Teori paling klasik dalam pendidikan Islam menggambarkan bahwa tujuan tertinggi dari pendidikan Islam adalah mewujudkan insan kamil. Dulu pernah ada istilah “manusia seutuhnya”, agaknya istilah tersebut mengacu pada konsep insan kamil.
Dalam rangka mewujudkan insan kamil
tersebut setidaknya ada dua goal yang harus diraih dari proses
pendidikan: menjadi hamba Allah/Abdullah (QS. Az-Zariyat/51: 56) dan sekaligus
menjadi khalifah (QS. Al-Baqarah/2: 30). Jadi, proses dan hasil dari pendidikan
Islam yang ingin dihasilkan adalah bagaimana seseorang yang sedang dan akan
memperoleh tarbiyah adalah menjadi hamba yang patuh (takwa) dan siap
menjadi wakil Tuhan di muka bumi untuk memimpin, bukan mengekor.
Itu kondisi idealnya. Saat ini
lembaga pendidikan Islam sedang terjebak dalam “Obesitas Kognitif”. Pendidikan
Islam terperangkap dalam paradigma bahwa pintar adalah hafalan dan cerdas
adalah kemampuan menjawab soal ujian. Di ruang kelas diajarkan bahwa hidup untuk
liya’budun, tetapi di ruang guru, di atas kertas nilai ditulis
berdasarkan hasil ujian.
Kita sedang mengalami paradoks yang
lucu, kita menginginkan anak-anak seperti Ali bin Abi Thalib dan Al-Ghazali
yang luas ilmu dan santun akhlaknya. Tetapi model evaluasi pendidikan kita
memaksa mereka menjadi manusia robot.
pada saat yang sama, ada semacam
kasta ilmu yang terjadi di lembaga pendidikan Islam, Matematika, Fisika, dan
Kimia dipandang sebagai kasta tertinggi, sementara Sosial, Humaniora dan Agama
dipandang sebagai strata yang lebih rendah. Mereka yang punya kemampuan dan
keterampilan dalam bidang sosial keagamaan sering dipandang sebelah mata.
Mereka dipandang tidak berprestasi karena kesantunan dan kesalehan tidak bisa
dikonversi menjadi medali olimpiade yang bisa dibanggakan dan menjadi pajangan
iklan.
Ini adalah bentuk pengkerdilan
terhadap pendidikan Islam, kita lupa bahwa adab itu di atas ilmu. Seharusnya
evaluasi pendidikan Islam dilakukan secara holistik. Dalam hal ini kurikulum
tematik integratif (K.13) sebenarnya telah mengakomodir ranah afektif menjadi
sikap sosial dan spiritual. Tapi apa hasilnya? Belum maksimal.
Dunia ini sebenarnya sudah penuh
dengan orang pintar, sudah sesak dengan para pakar. Tapi belum seimbang dengan tujuan
pendidikan Islam yang ingin menghasilkan insan kamil, yakni mereka yang
menyeimbangkan zikir, pikir dan amal saleh.
