Sebagai salah satu cabang penting
dalam ilmu sejarah, filologi sejak lama dipahami sebagai disiplin ilmu yang
menelusuri jejak peradaban melalui naskah-naskah kuno. Filologi lebih sering
dikaitkan dengan manuskrip yang berusia berabad-abad lamanya, ditulis dalam
aksara daerah atau bahasa yang lebih tua. Padahal, hakikat filologi bukan
terletak pada sejauh apa naskah itu mundur ke masa lampau, tetapi pada
bagaimana naskah itu menjadi jembatan pengetahuan yang terserak dan perlu
dirangkai kembali. Di titik inilah, filologi sesungguhnya membuka ruang untuk
merambah pada arsip-arsip yang tidak terlalu tua (modern) yang juga memendam
nilai sejarah dan kekayaan intelektual luar biasa.
Indonesia pascakemerdekaan misalnya,
telah melahirkan ribuan halaman tulisan, artikel, kolom, esai, pidato, dan dokumen
keagamaan, yang jika dikaji dengan serius, dapat memperkaya pemahaman kita
tentang dinamika pemikiran dan perjalanan umat Islam di tanah air. Arsip-arsip
modern ini sering terabaikan karena dianggap “belum cukup tua” untuk dijadikan
objek filologi, padahal justru di sanalah denyut sejarah kontemporer bergerak.
Jika tidak segera diteliti dan dihimpun, ia pelan-pelan akan lenyap, terkikis
oleh pergantian generasi dan siklus hidup media cetak yang perlahan telah
beralih bentuk menjadi digital.
Salah satu media yang menyimpan
gudang pemikiran tersebut adalah Harian Waspada, surat kabar yang berdiri pada
1947, hanya dua tahun setelah Indonesia merdeka. Selama puluhan tahun, koran
ini menjadi wadah para ulama dan cendekiawan menumpahkan gagasan mereka. Berapa
banyak petuah, kritik sosial, fatwa moral, dan renungan keagamaan yang pernah
ditulis di sana? Jika semua itu dihimpun dan dibaca ulang, mungkin kita akan
menemukan peta baru perkembangan pemikiran Islam Indonesia, khususnya di
Sumatera Utara.
Hari ini, 4 Maret 2026, bertepatan
dengan ulang tahun Buya Dr. H. Maratua Simanjuntak, Ketua Umum MUI Sumatera
Utara dan Pembina Yayasan Al-Azhar Asy-Syarif Sumatera Utara, kita menemukan
kembali pentingnya kerja-kerja filologi kontemporer itu. Selama ini, Buya dikenal
sebagai penceramah ulung dan sekaligus tokoh moderat yang tegas dalam menjaga
akidah umat. Namun di balik reputasi itu, tidak banyak yang tahu bahwa beliau
pernah menjadi penulis tetap di Harian Waspada pada rentang 1980-1990 melalui
kolom-kolom seperti Mimbar Jumat, Konsultasi Agama Islam, dan Santap
Ramadhan. Tulisan-tulisan itu kini menjadi artefak pemikiran yang sangat
berharga, bukan hanya bagi Sumatera Utara, tetapi bagi sejarah intelektual
Islam Indonesia.
Namun demikian, sebagaimana banyak
ulama generasi terdahulu, Buya tidak memiliki arsip pribadi dari
tulisan-tulisannya. Kekuatan beliau sebagai pendakwah yang dekat dengan umat
rupanya tidak diimbangi dengan budaya pengarsipan yang baik. Ini adalah
fenomena yang memang hampir dirasakan oleh banyak penceramah kita, seseorang
bisa sangat kuat dalam satu bidang, namun lemah pada bidang lain. Idealnya
seorang penceramah ulung juga menjadi penulis yang rapi dalam mendokumentasikan
pikirannya, tetapi realitas sering menunjukkan bahwa kemampuan itu jarang bertemu
dalam satu sosok tertentu. Buya sebenarnya memiliki keduanya, ceramah dan sekaligus
tradisi tulis-menulis, hanya saja kelemahan sistem pengarsipan ketika itu
membuat karya-karyanya tercecer.
