Paradoks Pendidikan Islam

Refleksi Kehidupan
0



Pernah membaca buku Paradoks Indonesia dan Solusinya?, buku ini adalah salah satu karya penting Presiden Prabowo. Isinya padat dengan data, sesuai dengan fakta, dan sangat monohok. Buku tersebut menggambarkan kondisi Indonesia yang sangat anomali dan paradoks, negara yang sangat kaya sumber daya alamnya, tetapi masih banyak rakyat yang miskin, dan masih akan banyak lagi yang berpotensi menjadi miskin. Kesimpulannya, negara ini salah kelola. Paragraf-paragraf di bawah ini ingin mencoba melihat paradoks itu tapi spesifik dalam dunia pendidikan Islam.

 

Pendidikan sesungguhnya, adalah sebuah ikhtiar panjang untuk memanusiakan manusia, namun ia sering kali terjebak dalam paradoksnya sendiri. Di satu sisi, pendidikan mendambakan kecepatan dan efisiensi demi mengejar laju zaman. Namun di sisi lain, watak dan karakter manusia hanya bisa dibentuk melalui ketekunan dan kesabaran yang tentu akan melampaui hitungan jam, hari, bulan, bahkan tahun.

 

Kita sering terpukau pada kurikulum yang ringkas dan metode yang instan, seolah-olah kecerdasan bisa disuntikkan dalam waktu semalam. Padahal, pendidikan yang hanya mengejar hasil akhir tanpa melalui proses panjang, pada akhirnya hanya akan melahirkan fisik yang terampil namun kehilangan jiwa (ruh), sebuah ironi di mana “kepintaran” hanya sebatas casing dan sampul tampilan luar, tetapi tidak menyatu dalam diri pemiliknya.

 

Belakangan ini, kita menyaksikan sebuah kenyataan yang cukup paradoks: internalisasi nilai-nilai Islam pada lembaga pendidikan kita perlu ditinjau ulang. Betapapun harus diakui bahwa kemunculan berbagai teori dan metodologi baru, namun perkembangan tersebut seolah bertolak belakang dengan harapan umat terhadap praktik nilai ajaran Islam.

 

Ambil satu contoh misalnya pada metode belajar membaca Al-Qur’an. Dahulu kita mengenal Iqra’ sebagai pelopor metode membaca langsung tanpa mengeja, cepat dan praktis, Iqra’ menjadi ikon metode belajar Al-Qur’an praktis. Namun dalam dua dekade terakhir, banyak bermunculan metode yang menjanjikan lebih cepat lagi: Qiro’ati, Yanbu’a, Al-Bagdadi, Ummi, Wafa, Al-Barqy, dan sederet nama lainnya. Tak tanggung-tanggung, sebagian dari metode itu menawarkan masa belajar yang betul-betul singkat, bahkan ada yang berani menggaransi cukup delapan jam saja, bila menggunakan metode tersebut, anak akan mampu membaca Al-Qur’an.

 

Kehebatan metode-metode ini disambut antusias oleh lembaga pendidikan formal maupun nonformal. Hasilnya? Dari sisi efisiensi waktu, memang tampak berhasil. Anak-anak usia TK kini telah mampu mengeja ayat suci, bahkan lancar membacanya, bahkan beberapa di antaranya sanggup menghafal dua hingga tiga juz, bahkan lebih. Sebuah pencapaian yang luar biasa secara teknis. Namun, di balik kecepatan itu, muncul keanehan: budaya membaca Al-Qur’an secara rutin justru semakin layu. Anak-anak masa kini cenderung tak lagi menyentuh Al-Qur’an di luar jam sekolah. Waktu-waktu sakral seperti selepas Subuh dan Magrib justru sering kali terisi oleh hal-hal yang tak berkaitan dengan Al-Qur’an. Bahkan saat libur sekolah tiba, Al-Qur’an seolah turut “diliburkan” juga.

 

Di sinilah letak paradoksnya. Perkembangan teknologi dan metodologi yang kian pesat ternyata gagal menghasilkan kesan belajar yang membekas, sebuah kesan yang seharusnya menjadi budaya (culture) sampai ajal menjemput. Pendidikan kini lebih mirip dengan transaksi jangka pendek ketimbang internalisasi nilai jangka panjang.

 

Saya jadi teringat masa kecil saat mengaji di sebuah desa terpencil, minoritas muslim lagi. Guru mengaji kami hanya seorang, harus melayani puluhan anak sekampung dengan durasi yang sangat terbatas antara Magrib dan Isya. Karena keterbatasan itu, ada aturan yang dulu tak saya pahami, jika kita salah membaca hingga tiga kali, maka pelajaran dihentikan dan hanya boleh diulang keesokan harinya. Metode ini tentu memakan waktu yang sangat lama.

 

Namun, apa yang sebenarnya sedang ditanamkan? Guru kami sedang membangun budaya. Beliau seolah menegaskan bahwa antara Magrib dan Isya adalah waktunya bersama Al-Qur’an. Melalui proses yang panjang itu, internalisasi nilai terjadi secara alami. Saya ingat betul, dengan metode yang dianggap “lambat” itu, saya baru dibolehkan membaca Al-Qur’an di kelas 5 SD. Sebuah pencapaian yang sudah dianggap cepat di kampung kami saat itu. Jika hari ini, ada anak TK yang belum bisa membaca Al-Qur’an, mungkin sekolahnya akan ditinggalkan atau si anak akan dicap kurang pintar.

 

Proses pendidikan generasi terdahulu memang terkesan lamban secara teknis, namun mereka berhasil menanamkan karakter melalui internalisasi nilai yang mendalam. Hasilnya dapat kita lihat sekarang, jika waktu Magrib tiba, memori kolektif anak-anak zaman dulu akan menuntun langkah menuju masjid untuk mendaras Al-Qur’an, meski tidak di masjid mereka pasti membaca Al-Qur’an di rumah masing-masing. Ada kegelisahan dan perasaan bersalah yang terlintas di batin jika ritual ini terabaikan. Rasa bersalah inilah “barang mewah” yang saat ini mulai hilang.

 

Sudah pasti, hari ini mustahil bagi kita untuk sepenuhnya kembali pada metode kuno yang memakan waktu lama. Zaman telah berubah, dan orang pasti akan meninggalkan metode yang lambat. Namun, tugas berat sekaligus mulia bagi lembaga pendidikan Islam saat ini adalah menemukan formula di mana kecanggihan metode dan efisiensi waktu tidak mengorbankan internalisasi nilai yang menyatu dalam praktik pengamalan. Inilah inti persoalannya.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)