Astacita Ramadan Bagian 2

Refleksi Kehidupan
0

 


 

Setelah berupaya salat tepat waktu dan berjamaah di masjid, amaliah Ramadan kedua yang perlu dilakukan adalah Tarawih dan Witir.

 

Tarawih adalah salat yang hanya ada saat bulan Ramadan saja. Karenanya rugi bila ditinggalkan. Salah satu buku terkenal yang merinci bagaimana keutamaan dan pahala salat Tarawih adalah Durratun Nashihin. Tak tanggung-tanggung, uraian pahalanya bervariasi, rinci setiap malamnya. Manfaat mengerjakan Tarawih selain dari pahala yang banyak, juga melatih kesabaran. Sabar menunggu sampai rangkaian ritualnya selesai, sabar konsisten melaksanakannya tiap malam.

 

Secara etimologi, Tarawih berarti istirahat sejenak, rileks atau santai. Kebanyakan masjid memaknai santai ini dengan selingan bacaan selawat kepada nabi dengan irama khas dan doa singkat yang dilantunkan oleh bilal. Dengan begitu, ada jeda, berhenti sebentar tiap dua rakaat.

 

Sebagian masjid lainnya memaknai tarawih dengan santai diwujudkan dalam bentuk kajian Islam, sambil jamaah menikmati makanan ringan, mendengarkan tausiyah agama oleh ustaz yang relatif lama, setelah itu mengerjakan salat tarawih dengan formasi 4-4-3. Setiap selesai empat rakaat dengan satu salam, berhenti sebentar, tanpa ada bacaan-bacaan tertentu, hening, sementara jamaah boleh menikmati bukaan puasa dan minum apa yang ada.

 

Demikian pemaknaan dan implementasi tarawih yang jamak dilakukan di berbagai masjid. Oleh karenanya, secara bahasa kurang tepat jika ada “tarawih kilat khusus” yang dapat menyelesaikan 21 rakaat dalam durasi 7 menit saja. Mengapa tidak tepat? Karena pasti tidak santai, tidak ada jeda, tidak ada istirahat sebentar. Dan ini kontradiktif dengan makna tarawih yang sesungguhnya. Meskipun secara Fikih masih saja ada celah untuk pembenaran, tetapi secara Antropologi bahasa “tarawih kilat” itu tidak benar.

 

Selesai Tarawih, Qiyamul Lail Ramadan diiringi dengan salat Witir. Witir maknanya ganjil. Pelaksanaannyapun terdapat dua versi: ada yang menuntaskan dengan satu kali salam ada juga dengan dua kali salam. Keduanya sama-sama ada ganjilnya. Kalau tarawih dilaksanakan hanya pada momentumnya, sementara Witir adalah salat sunnah yang dapat dilaksanakan setiap malam.

 

Orang-orang saleh dahulu, menjadikan salat Witir sebagai amalan rutin, ada yang menjadikan witir sebagai penutup salat, dilaksanakan setelah tahajjud. Ada pula yang mengamalkannya sebagai pengantar tidur, harapannya tidurnya menjadi yang lebih berkualitas.

 

Di antara Sunnah nabi sebelum tidur adalah berwudu, oleh sebagian orang ritual ini diteruskan sekalian salat Witir. Amalan salat Witir yang dirangkaikan dengan Tarawih seyogyanya menjadi amalan muslim sepanjang tahun, tentu tidak ada kendala yang berarti, toh juga sudah berwudu, sekalian saja diteruskan salat witir.

 

Bersambung

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)