Tak
banyak yang tau kalau hari ini adalah Wolrd book day and copyright day (hari buku dan hari hak cipta
internasional). Buktinya hari ini tak seheboh dua hari yang lalu ketika hari
Kartini. Secara pribadi jujur saya katakan bahwa saya baru tahu kalau hari ini
hari buku dari TV tadi pagi sekitar pukul 06.00 Wib. Memang 3 hari
berturut-turut sejak 21 April sampai
hari ini adalah momen peringatan penting. (21, Hari Kartini, 22, hari Bumi, 23,
hari Buku). Betapun sesungguhnya esensi
dari sebuah peringatan itu lebih penting dari pada eforia perayaannya, tapi ini
dapat menjadi indikator bahwa minat membaca
kebanyakan orang belakangan ini
kelihatan semakin memprihatinkan.
Berkaca
dari historis, hari buku pertama kali di buat tanggal 23 April 1923 oleh
seorang penjual buku di Spanyol sebagai cara untuk menghormati penulis Miguel
de Carvantes yang meninggal dunia hari itu. Kemudian pada tahun 1995 UNESCO
menetapkan bahwa setiap tanggal 23 April diperingati hari buku dan hak cipta
Internasional. Demikian sejarah singkatnya.
Saya
tidak akan bercerita terlalu jauh, mengingat ini adalah hari buku, saya mencoba
melirik dan menata ulang buku yang ada di rak kamar, tadi pagi. Sudah lebih setengah hari ini saya lakukan.
Ternyata banyak buku yang hilang tak tau dimana rimbanya. Saya coba cek di
daftar buku yang dipinjam, hampir 50-an yang dipinjam sampai hari ini tak
kunjung dikembalikan. Memang kebiasaan ku, suka dan selalu mencatat hal-hal
penting. Terutama masalah buku yang dipinjam.
Nama dan alamat peminjam itu lengkap dicatatanku walau tak pernah
kutanya saat ia datang meminjam buku.
Dalam
salah satu seminar saya pernah mendengar ungkapan “jangan pernah meminjamkan buku
anda karena hampir pasti tidak dikembalikan”. Kalu teman anda ngotot, silahkan
fotokopi lalu minta pengganti ongkos fotokopi.
Pesan
ini sebenarnya telah lama saya dengar,
tetapi selalu terlupakan. Sebab yang meminjam itu adalah sahabat dekat dan
kenalan akrab. Pastilah susah untuk menolaknya. Belakangan, gara-gara ungkapan
ini saya terpaksa harus berbohong kepada siapa saja yang datang meminjam buku.
Prinsipnya sederhana saja, kalau orang terdekat saja sulit mengembalikan buku
yang telah dipinjam, konon lagi orang yang tidak terlalu dekat, atau orang lain
yang tidak begitu kenal.
Di
Indonesia soal amanah dan tanggung jawab memang sangat mudah diucapkan, tetapi
sulit ketika dilaksanakan. Hal ini bahkan diperparah ketika satatusnya meminjam
tapi merasa memiliki. Ya, dalam bahasa yang agak ekstrim, terlalu banyak di
negeri ini orang yang meminjam tetapi merasa memiliki.
Saya
tidak bermaksud menyinggung perasaan siapapun yang membaca tulisan ini, tetapi
ini hanya nasihat ulangan bagi saya dan kita semua, bahwa setiap baik buruk
perbuatan yang kita lakukan akan kembali kepada kita juga.
Soal
buku saya yang terlanjur dipinjam tetapi tidak ada harapan dikembalikan,
sebenarnya diam-diam sudah saya relakan.

Mudah2an besok datng semua...
BalasHapusHeheh, hanya sekedar nasihat ustadz agar lebih bertanggung jawab
HapusHeheh, hanya sekedar nasihat ustadz agar lebih bertanggung jawab
Hapus