Momen ulang tahun beliau yang ke-78
akhirnya menjadi momentum. Bersama dengan tim, saya berinisiatif menghimpun
kembali tulisan-tulisan lama itu. Kami “membongkar gudang” Harian Waspada,
membuka lembar demi lembar edisi lama, mencermati setiap kolom untuk menemukan
jejak tulisan Buya. Banyak yang sudah menguning, sebagian robek, ada yang hampir
tak terbaca. Namun setiap tulisan yang diketemukan terasa seperti menemukan harta
karun atau serpihan sejarah yang sebelumnya terkubur. Padahal, ide untuk
menghimpun seluruh tulisan beliau sudah saya wacanakan sejak peluncuran buku
biografinya tiga tahun lalu, namun baru kali ini ide itu menemukan jalannya.
Bagaimanapun proses panjangnya, hari
ini kita bersyukur karena langkah kecil itu akhirnya dimulai. Pada hari
kelahiran Buya ini, izinkan saya menyampaikan doa, semoga Allah memanjangkan
usia dan menjadikan beliau tetap semangat sebagai penerang umat di Sumatera
Utara. Lebih dari itu, momentum ini seharusnya menjadi pengingat bahwa
pemikiran ulama tidak boleh dibiarkan hilang begitu saja. Menghimpunnya menjadi
sebuah buku, adalah bentuk penghargaan terhadap sosok ulama dan sekaligus
menghargai karya intlektual.
Di sinilah filologi kontemporer
menemukan urgensinya. Menghimpun, menelaah, dan menafsirkan ulang tulisan-tulisan
Buya Maratua tidak hanya sekadar untuk mengenang seorang tokoh, tetapi bagian
dari upaya besar merawat rekaman pengetahuan. Filologi kontemporer harus hadir
untuk menolong kita membaca kembali teks-teks yang lebih modern, kolom di koran,
makalah, naskah ceramah, esai keagamaan, dan setiap karya tulis yang lahirnya
belakangan. Semua itu adalah manuskrip modern yang suatu hari akan menjadi petunjuk
bagi generasi mendatang dalam memahami arah perkembangan pemikiran Islam.
Risiko hilangnya naskah-naskah
modern justru lebih besar daripada naskah klasik. Manuskrip kuno biasanya
disimpan dengan penuh kehati-hatian, dilestarikan di museum atau perpustakaan
besar, sedangkan arsip modern sering tertumpuk begitu saja di ruang
penyimpanan, dimakan usia dan dilupakan pembacanya. Padahal melalui teks-teks
itulah kita bisa melihat bagaimana ulama merespons perubahan zaman, menghadapi
tantangan sosial dan memberikan pedoman moral.
Dengan demikian, menghimpun tulisan
Buya Maratua adalah contoh nyata bagaimana gerakan filologi kontemporer harus
digalakkan. Naskah-naskah modern tidak kalah berharga dari manuskrip kuno,
bahkan dalam beberapa hal justru lebih penting, karena ia menjadi jembatan yang
menghubungkan kita dengan dinamika pemikiran lintas generasi yang masih segar.
Semoga langkah kecil ini menjadi
inspirasi agar kerja-kerja filologi modern semakin hidup, menghimpun,
menafsirkan, dan menerbitkan kembali naskah-naskah pemikiran ulama Indonesia
sebelum semuanya hilang ditelan zaman. Dan semoga ulang tahun Buya hari ini bukan
hanya perayaan atas panjangnya usia beliau, tetapi juga perayaan atas lahirnya
kembali warisan pemikiran yang selama ini parkir di lembaran koran tua, kini
kembali ke pangkuan umat yang membutuhkannya.

.jpeg)
