Di antara ciri masyarakat modern
adalah kecenderungan seseorang melakukan sesuatu berdasarkan hitung-hitungan
untung rugi. Dalam kajian filsafat, ini dikategorikan sebagai pragmatisme.
Apa-apa ditimbang, dihitung, dikaji dulu: “Kalau tidak menguntungkan, buat apa
dikerjakan?” Sayangnya, cara pandang yang semestinya hanya berlaku untuk urusan
duniawi itu merambat sampai ke ranah ibadah, ranah yang seharusnya tidak
dipersonifikasi sebagai pasar tempat tawar-menawar pahala.
Namun, tidak bisa dielakkan bahwa
pragmatisme pada situasi tertentu memang ada manfaatnya. Kita pernah mengenal
teori belajar “AMBAK” (Apa Manfaatnya BagiKu), sebuah prinsip motivasi dalam Quantum
Learning yang menekankan bahwa seseorang akan belajar sungguh-sungguh bila
mengetahui manfaat personal dari apa yang dipelajari. Anak akan lebih serius,
lebih sadar, bahwa belajar adalah pintu untuk menatap masa depan yang lebih
baik, meski hasilnya tidak kontan. Ada jeda waktu sebelum buahnya muncul. Ada
proses panjang sebelum manfaatnya terasa.
Persoalannya sekarang adalah ketika
cara berpikir seperti ini dibawa mentah-mentah ke dalam ibadah. Ibadah tidak
bisa disederhanakan dalam hitung-hitungan matematis yang pasti dan kaku. Jika
seseorang punya seribu rupiah lalu ia sedekahkan setengahnya, secara matematika
jelas uangnya berkurang. Begitu juga ketika ia membantu orang lain: materi,
waktu, tenaga pasti berkurang. Itu logika manusia. Tapi hitungan Allah bukan
kalkulator yang baterainya bisa habis. Dalam konsep Islam, imbalan dari-Nya
bisa dua kali lipat, tujuh kali, sepuluh kali (Al-An’am/6:160), seratus kali (Al-Baqarah/2:261),
bahkan sampai tujuh ratus kali lipat (Al-Baqarah/2:261), dan itu pun masih
ditutup dengan frasa menggetarkan: wallahu yudla‘ifu limay yasya’, wallahu wasi‘un
‘alim (Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah
Mahaluas lagi Maha Mengetahui).
Pertanyaannya sederhana: adakah di
dunia ini investasi yang return-nya 700%? Tidak ada. Tapi mengapa masih
banyak hamba yang amatiran dalam beribadah, berkira pahala, dan berharap
balasan kontan? Kita perlu menata ulang paradigma keberagamaan umat ini, bahwa
ibadah bukan transaksi, melainkan penghambaan, bukan “uang kembali lima ratus”,
tapi perjalanan batin yang jauh lebih luas dari itu.
Berpikir pragmatis tentu sah,
manusiawi, dan tidak perlu dinafikan. Manusia pada dasarnya memang terdorong
melakukan sesuatu jika merasa ada keuntungan yang nyata. Tapi untuk urusan
ibadah, logika matematika manusia sering kali tidak sanggup menjangkaunya. Puasa,
misalnya. Secara kalkulasi, puasa itu “merugikan”: tidak makan, tidak minum,
menahan keinginan biologis, bahkan menurunkan ritme harian. Tapi Allah telah
memberikan satu jaminan yang tak tertandingi: As-shaumu li wa ana ajzi bih,
“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Coba renungkan,
adakah perusahaan, instansi, atau bos mana pun di muka bumi ini yang bisa
menggaji karyawannya sampai 700 kali lipat? Tentu tidak ada. Sementara Allah
menjanjikan balasan bahkan di luar batas imajinasi. Lalu, apa lagi yang membuat
kita ragu?
Penulis sendiri, sejak lama meyakini
dan memegang satu prinsip sederhana: “Bekerjalah melebihi dari yang kau
terima; bila tiba masanya engkau akan dibayar lebih dari yang kau kerjakan”.
Bahkan, terkadang engkau tidak melakukan banyak hal pun, Allah tetap membayarmu
melampaui orang-orang yang bekerja ekstra. Karena balasan-Nya tidak selalu
berupa materi atau angka yang bisa ditulis di slip gaji.
Bayaran, gaji atau upah tidak selalu
dalam bentuk materi. Engkau tak pernah sakit, temanmu adalah orang-orang baik
dan pilihan, lingkungan tempat tinggalmu aman, nyaman, tidak pernah konflik,
keluarga harmonis tak pernah cekcok. Ini semua adalah balasan yang tidak bisa
dibayar berapapun nilainya, balasan-balasan semacam ini jauh lebih bernilai
daripada apa pun yang kita hitung.
Karena itu, ibadah jangan
dipersempit sebagai kalkulasi pragmatis. Ia adalah petualangan batin,
perjalanan penghambaan, dan ruang dialog antara kita dengan Tuhan, yang
balasannya sering kali datang tanpa disangka-sangka, tanpa angka, tanpa
kuitansi, tapi dampaknya kita rasakan ada dan nyata.
