Filologi Kontemporer: Dekonstruksi Naskah Pemikiran Buya Dr. H. Maratua Simanjuntak

Refleksi Kehidupan
0

Peran ZIS dalam Mengentaskan Kaum Dhu'afa (Sabtu, 10 Januari 1998)


Sebagai salah satu cabang penting dalam ilmu sejarah, filologi sejak lama dipahami sebagai disiplin ilmu yang menelusuri jejak peradaban melalui naskah-naskah kuno. Filologi lebih sering dikaitkan dengan manuskrip yang berusia berabad-abad lamanya, ditulis dalam aksara daerah atau bahasa yang lebih tua. Padahal, hakikat filologi bukan terletak pada sejauh apa naskah itu mundur ke masa lampau, tetapi pada bagaimana naskah itu menjadi jembatan pengetahuan yang terserak dan perlu dirangkai kembali. Di titik inilah, filologi sesungguhnya membuka ruang untuk merambah pada arsip-arsip yang tidak terlalu tua (modern) yang juga memendam nilai sejarah dan kekayaan intelektual luar biasa.

 

Indonesia pascakemerdekaan misalnya, telah melahirkan ribuan halaman tulisan, artikel, kolom, esai, pidato, dan dokumen keagamaan, yang jika dikaji dengan serius, dapat memperkaya pemahaman kita tentang dinamika pemikiran dan perjalanan umat Islam di tanah air. Arsip-arsip modern ini sering terabaikan karena dianggap “belum cukup tua” untuk dijadikan objek filologi, padahal justru di sanalah denyut sejarah kontemporer bergerak. Jika tidak segera diteliti dan dihimpun, ia pelan-pelan akan lenyap, terkikis oleh pergantian generasi dan siklus hidup media cetak yang perlahan telah beralih bentuk menjadi digital.

 

Salah satu media yang menyimpan gudang pemikiran tersebut adalah Harian Waspada, surat kabar yang berdiri pada 1947, hanya dua tahun setelah Indonesia merdeka. Selama puluhan tahun, koran ini menjadi wadah para ulama dan cendekiawan menumpahkan gagasan mereka. Berapa banyak petuah, kritik sosial, fatwa moral, dan renungan keagamaan yang pernah ditulis di sana? Jika semua itu dihimpun dan dibaca ulang, mungkin kita akan menemukan peta baru perkembangan pemikiran Islam Indonesia, khususnya di Sumatera Utara.

 

Hari ini, 4 Maret 2026, bertepatan dengan ulang tahun Buya Dr. H. Maratua Simanjuntak, Ketua Umum MUI Sumatera Utara dan Pembina Yayasan Al-Azhar Asy-Syarif Sumatera Utara, kita menemukan kembali pentingnya kerja-kerja filologi kontemporer itu. Selama ini, Buya dikenal sebagai penceramah ulung dan sekaligus tokoh moderat yang tegas dalam menjaga akidah umat. Namun di balik reputasi itu, tidak banyak yang tahu bahwa beliau pernah menjadi penulis tetap di Harian Waspada pada rentang 1980-1990 melalui kolom-kolom seperti Mimbar Jumat, Konsultasi Agama Islam, dan Santap Ramadhan. Tulisan-tulisan itu kini menjadi artefak pemikiran yang sangat berharga, bukan hanya bagi Sumatera Utara, tetapi bagi sejarah intelektual Islam Indonesia.

 

Namun demikian, sebagaimana banyak ulama generasi terdahulu, Buya tidak memiliki arsip pribadi dari tulisan-tulisannya. Kekuatan beliau sebagai pendakwah yang dekat dengan umat rupanya tidak diimbangi dengan budaya pengarsipan yang baik. Ini adalah fenomena yang memang hampir dirasakan oleh banyak penceramah kita, seseorang bisa sangat kuat dalam satu bidang, namun lemah pada bidang lain. Idealnya seorang penceramah ulung juga menjadi penulis yang rapi dalam mendokumentasikan pikirannya, tetapi realitas sering menunjukkan bahwa kemampuan itu jarang bertemu dalam satu sosok tertentu. Buya sebenarnya memiliki keduanya, ceramah dan sekaligus tradisi tulis-menulis, hanya saja kelemahan sistem pengarsipan ketika itu membuat karya-karyanya tercecer.

