Dilema Atheisme Kontemporer

Refleksi Kehidupan
0

 



 

Kegelisahan para pakar spiritual belakangan ini semakin terasa. Di mana-mana manusia semakin jauh dari Tuhan, bahkan tak sedikit yang terang-terangan mengaku tak percaya, sebagaian kecil lainnya justru dengan sombongnya menantang Tuhan. Mengapa ini terjadi? Ada semacam perasaan sanggup mengarungi hidup tanpa perlu Tuhan. Zaman seolah berubah menjadi panggung kosong, suara-suara ketuhanan dipandang hanya sebatas masa lalu yang tidak relevan lagi.

 

Bukan hanya hari ini. Sejak lama anggapan semacam ini sudah digaungkan oleh Friedrich Nietzsche: “Tuhan sudah mati”. Kalimat ini bukan hanya provokasi filsafat, tetapi juga cermin dari keangkuhan dunia yang sedang menuju modernitas. Manusia telah merasa cukup dengan logika dan teknologi. Dunia yang tak lagi membutuhkan Tuhan karena manusia merasa dirinya sudah cukup. Kata Nietzsche ini adalah mantra yang terus digaungkan oleh generasi ateis kontemporer, sebagai keberanian atau sebagai kegagalan mereka memahami pergolakan batin mereka sendiri.

 

Di abad modern ini, ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjelma menjadi tuhan-tuhan baru. Kehadiran mereka begitu kuat sehingga banyak yang merasa bahwa “Tuhan” tidak lagi diperlukan sebagai tempat berlindung. Sebagian orang meyakini bahwa sains telah menemukan jawaban untuk hampir semua persoalan, dan sebagian lainnya hanya tinggal menunggu waktu. Pada saat yang sama, manusia pelan-pelan memposisikan Tuhan tidak lagi penting.

 

Masyarakat modern mengalami pergeseran cara pandang, semuanya harus konkret, nyata dan terukur. Jika Tuhan tidak bisa dipetakan, maka sebagian orang merasa Tuhan hanyalah produk imajinasi. Di sinilah modernitas melahirkan ketidakmampuan merasakan hal-hal ghaib dan supra rasional, manusia modern lebih percaya pada angka-angka statistik daripada metafisik.

 

Apalagi dengan perkembangan teknologi yang begitu canggih. Realitas virtual, kecerdasan buatan dan rekayasa genetika, membuat manusia merasa seolah dapat membuat batas antara manusia dan “tuhan kecil” yang mereka buat sendiri. Kecanggihan digital telah menciptakan ilusi bahwa manusia hampir bisa melakukan segalanya. Dengan demikian, pelan-pelan rasa hormat terhadap hal-hal abstrak mulai terabaikan. Malaikat, alam akhirat, sampai pada surga dan neraka dianggap terlalu kabur untuk bisa diyakini. Padahal, semakin kita merasa canggih, justru semakin rapuh sisi kemanusiaan kita. Atheisme kontemporer pada dasarnya bukan muncul karena ilmu pengetahuan menemukan bukti bahwa Tuhan tidak ada, tetapi lebih karena manusia kehilangan kepekaan terhadap kebutuhan batinnya.

 

Namun, yang paling ironi justru dalam temuan-temuan ilmiah paling mutakhir, banyak pakar yang sebelumnya skeptis, bahkan anti Tuhan, mulai sadar. Mereka tidak lagi bisa menutup mata dari fakta bahwa alam semesta ini terlalu rapi, terlalu teratur untuk disebut sebagai kebetulan. Banyak ilmuwan kontemporer mulai mengakui bahwa alam semesta menunjukkan tanda-tanda keteraturan yang hampir mustahil terjadi tanpa didesain oleh yang Maha Cerdas.

 

Islam sebagai agama yang shalihun li kulli zaman wa makan, sangat selaras dengan bukti ilmiah, tidak pernah takut diuji oleh sains, bahkan sering kali mendahului penemuan sains. Al-Qur’an tidak meminta manusia mematikan akalnya, tetapi justru menantangnya untuk berpikir, meneliti, dan menggunakan logikanya sedalam mungkin. Karena semakin dalam manusia menggali, semakin ia menemukan jejak Tuhan yang sesungguhnya ada di mana-mana.

 

Pada akhirnya, semakin pintar seseorang, seharusnya semakin ia menyadari betapa kecilnya dirinya di hadapan Tuhan. Semakin berilmu, semakin ia memahami bahwa sains bukan pengganti Tuhan, melainkan jembatan menuju-Nya. Dilema atheisme kontemporer justru menunjukkan bahwa manusia modern belum benar-benar modern cara berpikirnya. Sebab, ketika seseorang mengenali hakikat dirinya yang sangat lemah, ia tak mungkin hidup tanpa sandaran spiritual. Dan pada titik akhir paling ujung dalam hidup ini, semua manusia akan kembali kepada Tuhan, bukan malah menjauh dari-Nya.

 

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)