahi ta'ala juga.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)