4 Level Kebahagiaan

Refleksi Kehidupan
0


Dalam sebuah seminar bertajuk "Spiritual Leadership" pada Minggu 16 Maret 2025 yang lalu, Prof. Komaruddin Hidayat tampil sebagai pembicara kunci bersama Prof. Azhari Akmal Tarigan. Acara yang diadakan oleh Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Ikafeb) USU ini diadakan di Gedung Menara Mandiri Jl. Pulau Piang, Kesawan Medan.

 

Satu hal yang menurut hemat penulis sangat menarik adalah ketika Prof. Komaruddin memaparkan jenis-jenis kebahagian manusia.

 

Pada tingkatan pertama, untuk bisa bahagia, manusia membutuhkan dan mencari apa yang disebut sebagai Fisical Happines atau kebahagiaan yang sifatnya fisik. Makan, minum, dan pemenuhan nafsu seksual adalah sedikit contoh yang diberikan dari kebahagiaan yang sifatnya fisik.

 

Manusia dalam hidupnya memang tidak terlepas dari kebahagiaan fisik tersebut. Dunia ini sesungguhnya sudah cukup meriah dengan kebutuhan fisik. Orang bekerja siang malam, banting tulang, supaya apa? Supaya bisa mendapatkan kebahagian fisik tadi, bahagia ketika bisa makan dan minum yang layak atau di tas itu, yang lezat.

 

Pada level kedua, orang sudah tidak terlalu bahagia lagi dengan kenikmatan yang sifatnya fisik, tetapi sudah naik kelas, mulai membutuhkan kebahagian yang bersifat seni atau berhubungan dengan estetika (Estetichal Happines). Bagi orang yang sudah cukup makan dan minum, kebahagiaannya bukan pada makanan atau minuman, tetapi pada sesuatu yang sifatnya keindahan. Itulah mengapa ada seniman yang tidak peduli dengan penampilan. Secara fisik mungkin kurang bersih atau kurang rapi menurut ukuran kebanyakan orang. Tapi, apakah ia peduli? Tidak. Dia rasa itu indah, dan dia sudah bahagia dengan tampilannya.

 

Pada level yang ketiga, disebut sebagai Intelektual Happines atau kebahagiaan yang sifatnya intelektual, sarat dengan ilmu pengetahuan. Ada orang yang memang hobinya berdiskusi, kumpul di majelis-majelis ilmu, bica riset dan penemuan terbaru. Pendeknya, ia bahagia dengan ilmu pengetahuan. Seseorang yang pencinta ilmu tahan duduk berjam-jam mendengarkan uraian hikmah, yang sebenarnya secara fisik tidak mendapatkan keuntungan materi apapun, secara seni juga mungkin tidak terlalu menarik. Apa yang menarik dari sebuah dialog? Bagi orang yang levelnya Fisical dan Estetichal mungkin tidak menarik sama sekali. Tapi bagi pemuja ilmu, jangan tanya. Mau hujan lebat pun dia tetap hadir. Beberapa yang agak ekstem, justru nekat berhutang untuk menyelesaikan kuliah. Ini semua indikator bahwa ada orang yang bahagia bersama ilmu.

 

Level tertinggi dari kebahagian adalah Moral Happiness atau kebahagiaan yang bersifat moralitas. Bahagia ketika bisa memberikan kebaikan lebih luas, bahagia ketika bisa menolong orang. Prof. Komaruddin mencontohkannya dengan perasaan bahagia ketika seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain (sedekah). Katanya lagi, kelak semua manusia yang sudah meninggal dunia akan menyesal, minta kepada Tuhan agar dihidupkan kembali supaya bisa bersedekah. “Rabbi laula akhartani ila ajalin qarib faashaddaqa” (QS. Al-Munafiqun/63: 10). “Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda [kematian]ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah”.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)