 

Momen ulang tahun beliau yang ke-78 akhirnya menjadi momentum. Bersama dengan tim, saya berinisiatif menghimpun kembali tulisan-tulisan lama itu. Kami “membongkar gudang” Harian Waspada, membuka lembar demi lembar edisi lama, mencermati setiap kolom untuk menemukan jejak tulisan Buya. Banyak yang sudah menguning, sebagian robek, ada yang hampir tak terbaca. Namun setiap tulisan yang diketemukan terasa seperti menemukan harta karun atau serpihan sejarah yang sebelumnya terkubur. Padahal, ide untuk menghimpun seluruh tulisan beliau sudah saya wacanakan sejak peluncuran buku biografinya tiga tahun lalu, namun baru kali ini ide itu menemukan jalannya.

 

                       Membina Rumah Tangga Bahagia (Jumat, 19 Juni 1998)


Bagaimanapun proses panjangnya, hari ini kita bersyukur karena langkah kecil itu akhirnya dimulai. Pada hari kelahiran Buya ini, izinkan saya menyampaikan doa, semoga Allah memanjangkan usia dan menjadikan beliau tetap semangat sebagai penerang umat di Sumatera Utara. Lebih dari itu, momentum ini seharusnya menjadi pengingat bahwa pemikiran ulama tidak boleh dibiarkan hilang begitu saja. Menghimpunnya menjadi sebuah buku, adalah bentuk penghargaan terhadap sosok ulama dan sekaligus menghargai karya intlektual.

 

Di sinilah filologi kontemporer menemukan urgensinya. Menghimpun, menelaah, dan menafsirkan ulang tulisan-tulisan Buya Maratua tidak hanya sekadar untuk mengenang seorang tokoh, tetapi bagian dari upaya besar merawat rekaman pengetahuan. Filologi kontemporer harus hadir untuk menolong kita membaca kembali teks-teks yang lebih modern, kolom di koran, makalah, naskah ceramah, esai keagamaan, dan setiap karya tulis yang lahirnya belakangan. Semua itu adalah manuskrip modern yang suatu hari akan menjadi petunjuk bagi generasi mendatang dalam memahami arah perkembangan pemikiran Islam.

 

Risiko hilangnya naskah-naskah modern justru lebih besar daripada naskah klasik. Manuskrip kuno biasanya disimpan dengan penuh kehati-hatian, dilestarikan di museum atau perpustakaan besar, sedangkan arsip modern sering tertumpuk begitu saja di ruang penyimpanan, dimakan usia dan dilupakan pembacanya. Padahal melalui teks-teks itulah kita bisa melihat bagaimana ulama merespons perubahan zaman, menghadapi tantangan sosial dan memberikan pedoman moral.

 

Dengan demikian, menghimpun tulisan Buya Maratua adalah contoh nyata bagaimana gerakan filologi kontemporer harus digalakkan. Naskah-naskah modern tidak kalah berharga dari manuskrip kuno, bahkan dalam beberapa hal justru lebih penting, karena ia menjadi jembatan yang menghubungkan kita dengan dinamika pemikiran lintas generasi yang masih segar.

 

Semoga langkah kecil ini menjadi inspirasi agar kerja-kerja filologi modern semakin hidup, menghimpun, menafsirkan, dan menerbitkan kembali naskah-naskah pemikiran ulama Indonesia sebelum semuanya hilang ditelan zaman. Dan semoga ulang tahun Buya hari ini bukan hanya perayaan atas panjangnya usia beliau, tetapi juga perayaan atas lahirnya kembali warisan pemikiran yang selama ini parkir di lembaran koran tua, kini kembali ke pangkuan umat yang membutuhkannya.


                           Tujuan Hukum Islam (Jumat, 26 Juni 1987)


 

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)