Tadabbur Al-Qur'an Bagian 2: Ekuilibrium Bahasa Al-Qur’an

Refleksi Kehidupan
0

 


 

Saya kira tidak berlebihan jika kita meyakini Al-Qur’an sebagai sebuah kitab suci yang penuh dengan hikmah dan mukjizat. Salah satu keunikan dari Al-Qur’an adalah susunan bahasanya yang sarat dengan sastra. Jika tidak percaya bacalah Alquran mulai dari juz 30 hingga akhir, anda seolah membaca untaian sajak-sajak Tuhan yang luar biasa. ada hal lain yang sebenarnya lebih menggugah kita dari sekedar bentuk susunan kata Al-Qur’an yang mirip bahkan melampaui bahsa sastra. Apa yang saya maksud adalah Equilibirum atau keseimbangan bahasa Al-Qur’an.

 

Misalkan kata hayat (hidup) diulang sebanyak 145 kali sama banyaknya dengan kata maut (mati). Mari kita berhenti sejenak pada term ini. Kita bisa mengambil beberapa hikmah dibalik pengulangan kata hidup dan mati yang mempunyai jumlah pengulangan yang sama dalam Al-Qur’an. Bahwa kita harus menyeimbangkan antara urusan dunia dan urusan akhirat. Hendaknya tidak terlalu berlebihan mengejar dunia, juga tidak benar jika melulu memikirkan akhirat. Dunia dan akhirat bagi seorang Muslim harus diseimbangkan. Bukankah telah diingatkan melalui FirmanNya:

 

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qashas/28:77).

 

Demikian pula dengan sebuah Hadis populer yang masyhur terdengar diucapkan oleh para dai-dai kita: “Beramallah untuk urusan duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya, tetapi jangan lupa beramallah untuk urusan akhiratmu, seolah-olah engkau mati esok hari”.

 

Pesan moral dari ayat di atas, sangat relevan dengan realitas manusia hari ini yang siang malam berjibaku bertarung untuk memenagkan kehidupan. Pada saat yang sama, tidak sedikit manusia yang lupa akan urusan akhirat, bahkan sama sekali tidak mempercayai adanya akhirat. Dengan membaca dan mengkaji Al-Qur’an tentu akan mampu menyadarkan kita, atau paling tidak mampu mengingatkan kita bahwa hidup ini tidak hanya sekadar berlomba-lomba untuk mencapai kebahagiaan dunia, akan tetapi di sana ada kehidupan yang sedang menanti, kehidupan yang kekal abadi.

 

Mari kita teruskan dengan bentuk pengulangan kata yang lain dalam Al-Qur’an. Kata Malaikat dan Setan terulang sebanyak 88 kali. Malaikat merupakan makhluk Tuhan yang paling taat, berbeda jauh dengan setan yang menjadi makhluk tuhan paling pembangkang. Kesamaan pengulangan ini paling tidak memberikan kita sedikit analisa bahwa pertarungan antara baik dan buruk dalam diri seseorang atau kalau mau bicara pada skala yang lebih besar lagi bahwa pergulatan antara kebaikan dan keburukan di dunia ini tidak pernah berhenti walau sedetik pun. Tetap saja ada manusia yang berbuat baik, pada saat yang sama banyak juga orang yang berbuat berbuat jahat. Al-Qur’an juga telah memberi isyarat kepada kita bahwa sebagai manusia, kita diberikan potensi baik dan potensi buruk.

 

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS. As-Syams/91:8).

 

Quraish Shihab berpendapat bahwa dalam diri setiap manusia terdapat sisi yang menunjukkan kepada sisi dalam manusia yang berpotensi baik dan buruk. Namun diperoleh isyarat bahwa potensi positif (baik) manusia lebih kuat dari potensi negatif (buruknya). Hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat daripada daya tarik kebaikan. Karena itu, manusia dituntut untuk memelihara kesucian nafs dan tidak mengotorinya. Oleh karenanya, terlalu berlebihan jika kita mengharap agar semua orang menjadi baik. Sama berlebihannya jika kita mengharap agar semua orang menjadi jahat. Terlalu berlebihan juga jika kita menginginkan agar semua orang setuju dengan pendapat kita.


Demikian seterusnya, bahwa sangat banyak sekali keseimbangan bahasa Al-Qur’an jika kita mau menelaahnya lebih lanjut. Misalnya an-Naf (Manfaat) dan al-Madharah (mudarat) masing-masing diulang 50 kali, al-Har (panas) dan al-Bard (dingin) 4 kali, as-Shalihat (kebajikan) dan al-Sayyiat (kejahatan) 167 kali, at-Thuma’ninah (kelapangan) dan al-Dhiq (kesempitan) 13 kali, ar-Rahbah (cemas) dan al-Raghbah (harap) 8 kali, al-Kufur (kafir) dan al-Iman (iman) 17 kali, al-Shayf (musim panas) dan al-Syita’ (musim dingin) 1 kali.

 

Keterangan lebih lanjut bisa kita cari pada kitab al-Mu’jam al-Mufahras li alfaz al-Qur’an Karya Muhammad Fu’ad Abdul Baqi atau kitab al-I’jas al-Adaby li al-Qur’an al-Karim karya Abdul Razak Naufal, atau yang paling populer biasa ditemukan di dalam buku Membumikan Al-Qur’an karya Quraish Shihab.

 

 

 

 

 

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)