PUBLIKASI ILMIAH

Refleksi Kehidupan
5




PUBLIKASI ILMIAH*
Oleh: Dedi Sahputra Napitupulu**


Selain membaca 300 halaman perhari, mahasiswa sebenarnya dituntut untuk melakukan penelitian ilmiah paling tidak dalam skala kecil (mini research) dan mempublishnya di jurnal Lokal, Nasional dan Internasional. Meneliti merupakan pekerjaan yang menyenangkan dan seharusnya akrab dikalangan para ilmuan khususnya bagi mahasiswa. Jika perpustakaan merupakan jantungnya Perguruan Tinggi maka Riset merupakan darahnya. Itulah mengapa muncul surat edaran dikti No. 152/E/T/2012 tentang wajib menulis dijurnal ilmiah, bagi yang akan lulus S1 harus membuat makalah di jurnal ilmiah, S2 wajib membuat publikasi ilmiah di Jurnal Nasional yang ter akreditasi. Sedangkan untuk lulus S3 harus membuat karya Ilmiah pada Jurnal Internasional.

Secara filosofi dan psikologi, orang yang hoby meneliti memiliki prinsip dan kepribadian yang lebi baik dari lainnya. Mengapa?. Meneliti akan menjadikan seseorang selektif terhadap berita/kabar  yang sedang beredar.  Orang yang suka melakukan penelitian tidak akan cepat termakan isu, atau tidak mudah terprovokasi oleh kabar burung. Jika ada suatu berita, maka bagi seorang peneliti sejati akan mengumpulkan data dan fakta terlebih dahulu baru mengambil kesimpulan untuk kemudian menentukan sikap.  Saya kira ini lah yang kurang dikembangkan oleh Perguruan Tinggi saat ini. akibatnya, banyak demo-demo yang tujuannya untuk kepentingan sepihak saja, disampaikan berbalut anarkis dengan menggunakan bahasa yang kurang santun dalam menyampaikan aspirasinya.

Menurut data SCImago Journal and Rank (SJR) dari 239 Negara Indonesia berada di posisi ke-61 dengan jumlah publikasi ilmiah 25.481. kalah jauh dari Negara tetangga  ASEAN seperti Malaysia yang menempati  urutan ke-37 dengan jumlah publikasi karya  ilmiah 125.084, Singapura yang berada di  peringkat ke-32 dengan jumlah publikasi  171.037, dan Thailand pada peringkat ke-43 dengan jumlah publikasi 95.690. Tiga Negara  paling produktif menerbitkan karya-karya  ilmiah, yaitu untuk peringat ke-1 diduduki  oleh Amerika Serikat dengan jumlah publikasi  karya ilmiah 7.846.972, peringkat ke-2  adalah Tiongkok (China) dengan jumlah  publikasi 3.129.719, dan peringkat ke-3 yakni Inggris dengan jumlah publikasi 2.141.375.

Gambaran tersebut secara tidak langsung menunjukkan seberapa maju suatu negara karena karya ilmiah berbanding lurus dengan penemuan, inovasi dan pembaruan dalam berbagai khazanah baik ilmu pengetahuan itu sendiri, keperluan industri informasi dan teknologi serta bahasa dan sosial budaya yang mendorong daya saing, kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa. Melimpahnya kekayaan alam suatu negara tiada artinya tanpa ada penelitian ilmiah untuk merekayasa dan menciptakan produk bernilai tambah. Faktor-faktor tersebut menciptakan  ketidak mandirian negara-negara yang kontribusi ilmuwannya rendah.

Sangat sulit untuk mengurai apa penyebab dari minimnya publikasi ilmiah di Indonesia. Kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang benar-benar ahli di bidang penelitian, Minimnya penghargaan bagi para peneliti yang mampu lolos ke jurnal Internasional, Dana riset yang mahal dan fasilitas yang belum memadai serta kemampuan berbahasa Inggris yang baik, ditambah lagi dengan perguruan tinggi yang lebih cenderung sekedar mengajar, ujian dan lulus (teaching university) tanpa mempertimbangkan output kualitas mahasiswa dan kualitas hasil karya ilmiah. Penelitian hanya menjadi syarat kelulusan ala kadarnya belum menjadi persyaratan yang serius. Saya kira sudah cukup menjadi faktor penyebabnya.

Jalan keluarnya adalah memulainya dengan menerapkan dan memaksimalkan output belajar yang sebenarnya sudah harus dimulai dari tingkat Sekolah Menengah Atas terlebih lagi bagi Perguruan Tinggi yaitu: setiap kali belajar harus menghasilkan mini research, critical book report, merekayasa ide dan goal yang paling penting adalah bagaimana menciptakan proses pembelajaran yang bernuansa kejujuran. Kemudian membuat resume menggunakan bahasa sendiri (esay) serta berusaha mempublikasikannya. Untuk tahap awal boleh saja di media yang sederhana seperti Koran, majalah kampus, atau blog pribadi.
Semoga



* Disampaikan Pada Diskusi Publikasi  Ilmiah HMJ PAI UIN Sumatera Utara Medan. Selasa, 15 Maret 2016
**  Pemateri adalah Mahasiswa Sem. VIII PAI-1

Posting Komentar

5Komentar

  1. Sungguh luar biasa sekali pola pikir pak dedi, senang rasanya apabila suatu hari bisa bertukar pikiran dengan pak dedi, sharing ilmu, dan juga berbagi pengalaman. Mantap pak dedi!

    BalasHapus
  2. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus
Posting Komentar