Istighfar, Zikir dan Doa: Astacita Ramadan Bagian 4

Refleksi Kehidupan
0


Diantara Amaliah Ramadan lainnya yang juga perlu dirutinkan adalah istighfar, zikir dan doa.

 

Istighfar artinya memohon ampun atas segala kesalahan dan kemungkinan dosa yang terlanjur dilakukan. Imam Ghazali pernah berpesan: "La shaghair ma'al istimrar wa la kabari ma'al istighfar" (tidak ada dosa kecil kalau terus diulang-ulang [akhirnya jadi besar juga], dan tidak ada dosa besar jika setiap hari digempur dengan istighfar).

 

Memang terasa ringan, mengucapkan: "Astaghfirullahal'azim", tetapi manfaatnya luar biasa. Untuk pemula, perlu menyiapkan biji tasbih di atas meja kerja, di ruang tamu, atau dimana tempat kita yang banyak menghabiskan waktu, putar biji tasbih tersebut berulang-ulang. Tujuannya, jika ini sudah menjadi kebiasaan, tanpa ada tasbihpun, hati tetap beristighfar.

 

Ada waktu spesifik untuk beristighfar yang dianjurkan Al-Qur'an, yakni pada waktu sahur. "Wabil Ashari hum yastaghfirun" (dan mereka yang memohonkan ampun pada waktu sahur) (QS. Az-Zariyat/51: 18). Jadi, setelah tahajjud 2 rakaat sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, istighfar lah setidaknya 3 kali, cukup.

 

Dosa-dosa kecil bisa dihapuskan melalu istighfar, tetapi untuk dosa besar, terutama yang berhubungan dengan hak-hak sosial orang lain, haruslah kita datang meminta maaf. Tidak cukup sampai di situ saja, apa yang menjadi haknya dikembalikan utuh.

 

Selain menghapus dosa, manfaat lain dari istighfar adalah mampu meredam amarah. Sering kali, banyak faktor yang membuat seseorang marah, agar luapan amarah itu tidak tumpah membabi-buta, perlu mendinginkannya dengan istighfar. Jadi, ketika akan marah, coba ucapkan dalam hati istigfar tiga kali.

 

Adapun zikir dan doa adalah rangkaian amalan yang tidak terpisahkan, keduanya beriringan setelah salat wajib.

 

Satu fenomena yang mengherankan adalah, banyak jamaah ketika selesai salam langsung keluar meninggalkan masjid. Soal alasan pasti ada saja, tapi sebenarnya alasan kesibukan duniawi tidaklah benar sama sekali. Kadang, sehabis salat sebagian besar mereka yang keluar itu masih membuka ponsel, ngobrol kesana kemari dan lain sebagainya, yang sama sekali tidak mendatangkan pahala.

 

Bagi sebagian penganut paham yang tidak menghendaki zikir dan doa berjamaah tidak menjadi masalah, silahkan kalau mau zikir dan doa secara individu. Yang keliru adalah mereka yang langsung meninggalkan masjid tanpa zikir dan doa. Setidaknya, kalaupun ada keperluan mendesak, cukup dengan istighfar 3 kali, lalu silahkan kembali mengejar dunia yang tidak pernah selesai ini.

 

Seyogyanya kita dapat bersabar menunggu sampai selesai mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar, masing-masing 33 kali. Cara mengucapkannya pun tidak sembarangan, harus keluar dari dalam hati, dihayati sekaligus dinikmati. Bahkan, bagi pengamal ajaran sufi, biasanya tergabung dalam Tariqat, ada maqam (tempat) tertentu dalam melafalkan bacaan zikir tersebut. Tapi ini soal lain dan panjang penjelasan teknisnya. Yang jelas, selama Ramadan ini dianjurkan untuk tidak melupakan zikir, setidaknya habis salat lima waktu.

 

Setelah berzikir, disambung dengan doa. Doa merupakan harapan seorang hamba kepada Allah Yang Maha Segalanya. Doa tidak hanya berisi harapan, tetapi pada saat yang bersamaan, juga menunjukkan tanda kelemahan manusia di hadapan Tuhan.

 

Sebuah adagium populer khas Medan menyatakan: "Usaha tanpa doa, sombong. Doa tanpa usaha, pesong (bodoh)". Kehebatan manusia pasti ada batasnya, sejauh mana usaha yang dilakukan, tentu ada penghalang di sana sini. Karenanya, doa menjadi penguat, menjadi teman dalam menghalau halang rintang.

 

Selain doa setelah salat, dianjurkan pula, khususnya selama Ramadan ini banyak berdoa menjelang waktu berbuka. Karena itu, doa berbuka puasanya harus dimodifikasi, harap ditambah, tambahkan sesuai dengan kebutuhan. Minta apa saja, jangan berlebihan, mintalah yang wajar dan pantas kita dapatkan.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)