PUBLIKASI ILMIAH*
Selain
membaca 300 halaman perhari, mahasiswa sebenarnya dituntut untuk melakukan
penelitian ilmiah paling tidak dalam skala kecil (mini research) dan mempublishnya
di jurnal Lokal, Nasional dan Internasional. Meneliti merupakan pekerjaan
yang menyenangkan dan seharusnya akrab dikalangan para ilmuan khususnya bagi
mahasiswa. Jika perpustakaan merupakan jantungnya Perguruan Tinggi maka Riset
merupakan darahnya. Itulah mengapa muncul surat edaran dikti No. 152/E/T/2012
tentang wajib menulis dijurnal ilmiah, bagi yang akan lulus S1 harus membuat
makalah di jurnal ilmiah, S2 wajib membuat publikasi ilmiah di Jurnal Nasional
yang ter akreditasi. Sedangkan untuk lulus S3 harus membuat karya Ilmiah pada Jurnal
Internasional.
Secara
filosofi dan psikologi, orang yang hoby meneliti memiliki prinsip dan
kepribadian yang lebi baik dari lainnya. Mengapa?. Meneliti akan menjadikan
seseorang selektif terhadap berita/kabar yang sedang beredar. Orang yang suka melakukan penelitian tidak
akan cepat termakan isu, atau tidak mudah terprovokasi oleh kabar burung. Jika
ada suatu berita, maka bagi seorang peneliti sejati akan mengumpulkan data dan
fakta terlebih dahulu baru mengambil kesimpulan untuk kemudian menentukan
sikap. Saya kira ini lah yang kurang
dikembangkan oleh Perguruan Tinggi saat ini. akibatnya, banyak demo-demo yang
tujuannya untuk kepentingan sepihak saja, disampaikan berbalut anarkis dengan
menggunakan bahasa yang kurang santun dalam menyampaikan aspirasinya.
Menurut
data SCImago Journal and Rank (SJR)
dari 239 Negara Indonesia berada di posisi ke-61 dengan jumlah publikasi ilmiah
25.481. kalah jauh dari Negara tetangga ASEAN seperti Malaysia yang
menempati urutan ke-37 dengan jumlah publikasi karya ilmiah
125.084, Singapura yang berada di peringkat ke-32 dengan jumlah
publikasi 171.037, dan Thailand pada peringkat ke-43 dengan jumlah
publikasi 95.690. Tiga Negara paling produktif menerbitkan
karya-karya ilmiah, yaitu untuk peringat ke-1 diduduki oleh Amerika
Serikat dengan jumlah publikasi karya ilmiah 7.846.972, peringkat
ke-2 adalah Tiongkok (China) dengan jumlah publikasi 3.129.719, dan
peringkat ke-3 yakni Inggris dengan jumlah publikasi 2.141.375.
Gambaran tersebut secara tidak
langsung menunjukkan seberapa maju suatu negara karena karya ilmiah berbanding
lurus dengan penemuan, inovasi dan pembaruan dalam berbagai khazanah baik ilmu
pengetahuan itu sendiri, keperluan industri informasi dan teknologi serta
bahasa dan sosial budaya yang mendorong daya saing, kemajuan dan kesejahteraan
suatu bangsa. Melimpahnya kekayaan alam suatu negara tiada artinya tanpa ada
penelitian ilmiah untuk merekayasa dan menciptakan produk bernilai tambah.
Faktor-faktor tersebut menciptakan
ketidak mandirian negara-negara yang kontribusi ilmuwannya rendah.
Sangat sulit untuk mengurai apa
penyebab dari minimnya publikasi ilmiah di Indonesia. Kurangnya sumber daya
manusia (SDM) yang benar-benar ahli di bidang penelitian, Minimnya penghargaan
bagi para peneliti yang mampu lolos ke jurnal Internasional, Dana riset yang
mahal dan fasilitas yang belum memadai serta kemampuan berbahasa Inggris yang
baik, ditambah lagi dengan perguruan tinggi yang lebih cenderung sekedar
mengajar, ujian dan lulus (teaching
university) tanpa mempertimbangkan output
kualitas mahasiswa dan kualitas hasil karya ilmiah. Penelitian hanya menjadi
syarat kelulusan ala kadarnya belum menjadi persyaratan yang serius. Saya kira
sudah cukup menjadi faktor penyebabnya.
Jalan keluarnya adalah memulainya
dengan menerapkan dan memaksimalkan output
belajar yang sebenarnya sudah harus dimulai dari tingkat Sekolah Menengah Atas
terlebih lagi bagi Perguruan Tinggi yaitu: setiap kali belajar harus
menghasilkan mini research, critical book report, merekayasa ide dan goal
yang paling penting adalah bagaimana menciptakan proses pembelajaran yang
bernuansa kejujuran. Kemudian membuat resume menggunakan bahasa sendiri (esay)
serta berusaha mempublikasikannya. Untuk tahap awal boleh saja di media yang
sederhana seperti Koran, majalah kampus, atau blog pribadi.
Semoga

Mantap pak Dedi
BalasHapusTrimakasih buk, hehe
BalasHapusTrimakasih buk, hehe
BalasHapusSungguh luar biasa sekali pola pikir pak dedi, senang rasanya apabila suatu hari bisa bertukar pikiran dengan pak dedi, sharing ilmu, dan juga berbagi pengalaman. Mantap pak dedi!
BalasHapusPerkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
BalasHapusJika ya, silahkan kunjungi website ini www.kbagi.com untuk info selengkapnya.
Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)