Cara
(Epistemologi) untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan
berbagai mekanisme. Seseorang bisa saja membaca banyak buku lalu mendapatkan
banyak ilmu dari hasil bacaannya. Dapat juga berdiskusi, mengikuti berbagai
kegiatan ilmiah lalu kemudian mendapat banyak khazanah di sana. Ada lagi,
dengan berada di lingkungan yang menjaga tradisi ilmiah seseorang juga bisa
mendapatkan ilmu pengetahuan bahkan kebijaksanaan.
Tradisi
Islam mengenal setidaknya ada tiga metode untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
Pertama apa yang disebut sebagai Bayani. Metode ini didasarkan pada
penafsiran dan analisis teks-teks suci agama Islam, seperti Al-Qur'an dan Hadis.
Metode ini menggabungkan antara pengetahuan bahasa terutama Bahasa Arab,
sejarah, dan konteks untuk memahami makna dan tujuan teks tersebut. Di antara
contoh disiplin ilmu ini adalah Ulumul Qur'an, Ulumul Hadis, Tafsir, Ushul
Fikih dan lainnya.
Kedua,
disebut sebagai Burhani. Burhani adalah metode yang berdasarkan
pada logika dan akal. Cara ini menggunakan prinsip-prinsip logika dan akal
sehat untuk memperoleh pengetahuan dan memahami kebenaran. Di antara contoh
disiplin ilmu yang terkait dengan hal ini adalah Filsafat, Logika, dan
Matematika.
Sampai pada
dua level ini, epistemologi ilmu menurut Islam dan Barat sama. Sepanjang sejarah
peradaban manusia memang telah mengenal teks-teks suci dan menjadikannya objek
kajian ilmiah. Dari sini kemudian manusia memperoleh ilmu, kebenaran dan
kebijaksanaan. Demikian pula pengembangan akal budi manusia selama ini selalu
menjadi batu pijakan dalam pengembangan ilmu. Lompatan teknologi yang begitu
cepat adalah bukti nyata betapa akal manusia sangat luar biasa.
Yang ketiga
adalah Irfani, yaitu metode
pengetahuan yang berdasarkan pada pengalaman spiritual atau intuisi. Metode ini
menggunakan pengalaman spiritual untuk memperoleh pengetahuan dan memahami
kebenaran. Di antara disiplin ilmu yang terkait dengan hal ini adalah Tasawuf,
Mistisme dan Spiritualitas. Ini lah yang tidak ada dalam tradisi Barat. Bahwa
ilmu harus dan hanya bisa dicari lewat pengalaman empirik. Sementara Islam
membuka pintu kemungkinan lain mendapat ilmu pengetahuan melalui spiritualitas.
Sudah pasti
ada persyaratan khusus yang harus ditempuh bagi orang yang ingin memperoleh
ilmu pengetahuan melalui jalan spiritual. Tangga pertama yang harus ditempuh
adalah pensucian jiwa (Tazkiyatun nafs). Semakin bersih dan suci hati
seseorang, semakin mudah ilmu itu diberikan oleh yang Maha Memiliki Ilmu. Al-'ilmu
nurun, wanurullahi la yuhda lil 'ashi" (Ilmu itu cahaya, dan cahaya
Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat).
Tiap kali
orang melakukan dosa dan kemaksiatan, pada saat yang sama akan muncul titik
hitam di hatinya. Jika noda hitam ini semakin banyak maka cahaya ilahi tidak
akan bisa masuk. Karenanya, pembersihan hati harus senantiasa dilakukan bagi
orang yang ingin menempuh jalur spiritualitas dalam mendapatkan ilmu
pengetahuan.
Bersambung.
