Puasa dan Validasi Eksternal

Refleksi Kehidupan
0


Salah satu penyakit manusia saat ini adalah kepingin terlihat sukses. Kepingin sukses berbeda dengan benar-benar sukses. Terlihat sukses berbeda dengan aslinya memang sukses. Mengapa hanya ingin terlihat seperti sukses? Jawabannya, karena memang belum pantas dan belum layak, hanya kepingin saja.

 

Sindrom agar selalu mendapat validasi eksternal ini menjadi penyakit akut. Media sosial dijadikan tempat menyombongkan diri (flexing), spil tipis-tipis. Seolah-olah jika mendapat pujian dan pengakuan, selesai lah sudah permasalahan hidup ini.

 

Perlukah validasi eksternal? Kalau mengutip pendapat Abraham Maslow, jelas perlu. Karena kebutuhan tertinggai manusia adalah aktualisasi diri. Jadi, puncak dari kebutuhan manusia adalah menginginkan agar dirinya aktual dan eksistensinya diakui.

 

Soalnya adalah perlukah itu dipalsukan? Bagi yang kepingin ya silahkan saja. Tapi, alangkah baiknya jika aktualisasi diri itu wajar, normal, dan apa adanya.

 

Maslow berpendapat bahwa kebutuhan manusia itu bertingkat-tingkat. Di lapisan paling bawah ada kebutuhan fisiologis, di atasnya adalah rasa aman, kemudian sosial, kasih saying, penghargaan, dan yang paling tinggi adalah aktualisasi diri.

 

Pada level yang paling dasar, manusia membutuhkan makan dan minum (fisiologis). Jadi, orang yang belum selesai dengan kebutuhan ini, dia tidak perduli dengan rasa aman. Orang berani mencuri, berani mengambil resiko diamuk masa, yang penting perutnya terisi, kebutuhan dasarnya terpenuhi.

 

Demikian pula, orang yang kebutuhan dasarnya belum cukup maka dia tidak akan peduli dengan kegiatan-kegiatan sosial. Itulah mengapa arisan hanya dilakukan oleh kelompok menengah ke atas. Mengapa? Karna biasanya orang yang belum selesai dengan kebutuhan mendasar tidak terlalu memikirkan relasi sosial.

 

Di atasnya, ada penghargaan. Bentuknya bisa berupa pencapaian, status, reputasi, dan tanggung jawab. Biasanya orang yang telah dapat memenuhi kebutuhan mendasar, nyaman secara ekonomi dan sosial, yang akan dikejar kemudian adalah penghargaan. Dirinya ingin selalu dihargai dengan berbagai embel-embel apakah gelar akademik (Profesor, Doktor), atau penyematan gelar spiritual (Tuan Guru, Haji, Kiyai, Ustadz). Gelar-gelar mentereng ini harus disebut, tersemat di depan nama formalnya. Kalau tidak disebut seperti ada yang kurang, bahkan banyak juga yang marah kalau tidak disebut gelar-gelar itu. Khusus untuk gelar spiritual lebih parah lagi, banyak yang berebut tanpa kompetensi yang jelas. Kebanyakan malah hanya sekadar klaim saja.

 

Karena tingginya penghargaan orang terhadap gelar tersebut, segala cara dilakukan untuk mendapatkannya, beli ijazah, membayar calo, mengaku ustadz atau kiyai sampai-sampai ada yang dengan sengaja menyuruh agar dirinya dipanggil dengan gelar-gelar yang sebenarnya belum pantas disandang. Mengapa demikian? Karena gelar itu penting, gelar itu dihargai dan merupakan kebutuhan manusia

 

Puncak dari kebutuhan tertinggi manusia adalah aktualisasi diri. Dirinya ingin selalu tampil, mencoba hal baru, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan lain sebagainya. Itulah sebabnya, mengapa ada orang yang sudah terlanjur kaya raya, tapi masih kepingin jadi Bupati atau Walikota. Yang mereka cari bukan lagi uang, tapi aktualisasi diri.

 

Puasa tidak butuh itu semua. Puasa tidak perlu validasi eksternal. "Asshaumu li wa ana, Aziz bih". Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah ibadah yang sangat rahasia. Satu-satunya ibadah yang bebas dari unsur riya adalah puasa. Apa yang mau ditunjukkan? Hanya antara hamba dan Tuhannya yang tahu. Kalau salat masih memungkinkan ada unsur riya yang terselip, mulai dari pakaian yang dikenakan sampai pada suara bacaan salat masih potensial menimbulkan riya. Haji pun demikian, kepingin dipanggil pak haji atau kepingin dilibatkan dalam acara ritual keagamaan. Apalagi zakat, infak dan sedekah. Masih potensial pemberinya ingin disebut sebagai orang yang dermawan.

 

Sekali lagi, ibadah puasa bebas dari itu semua. Dengan melaksanakan puasa, kita berharap bahwa pelan-pelan bisa menghilangkan kepentingan kita terhadap validasi orang lain. Apa perlunya?.

 

Bagi orang yang berpuasa hanya perlu mendapat validasi dari Allah swt. Apakah puasa kita benar-benar diterima? Atau kita hanya merasa diterima? Hilangkan motif validasi eksternal itu, biarkan Allah yang memberikan tempat di level mana kita layak berada.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)