Paradoks Pendidikan Islam (Bagian 4)

Refleksi Kehidupan
0

 


Teori paling klasik dalam pendidikan Islam menggambarkan bahwa tujuan tertinggi dari pendidikan Islam adalah mewujudkan insan kamil. Dulu pernah ada istilah “manusia seutuhnya”, agaknya istilah tersebut mengacu pada konsep insan kamil.

 

Dalam rangka mewujudkan insan kamil tersebut setidaknya ada dua goal yang harus diraih dari proses pendidikan: menjadi hamba Allah/Abdullah (QS. Az-Zariyat/51: 56) dan sekaligus menjadi khalifah (QS. Al-Baqarah/2: 30). Jadi, proses dan hasil dari pendidikan Islam yang ingin dihasilkan adalah bagaimana seseorang yang sedang dan akan memperoleh tarbiyah adalah menjadi hamba yang patuh (takwa) dan siap menjadi wakil Tuhan di muka bumi untuk memimpin, bukan mengekor.

 

Itu kondisi idealnya. Saat ini lembaga pendidikan Islam sedang terjebak dalam “Obesitas Kognitif”. Pendidikan Islam terperangkap dalam paradigma bahwa pintar adalah hafalan dan cerdas adalah kemampuan menjawab soal ujian. Di ruang kelas diajarkan bahwa hidup untuk liya’budun, tetapi di ruang guru, di atas kertas nilai ditulis berdasarkan hasil ujian.

 

Kita sedang mengalami paradoks yang lucu, kita menginginkan anak-anak seperti Ali bin Abi Thalib dan Al-Ghazali yang luas ilmu dan santun akhlaknya. Tetapi model evaluasi pendidikan kita memaksa mereka menjadi manusia robot.

 

pada saat yang sama, ada semacam kasta ilmu yang terjadi di lembaga pendidikan Islam, Matematika, Fisika, dan Kimia dipandang sebagai kasta tertinggi, sementara Sosial, Humaniora dan Agama dipandang sebagai strata yang lebih rendah. Mereka yang punya kemampuan dan keterampilan dalam bidang sosial keagamaan sering dipandang sebelah mata. Mereka dipandang tidak berprestasi karena kesantunan dan kesalehan tidak bisa dikonversi menjadi medali olimpiade yang bisa dibanggakan dan menjadi pajangan iklan.

 

Ini adalah bentuk pengkerdilan terhadap pendidikan Islam, kita lupa bahwa adab itu di atas ilmu. Seharusnya evaluasi pendidikan Islam dilakukan secara holistik. Dalam hal ini kurikulum tematik integratif (K.13) sebenarnya telah mengakomodir ranah afektif menjadi sikap sosial dan spiritual. Tapi apa hasilnya? Belum maksimal.

 

Dunia ini sebenarnya sudah penuh dengan orang pintar, sudah sesak dengan para pakar. Tapi belum seimbang dengan tujuan pendidikan Islam yang ingin menghasilkan insan kamil, yakni mereka yang menyeimbangkan zikir, pikir dan amal saleh.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)