Terlepas dari banyaknya persoalan yang sedang dihadapi pendidikan
Islam, ada satu hal yang pasti, dan sejak lama telah nyata dirasakan oleh
orang-orang yang berkiprah di lembaga pendidikan Islam, apa itu? Keberkahan. Di
tengah gempuran isu kapitalisme lembaga pendidikan Islam yang kini ramai
diberitakan, tidak bisa dipungkiri banyak contoh yang nyata-nyata telah
memperoleh keberkahan dari ladang pengabdiannya berkhidmat di dunia pendidikan
Islam.
Dalam terminologi Islam, barokah dimaknai dengan
bertambahnya kebaikan sebab bertambahnya nikmat yang diperoleh (ziyadah
al-khair). Artinya, nikmat sekecil apa pun yang diperoleh, ia membawa
kepada jalan kebaikan yang terus bertambah. Keberkahan ini bekerja dengan cara
yang unik, sering kali melampaui logika manusia. Misalnya, gaji yang diperoleh
dikatakan barokah jika ia cukup dan masih ada lebihnya untuk dibagi
kepada orang lain yang membutuhkan. Ini mungkin hitung-hitungan kuantitatif
yang masih kasat mata.
Namun, keberkahan sesungguhnya lebih sering bermain di wilayah kualitatif,
gaji yang didapat itu mendatangkan rasa syukur, kedamaian, kesehatan, dan
keharmonisan. Ini memang sering kali tidak tampak jelas, tapi ini adalah “barang
mahal” yang lebih berharga dari apa yang bisa dihitung. Ketenangan batin, penghargaan,
hingga perasaan cukup yang menenekan sifat rakus adalah bentuk-bentuk ziyadah
al-khair yang tidak bisa dibeli dengan nominal rupiah.
Penulis sering bertanya kepada banyak praktisi pendidikan Islam,
mulai dari posisi yang paling tinggi, sampai pada pegawai biasa. Dari hasil
survey sederhana itu, diperoleh kesimpulan yang menarik, gaji tidak selalu
menjadi faktor utama yang mengikat mereka dalam pengabdian. Ada sesuatu yang
lebih yang membuat mereka bertahan.
Banyak praktisi yang merasa lebih nyaman setelah berkhidmat di
lembaga pendidikan Islam. Ada cerita yang sangat menyentuh tentang seorang guru
yang mengatakan bahwa dulu anaknya sering sakit-sakitan, menghabiskan banyak
biaya. Tetapi, setelah pindah dan mengabdi di lembaga pendidikan Islam, anaknya
menjadi lebih sehat. Secara medis mungkin ada penjelasan ilmiahnya, namun
secara spiritual, itulah yang disebut sebagai wasilah keberkahan.
Ada pula yang justru mendapat double barokah. Selain
kesejahteraan dari gaji, ia juga mendapat jodoh di tempat kerjanya. Lingkungan
yang terjaga secara moral dan spiritual mempermudah jalan bagi mereka untuk
membangun keluarga yang sakinah. Lebih dari itu, banyak yang kemudian
menjadi dikenal luas oleh masyarakat, dihormati karena keilmuannya, dan
perlahan status sosialnya beralih menjadi kelompok elit menengah ke atas
melalui jalan-jalan yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Keberkahan yang dimaksud bukan berarti memuja kekurangan atau
menormalisasi gaji kecil. Justru sebaliknya, keberkahan adalah energi yang
menggerakkan peningkatan kualitas hidup. Ketika seseorang berkhidmat dengan
tulus pada pendidikan Islam, ia sedang mengetuk pintu langit. Dan ketika pintu
itu terbuka, bantuan Allah datang melalui berbagai pintu yang membawa peluang atau
jalan ekonomi baru.
Ini semua merupakan barokah dari lembaga pendidikan Islam yang
hanya dapat dirasakan bagi mereka yang sadar dan mau bersyukur. Kesadaran ini
penting, karena tanpa rasa syukur, seseorang hanya akan fokus pada beban kerja
dan nominal gaji.
Fenomena keberkahan ini sejatinya merupakan kontra narasi yang kuat
terhadap tuduhan kapitalisme lembaga pendidikan Islam. Jika kapitalisme murni
hanya mengenal hukum untung-rugi secara materi, maka pendidikan Islam memiliki
sistem ekonomi langit yang berbasis pada keberkahan.
Tuduhan bahwa lembaga pendidikan Islam saat ini terjebak dalam
kapitalisme mungkin ada benarnya pada tataran kulit luar atau praktik beberapa
oknum. Pada saat yang sama, kita tidak boleh juga menutup mata bahwa masih
banyak lembaga pendidikan Islam tetap berdiri di atas idealisme yang kokoh.
Jika benar, lembaga-lembaga ini hanya digerakkan oleh kapitalisme, maka mereka
akan runtuh saat menghadapi krisis. Nyatanya, lembaga pendidikan Islam sering
kali mampu bertahan melampaui logika pasar dan pengabdian yang tak terukur
dengan uang.
Keberkahan adalah bukti bahwa pendidikan Islam tidak bisa disamakan
dengan industri perusahaan. Di dalam pendidikan Islam, ada pertukaran nilai
yang lebih tinggi dari sekadar biaya SPP dan gaji pegawai. Ada pertukaran doa,
transfer ilmu yang ikhlas, dan upaya memuliakan wahyu Tuhan. Inilah yang
menjaga marwah pendidikan Islam agar tidak sepenuhnya tenggelam dalam arus
kapitalisme.
Logika kapitalisme mungkin bisa membangun gedung sekolah yang
megah, namun ia tidak bisa menjamin lahirnya ketenangan di hati para
pengajarnya. Oleh karena itu, bagi para praktisi pendidikan Islam, jangan
berkecil hati dengan isu kapitalisme yang berkembang. Selama niat pengabdian
tetap terjaga, maka wasilah pendidikan Islam akan terus menjadi lautan
keberkahan yang tak akan pernah habis.
.jpg)