Salah satu penyakit manusia saat ini adalah kepingin terlihat sukses. Kepingin sukses berbeda dengan benar-benar sukses. Terlihat sukses berbeda dengan aslinya memang sukses. Mengapa hanya ingin terlihat seperti sukses? Jawabannya, karena memang belum pantas dan belum layak, hanya kepingin saja.
Sindrom agar
selalu mendapat validasi eksternal ini menjadi penyakit akut. Media sosial
dijadikan tempat menyombongkan diri (flexing), spil tipis-tipis.
Seolah-olah jika mendapat pujian dan pengakuan, selesai lah sudah permasalahan
hidup ini.
Perlukah
validasi eksternal? Kalau mengutip pendapat Abraham Maslow, jelas perlu. Karena
kebutuhan tertinggai manusia adalah aktualisasi diri. Jadi, puncak dari
kebutuhan manusia adalah menginginkan agar dirinya aktual dan eksistensinya
diakui.
Soalnya
adalah perlukah itu dipalsukan? Bagi yang kepingin ya silahkan saja. Tapi,
alangkah baiknya jika aktualisasi diri itu wajar, normal, dan apa adanya.
Maslow
berpendapat bahwa kebutuhan manusia itu bertingkat-tingkat. Di lapisan paling
bawah ada kebutuhan fisiologis, di atasnya adalah rasa aman, kemudian sosial, kasih
saying, penghargaan, dan yang paling tinggi adalah aktualisasi diri.
Pada level
yang paling dasar, manusia membutuhkan makan dan minum (fisiologis). Jadi,
orang yang belum selesai dengan kebutuhan ini, dia tidak perduli dengan rasa
aman. Orang berani mencuri, berani mengambil resiko diamuk masa, yang penting
perutnya terisi, kebutuhan dasarnya terpenuhi.
Demikian
pula, orang yang kebutuhan dasarnya belum cukup maka dia tidak akan peduli
dengan kegiatan-kegiatan sosial. Itulah mengapa arisan hanya dilakukan oleh
kelompok menengah ke atas. Mengapa? Karna biasanya orang yang belum selesai
dengan kebutuhan mendasar tidak terlalu memikirkan relasi sosial.
Di atasnya,
ada penghargaan. Bentuknya bisa berupa pencapaian, status, reputasi, dan
tanggung jawab. Biasanya orang yang telah dapat memenuhi kebutuhan mendasar,
nyaman secara ekonomi dan sosial, yang akan dikejar kemudian adalah
penghargaan. Dirinya ingin selalu dihargai dengan berbagai embel-embel apakah
gelar akademik (Profesor, Doktor), atau penyematan gelar spiritual (Tuan Guru,
Haji, Kiyai, Ustadz). Gelar-gelar mentereng ini harus disebut, tersemat di
depan nama formalnya. Kalau tidak disebut seperti ada yang kurang, bahkan
banyak juga yang marah kalau tidak disebut gelar-gelar itu. Khusus untuk gelar
spiritual lebih parah lagi, banyak yang berebut tanpa kompetensi yang jelas. Kebanyakan
malah hanya sekadar klaim saja.
Karena
tingginya penghargaan orang terhadap gelar tersebut, segala cara dilakukan
untuk mendapatkannya, beli ijazah, membayar calo, mengaku ustadz atau kiyai
sampai-sampai ada yang dengan sengaja menyuruh agar dirinya dipanggil dengan
gelar-gelar yang sebenarnya belum pantas disandang. Mengapa demikian? Karena
gelar itu penting, gelar itu dihargai dan merupakan kebutuhan manusia
Puncak dari
kebutuhan tertinggi manusia adalah aktualisasi diri. Dirinya ingin selalu
tampil, mencoba hal baru, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan lain
sebagainya. Itulah sebabnya, mengapa ada orang yang sudah terlanjur kaya raya,
tapi masih kepingin jadi Bupati atau Walikota. Yang mereka cari bukan lagi
uang, tapi aktualisasi diri.
Puasa tidak
butuh itu semua. Puasa tidak perlu validasi eksternal. "Asshaumu li wa
ana, Aziz bih". Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.
Puasa adalah ibadah yang sangat rahasia. Satu-satunya ibadah yang bebas dari unsur
riya adalah puasa. Apa yang mau ditunjukkan? Hanya antara hamba dan Tuhannya
yang tahu. Kalau salat masih memungkinkan ada unsur riya yang terselip, mulai
dari pakaian yang dikenakan sampai pada suara bacaan salat masih potensial
menimbulkan riya. Haji pun demikian, kepingin dipanggil pak haji atau kepingin
dilibatkan dalam acara ritual keagamaan. Apalagi zakat, infak dan sedekah. Masih
potensial pemberinya ingin disebut sebagai orang yang dermawan.
Sekali lagi,
ibadah puasa bebas dari itu semua. Dengan melaksanakan puasa, kita berharap
bahwa pelan-pelan bisa menghilangkan kepentingan kita terhadap validasi orang
lain. Apa perlunya?.
Bagi orang
yang berpuasa hanya perlu mendapat validasi dari Allah swt. Apakah puasa kita
benar-benar diterima? Atau kita hanya merasa diterima? Hilangkan motif validasi
eksternal itu, biarkan Allah yang memberikan tempat di level mana kita layak
berada.
