Kegelisahan para pakar spiritual
belakangan ini semakin terasa. Di mana-mana manusia semakin jauh dari Tuhan,
bahkan tak sedikit yang terang-terangan mengaku tak percaya, sebagaian kecil
lainnya justru dengan sombongnya menantang Tuhan. Mengapa ini terjadi? Ada semacam
perasaan sanggup mengarungi hidup tanpa perlu Tuhan. Zaman seolah berubah menjadi
panggung kosong, suara-suara ketuhanan dipandang hanya sebatas masa lalu yang
tidak relevan lagi.
Bukan hanya hari ini. Sejak lama
anggapan semacam ini sudah digaungkan oleh Friedrich Nietzsche: “Tuhan sudah
mati”. Kalimat ini bukan hanya provokasi filsafat, tetapi juga cermin dari
keangkuhan dunia yang sedang menuju modernitas. Manusia telah merasa cukup
dengan logika dan teknologi. Dunia yang tak lagi membutuhkan Tuhan karena
manusia merasa dirinya sudah cukup. Kata Nietzsche ini adalah mantra yang terus
digaungkan oleh generasi ateis kontemporer, sebagai keberanian atau sebagai
kegagalan mereka memahami pergolakan batin mereka sendiri.
Di abad modern ini, ilmu pengetahuan
dan teknologi telah menjelma menjadi tuhan-tuhan baru. Kehadiran mereka begitu
kuat sehingga banyak yang merasa bahwa “Tuhan” tidak lagi diperlukan sebagai
tempat berlindung. Sebagian orang meyakini bahwa sains telah menemukan jawaban
untuk hampir semua persoalan, dan sebagian lainnya hanya tinggal menunggu
waktu. Pada saat yang sama, manusia pelan-pelan memposisikan Tuhan tidak lagi
penting.
Masyarakat modern mengalami
pergeseran cara pandang, semuanya harus konkret, nyata dan terukur. Jika Tuhan
tidak bisa dipetakan, maka sebagian orang merasa Tuhan hanyalah produk
imajinasi. Di sinilah modernitas melahirkan ketidakmampuan merasakan hal-hal ghaib
dan supra rasional, manusia modern lebih percaya pada angka-angka statistik
daripada metafisik.
Apalagi dengan perkembangan
teknologi yang begitu canggih. Realitas virtual, kecerdasan buatan dan rekayasa
genetika, membuat manusia merasa seolah dapat membuat batas antara manusia dan
“tuhan kecil” yang mereka buat sendiri. Kecanggihan digital telah menciptakan
ilusi bahwa manusia hampir bisa melakukan segalanya. Dengan demikian, pelan-pelan
rasa hormat terhadap hal-hal abstrak mulai terabaikan. Malaikat, alam akhirat,
sampai pada surga dan neraka dianggap terlalu kabur untuk bisa diyakini. Padahal,
semakin kita merasa canggih, justru semakin rapuh sisi kemanusiaan kita.
Atheisme kontemporer pada dasarnya bukan muncul karena ilmu pengetahuan
menemukan bukti bahwa Tuhan tidak ada, tetapi lebih karena manusia kehilangan kepekaan
terhadap kebutuhan batinnya.
Namun, yang paling ironi justru
dalam temuan-temuan ilmiah paling mutakhir, banyak pakar yang sebelumnya skeptis,
bahkan anti Tuhan, mulai sadar. Mereka tidak lagi bisa menutup mata dari fakta
bahwa alam semesta ini terlalu rapi, terlalu teratur untuk disebut sebagai
kebetulan. Banyak ilmuwan kontemporer mulai mengakui bahwa alam semesta
menunjukkan tanda-tanda keteraturan yang hampir mustahil terjadi tanpa didesain
oleh yang Maha Cerdas.
Islam sebagai agama yang shalihun
li kulli zaman wa makan, sangat selaras dengan bukti ilmiah, tidak pernah
takut diuji oleh sains, bahkan sering kali mendahului penemuan sains. Al-Qur’an
tidak meminta manusia mematikan akalnya, tetapi justru menantangnya untuk
berpikir, meneliti, dan menggunakan logikanya sedalam mungkin. Karena semakin
dalam manusia menggali, semakin ia menemukan jejak Tuhan yang sesungguhnya ada
di mana-mana.
Pada akhirnya, semakin pintar
seseorang, seharusnya semakin ia menyadari betapa kecilnya dirinya di hadapan
Tuhan. Semakin berilmu, semakin ia memahami bahwa sains bukan pengganti Tuhan,
melainkan jembatan menuju-Nya. Dilema atheisme kontemporer justru menunjukkan
bahwa manusia modern belum benar-benar modern cara berpikirnya. Sebab, ketika
seseorang mengenali hakikat dirinya yang sangat lemah, ia tak mungkin hidup
tanpa sandaran spiritual. Dan pada titik akhir paling ujung dalam hidup ini, semua
manusia akan kembali kepada Tuhan, bukan malah menjauh dari-Nya.
