Diantara Amaliah Ramadan lainnya yang juga perlu dirutinkan adalah istighfar, zikir dan doa.
Istighfar artinya memohon ampun atas segala kesalahan dan kemungkinan
dosa yang terlanjur dilakukan. Imam Ghazali pernah berpesan: "La
shaghair ma'al istimrar wa la kabari ma'al istighfar" (tidak ada dosa
kecil kalau terus diulang-ulang [akhirnya jadi besar juga], dan tidak ada dosa
besar jika setiap hari digempur dengan istighfar).
Memang terasa ringan, mengucapkan: "Astaghfirullahal'azim",
tetapi manfaatnya luar biasa. Untuk pemula, perlu menyiapkan biji tasbih di
atas meja kerja, di ruang tamu, atau dimana tempat kita yang banyak
menghabiskan waktu, putar biji tasbih tersebut berulang-ulang. Tujuannya, jika
ini sudah menjadi kebiasaan, tanpa ada tasbihpun, hati tetap beristighfar.
Ada waktu spesifik untuk beristighfar yang dianjurkan Al-Qur'an, yakni pada
waktu sahur. "Wabil Ashari hum yastaghfirun" (dan mereka yang
memohonkan ampun pada waktu sahur) (QS. Az-Zariyat/51: 18). Jadi, setelah
tahajjud 2 rakaat sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, istighfar lah
setidaknya 3 kali, cukup.
Dosa-dosa kecil bisa dihapuskan melalu istighfar, tetapi untuk dosa
besar, terutama yang berhubungan dengan hak-hak sosial orang lain, haruslah kita
datang meminta maaf. Tidak cukup sampai di situ saja, apa yang menjadi haknya
dikembalikan utuh.
Selain menghapus dosa, manfaat lain dari istighfar adalah mampu meredam
amarah. Sering kali, banyak faktor yang membuat seseorang marah, agar luapan amarah
itu tidak tumpah membabi-buta, perlu mendinginkannya dengan istighfar. Jadi,
ketika akan marah, coba ucapkan dalam hati istigfar tiga kali.
Adapun zikir dan doa adalah rangkaian amalan yang tidak terpisahkan,
keduanya beriringan setelah salat wajib.
Satu fenomena yang mengherankan adalah, banyak jamaah ketika selesai
salam langsung keluar meninggalkan masjid. Soal alasan pasti ada saja, tapi
sebenarnya alasan kesibukan duniawi tidaklah benar sama sekali. Kadang, sehabis
salat sebagian besar mereka yang keluar itu masih membuka ponsel, ngobrol kesana
kemari dan lain sebagainya, yang sama sekali tidak mendatangkan pahala.
Bagi sebagian penganut paham yang tidak menghendaki zikir dan doa
berjamaah tidak menjadi masalah, silahkan kalau mau zikir dan doa secara
individu. Yang keliru adalah mereka yang langsung meninggalkan masjid tanpa
zikir dan doa. Setidaknya, kalaupun ada keperluan mendesak, cukup dengan
istighfar 3 kali, lalu silahkan kembali mengejar dunia yang tidak pernah
selesai ini.
Seyogyanya kita dapat bersabar menunggu sampai selesai mengucapkan
Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar, masing-masing 33 kali. Cara
mengucapkannya pun tidak sembarangan, harus keluar dari dalam hati, dihayati
sekaligus dinikmati. Bahkan, bagi pengamal ajaran sufi, biasanya tergabung
dalam Tariqat, ada maqam (tempat) tertentu dalam melafalkan
bacaan zikir tersebut. Tapi ini soal lain dan panjang penjelasan teknisnya. Yang
jelas, selama Ramadan ini dianjurkan untuk tidak melupakan zikir, setidaknya
habis salat lima waktu.
Setelah berzikir, disambung dengan doa. Doa merupakan harapan seorang
hamba kepada Allah Yang Maha Segalanya. Doa tidak hanya berisi harapan, tetapi
pada saat yang bersamaan, juga menunjukkan tanda kelemahan manusia di hadapan
Tuhan.
Sebuah adagium populer khas Medan menyatakan: "Usaha tanpa doa,
sombong. Doa tanpa usaha, pesong (bodoh)". Kehebatan manusia pasti
ada batasnya, sejauh mana usaha yang dilakukan, tentu ada penghalang di sana
sini. Karenanya, doa menjadi penguat, menjadi teman dalam menghalau halang
rintang.
Selain doa setelah salat, dianjurkan pula, khususnya selama Ramadan ini
banyak berdoa menjelang waktu berbuka. Karena itu, doa berbuka puasanya harus
dimodifikasi, harap ditambah, tambahkan sesuai dengan kebutuhan. Minta apa
saja, jangan berlebihan, mintalah yang wajar dan pantas kita dapatkan.
