Kemunculan lembaga Tahfiz Al-Qur’an belakangan ini memang sedang
menemukan momentumnya. Ia tumbuh tidak hanya sebagai identitas baru lembaga
pendidikan Islam, tetapi juga merambah ke bentuk-bentuk yang lebih kecil dan
parsial seperti Rumah Tahfiz, Rumah Qur’an, yang kemudian dibuka di rumah-rumah yang didesain menjadi ruang belajar baru. Mengapa ini terjadi? Permintaan
masyarakat memang sedang meningkat. Di kota-kota besar, rumah kontrakan bisa berubah
menjadi lembaga Tahfiz Al-Qur'an dalam waktu singkat.
Jika dilihat sekilas, semangat ini tentu membawa dampak positif.
Ada semangat untuk kembali pada tradisi klasik umat ini, menjaga wahyu. Di masa
lalu memang semua elit pakar atau ilmuan muslim adalah para penghafal Al-Qur'an.
Artinya, mereka ulama, ilmuan, sekaligus hafal Al-Qur'an. Sebuah kombinasi yang
sangat ideal yang saat ini kelihatannya mulai sunyi. Maka kemunculan kembali
semangat menghafal Qur’an yang sebenarnya menyimpan harapan, mungkin inilah sarana
bangkitnya kembali tradisi ilmu yang menyatu antara akal dan wahyu.
Namun, di balik itu semua, kita tidak boleh menutup mata terhadap
beberapa masalah yang turut menyertainya. Banyak anak-anak yang sibuk berlomba
mengejar target hafalan, tetapi tidak diberi kesempatan memahami substansinya.
Kita tidak perlu jauh bicara tentang pengamalan, tahap awal yang paling penting
adalah mengerti makna ayat, memahami konteksnya, lalu membawa nilai-nilai itu
masuk ke dalam tindakan sehari-hari. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya.
Lidahnya mungkin fasih melantunkan irama bayyati dan nahawand,
tapi kering substansi. Ini tidak benar, dan ini adalah salah satu paradoks
lainnya dari pendidikan Islam yang dimaksud dalam judul tulisan ini.
Dahulu, orang tua menitipkan anak ke madrasah dan pesantren dengan
satu tujuan: bagaimana anak mereka paham benar-salah, tahu adab, dan tumbuh
menjadi manusia yang berkarakter. Namun kini, orientasi itu perlahan bergeser.
Tahfiz menjadi tujuan utama, kuantitas hafalan menjadi indikator prestasi, dan
label “30 juz” berubah menjadi kata kunci pemasaran lembaga pendidikan Islam.
Orang tua pun ramai-ramai memasukkan anaknya ke sekolah yang menawarkan hafalan
sebagai produk utama. Mengapa? Sebab hafalan itu bisa diukur, ada
angka-angkanya, ada sertifikatnya, ada momen wisudanya, ada foto-fotonya.
Sementara karakter? Siapa yang bisa mengukurnya? Siapa yang bisa memberikan
sertifikat akhlak mulia?.
Ironis, tetapi nyata, pendidikan Islam kita sedang mengalami “industrialisasi
kesalehan”. Nilai-nilai agama, ibadah, dan simbol-simbol kesalehan berubah
menjadi komoditas ekonomi. Kesalehan kini bisa dikemas, dipasarkan, dijual, dan
diviralkan. Spiritual tergeser oleh logika pasar, siapa yang bisa menyediakan hafalan
paling cepat, waktu paling praktis, dan program yang paling instan. Banyak
lembaga pendidikan mulai menukar orientasi ruhani dengan orientasi branding.
Kesalehan tidak lagi diperlakukan sebagai jalan panjang, tetapi sebagai produk
siap konsumsi.
Padahal, Islam adalah agama iqra’. Dan iqra’ bukan
hanya mengurai huruf atau mengeja lafaz, tetapi membaca realitas, membaca
zaman. Menghafal Al-Qur’an seharusnya menjadi pintu gerbang awal menuju tadabbur,
lalu bergerak pada tazakkur, dan akhirnya berujung pada amal. Namun
betapa sering lembaga pendidikan kita hanya masuk pada pintunya saja, tidak
pernah masuk ke ruang dalamnya. Yang dilahirkan lembaga pendidikan kita adalah
generasi yang fasih berbicara tentang langit, tetapi kakinya tidak menginjak
bumi.
Menghafal Al-Qur’an tentu perlu. Tetapi mengerti makna sama
pentingnya. Memahami pesan-pesannya jauh lebih penting agar ayat-ayat yang
dihafal tidak sekadar menjadi ingatan di kepala, melainkan menjadi arah kompas
dalam hidup. Pendidikan Islam semestinya tidak berhenti pada melatih daya
ingat, tetapi harus bergerak mengasah kecerdasan ruhani, membangun karakter,
menghidupkan kepekaan sosial, dan menata perilaku.
Jika tidak, kita akan terus berada dalam lingkaran paradoks:
lembaga pendidikan Islam semakin banyak, program tahfiz semakin menjamur, penghafalan
semakin mudah ditemui, tetapi nilai-nilai Qur’ani semakin jauh dari perilaku
dan cara hidup.
