Perkembangan kecerdasan buatan hari
ini telah berkembang sedemikian rupa dan sedang mencapai puncaknya. Ia membawa
kemudahan, kecepatan, dan kepraktisan yang dulu hanya bisa kita bayangkan seperti
yang ada di dalam film-film. Di dunia pendidikan, Akal Imitasi (AI) menjelma
menjadi “guru serba tahu” yang selalu siap dipanggil kapan saja. Tetapi,
seperti banyak hal dalam hidup ini, setiap kemudahan baru selalu menyimpan efek
samping. Di antaranya adalah muncul persoalan panjang khususnya dalam dunia pendidikan,
misalnya mengikis akal sehat, ketekunan, dan ketajaman berpikir.
Anak-anak sekarang, bahkan
mahasiswa, sering kali tidak lagi mencari literatur buku sebelum bertanya
apalagi menjawab. Mereka tidak lagi membaca teks, lebih suka memilih jalan
pintas, bertanya kepada AI. Dengan satu ketikan, sekali klik, keluarlah
jawaban. Selesai. Tidak ada lagi proses panjang dalam belajar, kita seperti
sedang menyaksikan sebuah era baru di mana pengetahuan kehilangan proses
kelahirannya. Kita tidak lagi belajar, kita hanya mengonsumsi barang jadi yang
sering kali susah dipertanggungjawabkan.
Masalahnya bukan pada kecanggihan
alatnya, tetapi pada cara kita menyerahkan sepenuhnya keinginan berpikir kepada
alat itu. Anak-anak menjadi malas membaca. Lembar-lembar buku yang dulu menjadi
jendela dunia kini seperti tumpukan kertas tua yang tinggal menunggu lapuk,
atau belum lapuk malah sudah dibuang. Mereka lebih suka menatap layar daripada
menatap paragraf-paragraf yang menantang pikiran. Mereka lebih suka hasil
instan yang tidak perlu diperjuangkan. Lebih celaka lagi, jawaban AI yang
mereka terima jarang atau hampir tidak pernah dikonfirmasi.
Padahal AI tidak punya perasaan,
tidak punya intuisi, dan tidak punya ruh pencarian. Ia hanya mesin yang
mengumpulkan data dari algoritma yang pernah ada. Ia tidak merasakan
kegelisahan intelektual seperti manusia. AI tidak bisa membedakan mana
kebenaran yang lahir dari renungan intlektual dan mana informasi yang hanya
sekadar informasi pengulangan semata.
Kita sesunggunya berhadapan dengan
bahaya baru, banyak jawaban AI tidak akurat, sumber-sumbernya sering kali
fiktif atau tidak terkonfirmasi. Tetapi sering kali penggunanya tidak menyadari.
Mereka tidak menelusuri siapa penulisnya, dari mana rujukannya, apa konteksnya,
dan bagaimana AI membangun sebuah kesimpulan. Inilah yang disebut kemalasan
kognitif yang menyebabkan manusia semakin malas berpikir.
Ini bukan sekadar malas membuka
buku, juga malas bertanya. Mahasiswa yang harusnya bertarung dengan gagasan
malah mengulang gagasan orang lain, yang sama sekali tanpa melalui proses
konfirmasi. Kampus seharusnya menjadi ruang di mana pikiran digembleng, bukan
dimanjakan. Tetapi kecenderungannya hari ini sangat mengkhawatirkan, mahasiswa
lebih percaya pada kecepatan jawaban daripada ketajaman gagasan.
Kemalasan kognitif ini akan membawa
akibat selanjutnya, gampang termakan berita bohong, gampang percaya hoaks, gampang
digiring dengan narasi palsu. Sebab memang tidak terlatih untuk mengkonfirmasi
kebenaran.
AI memang tidak bisa dihindari. Ia
telah menjadi bagian dari zaman. Mengutuknya adalah sebuah kenaifan sekaligus
menantang zaman. Yang perlu diperbaiki adalah cara kita memposisikan diri. AI
adalah alat bantu, bukan otoritas, sebagai pendukung, bukan pengganti akal
sehat.
Karena itu, yang harus ditanamkan
adalah keberanian untuk melakukan konfirmasi. Setiap jawaban yang datang dari
AI perlu diperiksa, dibaca ulang, dan diuji kebenarannya. Kita perlu
mengajarkan crosscheck sebagai budaya akademik. Selanjutnya, kita harus
menegaskan bahwa AI adalah sarana yang membantu, bukan yang mengambil alih. Ia
seperti kalkulator, memudahkan hitungan, tetapi tidak boleh membuat lupa bahwa
otak kita tetap harus bisa menghitung. AI tidak boleh membuat manusia tumpul
dalam menganalisis. Tidak boleh membuat pikiran menjadi lemah dan
ketergantungan.
