Barokah: Wasilah Pendidikan Islam

Refleksi Kehidupan
0

 


 

Terlepas dari banyaknya persoalan yang sedang dihadapi pendidikan Islam, ada satu hal yang pasti, dan sejak lama telah nyata dirasakan oleh orang-orang yang berkiprah di lembaga pendidikan Islam, apa itu? Keberkahan. Di tengah gempuran isu kapitalisme lembaga pendidikan Islam yang kini ramai diberitakan, tidak bisa dipungkiri banyak contoh yang nyata-nyata telah memperoleh keberkahan dari ladang pengabdiannya berkhidmat di dunia pendidikan Islam.

 

Dalam terminologi Islam, barokah dimaknai dengan bertambahnya kebaikan sebab bertambahnya nikmat yang diperoleh (ziyadah al-khair). Artinya, nikmat sekecil apa pun yang diperoleh, ia membawa kepada jalan kebaikan yang terus bertambah. Keberkahan ini bekerja dengan cara yang unik, sering kali melampaui logika manusia. Misalnya, gaji yang diperoleh dikatakan barokah jika ia cukup dan masih ada lebihnya untuk dibagi kepada orang lain yang membutuhkan. Ini mungkin hitung-hitungan kuantitatif yang masih kasat mata.

 

Namun, keberkahan sesungguhnya lebih sering bermain di wilayah kualitatif, gaji yang didapat itu mendatangkan rasa syukur, kedamaian, kesehatan, dan keharmonisan. Ini memang sering kali tidak tampak jelas, tapi ini adalah “barang mahal” yang lebih berharga dari apa yang bisa dihitung. Ketenangan batin, penghargaan, hingga perasaan cukup yang menenekan sifat rakus adalah bentuk-bentuk ziyadah al-khair yang tidak bisa dibeli dengan nominal rupiah.

 

Penulis sering bertanya kepada banyak praktisi pendidikan Islam, mulai dari posisi yang paling tinggi, sampai pada pegawai biasa. Dari hasil survey sederhana itu, diperoleh kesimpulan yang menarik, gaji tidak selalu menjadi faktor utama yang mengikat mereka dalam pengabdian. Ada sesuatu yang lebih yang membuat mereka bertahan.

 

Banyak praktisi yang merasa lebih nyaman setelah berkhidmat di lembaga pendidikan Islam. Ada cerita yang sangat menyentuh tentang seorang guru yang mengatakan bahwa dulu anaknya sering sakit-sakitan, menghabiskan banyak biaya. Tetapi, setelah pindah dan mengabdi di lembaga pendidikan Islam, anaknya menjadi lebih sehat. Secara medis mungkin ada penjelasan ilmiahnya, namun secara spiritual, itulah yang disebut sebagai wasilah keberkahan.

 

Ada pula yang justru mendapat double barokah. Selain kesejahteraan dari gaji, ia juga mendapat jodoh di tempat kerjanya. Lingkungan yang terjaga secara moral dan spiritual mempermudah jalan bagi mereka untuk membangun keluarga yang sakinah. Lebih dari itu, banyak yang kemudian menjadi dikenal luas oleh masyarakat, dihormati karena keilmuannya, dan perlahan status sosialnya beralih menjadi kelompok elit menengah ke atas melalui jalan-jalan yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.

 

Keberkahan yang dimaksud bukan berarti memuja kekurangan atau menormalisasi gaji kecil. Justru sebaliknya, keberkahan adalah energi yang menggerakkan peningkatan kualitas hidup. Ketika seseorang berkhidmat dengan tulus pada pendidikan Islam, ia sedang mengetuk pintu langit. Dan ketika pintu itu terbuka, bantuan Allah datang melalui berbagai pintu yang membawa peluang atau jalan ekonomi baru.

 

Ini semua merupakan barokah dari lembaga pendidikan Islam yang hanya dapat dirasakan bagi mereka yang sadar dan mau bersyukur. Kesadaran ini penting, karena tanpa rasa syukur, seseorang hanya akan fokus pada beban kerja dan nominal gaji.

 

Fenomena keberkahan ini sejatinya merupakan kontra narasi yang kuat terhadap tuduhan kapitalisme lembaga pendidikan Islam. Jika kapitalisme murni hanya mengenal hukum untung-rugi secara materi, maka pendidikan Islam memiliki sistem ekonomi langit yang berbasis pada keberkahan.

 

Tuduhan bahwa lembaga pendidikan Islam saat ini terjebak dalam kapitalisme mungkin ada benarnya pada tataran kulit luar atau praktik beberapa oknum. Pada saat yang sama, kita tidak boleh juga menutup mata bahwa masih banyak lembaga pendidikan Islam tetap berdiri di atas idealisme yang kokoh. Jika benar, lembaga-lembaga ini hanya digerakkan oleh kapitalisme, maka mereka akan runtuh saat menghadapi krisis. Nyatanya, lembaga pendidikan Islam sering kali mampu bertahan melampaui logika pasar dan pengabdian yang tak terukur dengan uang.

 

Keberkahan adalah bukti bahwa pendidikan Islam tidak bisa disamakan dengan industri perusahaan. Di dalam pendidikan Islam, ada pertukaran nilai yang lebih tinggi dari sekadar biaya SPP dan gaji pegawai. Ada pertukaran doa, transfer ilmu yang ikhlas, dan upaya memuliakan wahyu Tuhan. Inilah yang menjaga marwah pendidikan Islam agar tidak sepenuhnya tenggelam dalam arus kapitalisme.

 

Logika kapitalisme mungkin bisa membangun gedung sekolah yang megah, namun ia tidak bisa menjamin lahirnya ketenangan di hati para pengajarnya. Oleh karena itu, bagi para praktisi pendidikan Islam, jangan berkecil hati dengan isu kapitalisme yang berkembang. Selama niat pengabdian tetap terjaga, maka wasilah pendidikan Islam akan terus menjadi lautan keberkahan yang tak akan pernah habis.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)