Mengawali tulisan ini
saya ikin sampaikan sebuah ayat Alquran:
“Dan sesungguhnya Kami
jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka
mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)
dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.
(QS Al-A’raaf:179).
Pada saat-saat tertentu memang manusia bisa lebih mulia dari
malaikat, pun pada suatu saat manusia bisa lebih hina dan kejam dari binatang.
Tergantung penggunaan akalnya. Sehingga manusia didefenisikan sebagai hewan
yang berfikir. (Al-Insaan huwa hayawanun
natiq). Manakala manusia tidak lagi berfikir maka dia sama seperti hewan.
Contoh yang paling sederhana, kalau musang mencuri ayam, maka
tidak pernah lebih dari satu. Tetapi ketika manusia mencuri ayam maka semua
ayam yang ada akan di angkut tak terkecuali dengan kandangnya semua disikat
habis. Bajing, (baca: Tupai) hanya mencuri dan memakan kelapa tak seberapa,
tapi bajingan (baca: kelakuan biadab manusia) sanggup membakar hutan ratusan
hektar, korupsi uang rakyat, menindas yang lemah dan lain sebagainya.
Sepanjang pengetahuan saya tidak pernah ada induk binatang yang
tega membunuh anaknya, tapi berapa banyak kita saksikan manusia yang membunuh
anaknya, bahkan ketika masih dalam kandungan jabang bayi itu sudah digugurkan.
Belakangan
ini kita dihebohkan dengan berbagai berita pemerkosaan tragis yang semakin hari
semakain jamak terdengar. Berbagai motif yang menjadi penyebabnya, apapun itu
yang jelas kondisi ini sungguh mengkhawatirkan kita. mulai dari kasus Yuyun di
Bengkulu yang diperkosa oleh 14 orang secara bergantian lalu korban dibunuh dan
dibuang kejurang, kasus cabul massal di Manado, kasus pemerkosaan Enno Fariha
di Tangerang oleh 3 orang yang berujung
pada pembunuhan sadis dengan cara memasukkan gagang cangkul kedalam kemaluan
korban, di Bogor ada orang yang memperkosa anak usia 2,5 tahun, dua hari yang
lalu ada seorang pengusaha keturunan Tionghoa yang berasal dari Kediri yang
memperkosa sebanyak 58 anak dibawah umur. Tentu ini hanya sebagian kecil dari
kasus yang terungkap dan di ekspos di mass media. Sebenarnya ada ribuan kasus
yang sama namun belum ketahuan.
Jadi
lebih sadis mana? Manusia atau hewan?.

Perlu dianalisis lebih dalam mengenai makna dari insanun hayawanun natiq sebagai manusia yang berpikir atau berbahasa. Sepngetahuan saya natiq dari kata nathoqo yang artinya berbicara. Hehe biar analisa lebih tajam pak ustadz
BalasHapusPerlu dianalisis lebih dalam mengenai makna dari insanun hayawanun natiq sebagai manusia yang berpikir atau berbahasa. Sepngetahuan saya natiq dari kata nathoqo yang artinya berbicara. Hehe biar analisa lebih tajam pak ustadz
BalasHapuskarena nafsunya lebih tinggi dari pada aqlnya. Dan hatinya kotor sehingga tak tahu mmbedkan baik dan buruk. Semangat saling mengingatkan
BalasHapusTerus terang, hati saya terasa sangat teriris melihat berita pembunuhan di media massa..lantas hukuman apa yg pantas diberikan kepada manusia biadab itu? Jgn sampai kasus kasus diatas terjadi kpd orng2 terdekat kita dan orng2 yg kita sayangi... Na'uzubillahimindzalik .
BalasHapus