Kata Allah di dalam ayat Al-Qur'an sering menggunakan ungkapan “Aku” dan “Kami”. Dalam bahasa Indonesia aku dan kami merupakan kata ganti orang pertama dalam bentuk tunggal dan jamak.
Sudah pastilah
Allah Esa, Maha Esa. Dalam konteks bahasan ini, ketika menggunakan
"Aku" maka Allah tunggal dan tidak berarti Allah banyak, ketika
menggunakan kata "Kami".
Sekarang,
apa bedanya ketika Al-Qur'an menyebutkan diri-Nya "Aku" dan
"Kami". Menurut pakar tafsir paling populer di Indonesia, Quraish
Shihab, kata "Aku" menunjukkan Allah sendiri, sementara
"Kami" mengisyaratkan Allah bersama yang lain.
Sekadar
contoh, “Waani'buduni hadza siratim mustaqim” (QS. Yasin/36: 61). “Sembahlah
Aku, inilah jalan yang lurus”. Ayat ini mengatakan bahwa hanya Allah sendiri
yang patut di sembah. Tidak ada yang lain. Karenanya, tidak patut menyembah
makhluk apalagi mengagung-agungkannya. Karena itu pula, memuja dan menyanjung
pimpinan berlebihan, jelas mengingkari ayat ini. Sekali lagi, hanya Allah
sendiri, satu-satunya yang berhak disembah.
Ada lagi
ayat yang mengatakan "Innani anallahu la Ilaha illa ana fa'budni wa aqimis
shalata lidzikri" (QS. Taha/20: 14). “Sesungguhnya Aku (Allah), tiada
Tuhan yang wajib disembah kecuali Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikan shalat
untuk mengingatKu". Ayat ini juga menjelaskan bahwa motivasi beribadah
seyogyanya hanya ditujukan kepada kepada Allah (Lillahi ta’ala). Demikian
pula dengan melaksanakan salat, hanya untuk Allah saja, bukan karena ingin
dipuji orang, atau dianggap sebagai orang yang saleh. Ini jelas keliru.
Sekarang
contoh ayat yang menggunakan kata "Kami". "Inna nahnu nazzalna
dzikra wa Inna lahu lahafidzun" (QS. Al-Hijir/15: 9).
"Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur'an, dan Kami pula yang
menjaganya". Ayat ini bisa dimaknai bahwa yang menjaga Al-Qur'an bukan
hanya Allah sendiri, tetapi melibatkan pihak-pihak lain. Para penghafal
Al-Qur'an misalnya, berkontribusi signifikan dalam menjaga Al-Qur'an, sejak
zaman Nabi sampai hari ini mereka yang menyimpan Al-Qur'an di kepalanya, tidak
saja mendapatkan kedudukan yang mulia di tengah-tengah manusia, melainkan juga senantiasa
bersama Allah menjaga ayat-ayat-Nya.
Contoh yang lain
misalnya, "Wa man nuammirhu, nunakkishu filkhalqi afala ya'qilun"
(QS. Yasin/36: 68). "Siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami balikan
proses penciptaannya (dari kuat menuju lemah). Maka, apakah mereka tidak
mengerti?". Ini berarti bahwa Allah dan Manusia serta faktor x lainnya
punya andil dalam mengatur umur yang panjang. Allah bersama manusia bisa
mentukan apakah usianya akan panjang atau sebaliknya. Pada dasarnya memang izin
Allah, tetapi manusia bisa berupaya dengan menjaga kesehatan, berolahraga,
menjaga pola makan, dan memperbanyak silaturahmi.
Demikian
luar biasanya mukjizat Al-Qur'an dari aspek kebahasaannya. ini baru sedikit
tentang kata ganti orang pertama. Belum tentang keseimbangan kata, rahasia di
balik hurufnya, dan masih banyak lagi.
.png)