Akal Imitasi (AI) dan Kemalasan Kognitif

Refleksi Kehidupan
0



Perkembangan kecerdasan buatan hari ini telah berkembang sedemikian rupa dan sedang mencapai puncaknya. Ia membawa kemudahan, kecepatan, dan kepraktisan yang dulu hanya bisa kita bayangkan seperti yang ada di dalam film-film. Di dunia pendidikan, Akal Imitasi (AI) menjelma menjadi “guru serba tahu” yang selalu siap dipanggil kapan saja. Tetapi, seperti banyak hal dalam hidup ini, setiap kemudahan baru selalu menyimpan efek samping. Di antaranya adalah muncul persoalan panjang khususnya dalam dunia pendidikan, misalnya mengikis akal sehat, ketekunan, dan ketajaman berpikir.

 

Anak-anak sekarang, bahkan mahasiswa, sering kali tidak lagi mencari literatur buku sebelum bertanya apalagi menjawab. Mereka tidak lagi membaca teks, lebih suka memilih jalan pintas, bertanya kepada AI. Dengan satu ketikan, sekali klik, keluarlah jawaban. Selesai. Tidak ada lagi proses panjang dalam belajar, kita seperti sedang menyaksikan sebuah era baru di mana pengetahuan kehilangan proses kelahirannya. Kita tidak lagi belajar, kita hanya mengonsumsi barang jadi yang sering kali susah dipertanggungjawabkan.

 

Masalahnya bukan pada kecanggihan alatnya, tetapi pada cara kita menyerahkan sepenuhnya keinginan berpikir kepada alat itu. Anak-anak menjadi malas membaca. Lembar-lembar buku yang dulu menjadi jendela dunia kini seperti tumpukan kertas tua yang tinggal menunggu lapuk, atau belum lapuk malah sudah dibuang. Mereka lebih suka menatap layar daripada menatap paragraf-paragraf yang menantang pikiran. Mereka lebih suka hasil instan yang tidak perlu diperjuangkan. Lebih celaka lagi, jawaban AI yang mereka terima jarang atau hampir tidak pernah dikonfirmasi.

 

Padahal AI tidak punya perasaan, tidak punya intuisi, dan tidak punya ruh pencarian. Ia hanya mesin yang mengumpulkan data dari algoritma yang pernah ada. Ia tidak merasakan kegelisahan intelektual seperti manusia. AI tidak bisa membedakan mana kebenaran yang lahir dari renungan intlektual dan mana informasi yang hanya sekadar informasi pengulangan semata.

 

Kita sesunggunya berhadapan dengan bahaya baru, banyak jawaban AI tidak akurat, sumber-sumbernya sering kali fiktif atau tidak terkonfirmasi. Tetapi sering kali penggunanya tidak menyadari. Mereka tidak menelusuri siapa penulisnya, dari mana rujukannya, apa konteksnya, dan bagaimana AI membangun sebuah kesimpulan. Inilah yang disebut kemalasan kognitif yang menyebabkan manusia semakin malas berpikir.

 

Ini bukan sekadar malas membuka buku, juga malas bertanya. Mahasiswa yang harusnya bertarung dengan gagasan malah mengulang gagasan orang lain, yang sama sekali tanpa melalui proses konfirmasi. Kampus seharusnya menjadi ruang di mana pikiran digembleng, bukan dimanjakan. Tetapi kecenderungannya hari ini sangat mengkhawatirkan, mahasiswa lebih percaya pada kecepatan jawaban daripada ketajaman gagasan.

 

Kemalasan kognitif ini akan membawa akibat selanjutnya, gampang termakan berita bohong, gampang percaya hoaks, gampang digiring dengan narasi palsu. Sebab memang tidak terlatih untuk mengkonfirmasi kebenaran.

 

AI memang tidak bisa dihindari. Ia telah menjadi bagian dari zaman. Mengutuknya adalah sebuah kenaifan sekaligus menantang zaman. Yang perlu diperbaiki adalah cara kita memposisikan diri. AI adalah alat bantu, bukan otoritas, sebagai pendukung, bukan pengganti akal sehat.

 

Karena itu, yang harus ditanamkan adalah keberanian untuk melakukan konfirmasi. Setiap jawaban yang datang dari AI perlu diperiksa, dibaca ulang, dan diuji kebenarannya. Kita perlu mengajarkan crosscheck sebagai budaya akademik. Selanjutnya, kita harus menegaskan bahwa AI adalah sarana yang membantu, bukan yang mengambil alih. Ia seperti kalkulator, memudahkan hitungan, tetapi tidak boleh membuat lupa bahwa otak kita tetap harus bisa menghitung. AI tidak boleh membuat manusia tumpul dalam menganalisis. Tidak boleh membuat pikiran menjadi lemah dan ketergantungan.

 


Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)