Tipis: Manusia dan Hewan

Refleksi Kehidupan
4




Mengawali tulisan ini saya ikin sampaikan sebuah ayat Alquran:

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS Al-A’raaf:179).

Pada saat-saat tertentu memang manusia bisa lebih mulia dari malaikat, pun pada suatu saat manusia bisa lebih hina dan kejam dari binatang. Tergantung penggunaan akalnya. Sehingga manusia didefenisikan sebagai hewan yang berfikir. (Al-Insaan huwa hayawanun natiq). Manakala manusia tidak lagi berfikir maka dia sama seperti hewan.

Contoh yang paling sederhana, kalau musang mencuri ayam, maka tidak pernah lebih dari satu. Tetapi ketika manusia mencuri ayam maka semua ayam yang ada akan di angkut tak terkecuali dengan kandangnya semua disikat habis. Bajing, (baca: Tupai) hanya mencuri dan memakan kelapa tak seberapa, tapi bajingan (baca: kelakuan biadab manusia) sanggup membakar hutan ratusan hektar, korupsi uang rakyat, menindas yang lemah dan lain sebagainya.

Sepanjang pengetahuan saya tidak pernah ada induk binatang yang tega membunuh anaknya, tapi berapa banyak kita saksikan manusia yang membunuh anaknya, bahkan ketika masih dalam kandungan jabang bayi itu sudah digugurkan.

Belakangan ini kita dihebohkan dengan berbagai berita pemerkosaan tragis yang semakin hari semakain jamak terdengar. Berbagai motif yang menjadi penyebabnya, apapun itu yang jelas kondisi ini sungguh mengkhawatirkan kita. mulai dari kasus Yuyun di Bengkulu yang diperkosa oleh 14 orang secara bergantian lalu korban dibunuh dan dibuang kejurang, kasus cabul massal di Manado, kasus pemerkosaan Enno Fariha di Tangerang oleh 3 orang  yang berujung pada pembunuhan sadis dengan cara memasukkan gagang cangkul kedalam kemaluan korban, di Bogor ada orang yang memperkosa anak usia 2,5 tahun, dua hari yang lalu ada seorang pengusaha keturunan Tionghoa yang berasal dari Kediri yang memperkosa sebanyak 58 anak dibawah umur. Tentu ini hanya sebagian kecil dari kasus yang terungkap dan di ekspos di mass media. Sebenarnya ada ribuan kasus yang sama namun belum ketahuan.

Jadi lebih sadis mana? Manusia atau hewan?.

   


Posting Komentar

4Komentar

  1. Perlu dianalisis lebih dalam mengenai makna dari insanun hayawanun natiq sebagai manusia yang berpikir atau berbahasa. Sepngetahuan saya natiq dari kata nathoqo yang artinya berbicara. Hehe biar analisa lebih tajam pak ustadz

    BalasHapus
  2. Perlu dianalisis lebih dalam mengenai makna dari insanun hayawanun natiq sebagai manusia yang berpikir atau berbahasa. Sepngetahuan saya natiq dari kata nathoqo yang artinya berbicara. Hehe biar analisa lebih tajam pak ustadz

    BalasHapus
  3. karena nafsunya lebih tinggi dari pada aqlnya. Dan hatinya kotor sehingga tak tahu mmbedkan baik dan buruk. Semangat saling mengingatkan

    BalasHapus
  4. Terus terang, hati saya terasa sangat teriris melihat berita pembunuhan di media massa..lantas hukuman apa yg pantas diberikan kepada manusia biadab itu? Jgn sampai kasus kasus diatas terjadi kpd orng2 terdekat kita dan orng2 yg kita sayangi... Na'uzubillahimindzalik .

    BalasHapus
Posting Komentar