Saya kira tidak berlebihan jika kita
meyakini Al-Qur’an sebagai sebuah kitab suci yang penuh dengan hikmah dan
mukjizat. Salah satu keunikan dari Al-Qur’an adalah susunan bahasanya yang
sarat dengan sastra. Jika tidak percaya bacalah Alquran mulai dari juz 30
hingga akhir, anda seolah membaca untaian sajak-sajak Tuhan yang luar biasa.
ada hal lain yang sebenarnya lebih menggugah kita dari sekedar bentuk susunan
kata Al-Qur’an yang mirip bahkan melampaui bahsa sastra. Apa yang saya maksud
adalah Equilibirum atau keseimbangan bahasa Al-Qur’an.
Misalkan kata hayat (hidup)
diulang sebanyak 145 kali sama banyaknya dengan kata maut (mati). Mari
kita berhenti sejenak pada term ini. Kita bisa mengambil beberapa hikmah
dibalik pengulangan kata hidup dan mati yang mempunyai jumlah pengulangan yang
sama dalam Al-Qur’an. Bahwa kita harus menyeimbangkan antara urusan dunia dan
urusan akhirat. Hendaknya tidak terlalu berlebihan mengejar dunia, juga tidak
benar jika melulu memikirkan akhirat. Dunia dan akhirat bagi seorang Muslim
harus diseimbangkan. Bukankah telah diingatkan melalui FirmanNya:
“Dan carilah pada apa yang telah
dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu
melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qashas/28:77).
Demikian pula dengan sebuah Hadis
populer yang masyhur terdengar diucapkan oleh para dai-dai kita: “Beramallah
untuk urusan duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya, tetapi jangan
lupa beramallah untuk urusan akhiratmu, seolah-olah engkau mati esok hari”.
Pesan moral dari ayat di atas,
sangat relevan dengan realitas manusia hari ini yang siang malam berjibaku
bertarung untuk memenagkan kehidupan. Pada saat yang sama, tidak sedikit
manusia yang lupa akan urusan akhirat, bahkan sama sekali tidak mempercayai
adanya akhirat. Dengan membaca dan mengkaji Al-Qur’an tentu akan mampu
menyadarkan kita, atau paling tidak mampu mengingatkan kita bahwa hidup ini
tidak hanya sekadar berlomba-lomba untuk mencapai kebahagiaan dunia, akan
tetapi di sana ada kehidupan yang sedang menanti, kehidupan yang kekal abadi.
Mari kita teruskan dengan bentuk
pengulangan kata yang lain dalam Al-Qur’an. Kata Malaikat dan Setan terulang
sebanyak 88 kali. Malaikat merupakan makhluk Tuhan yang paling taat, berbeda
jauh dengan setan yang menjadi makhluk tuhan paling pembangkang. Kesamaan
pengulangan ini paling tidak memberikan kita sedikit analisa bahwa pertarungan
antara baik dan buruk dalam diri seseorang atau kalau mau bicara pada skala
yang lebih besar lagi bahwa pergulatan antara kebaikan dan keburukan di dunia
ini tidak pernah berhenti walau sedetik pun. Tetap saja ada manusia yang
berbuat baik, pada saat yang sama banyak juga orang yang berbuat berbuat jahat.
Al-Qur’an juga telah memberi isyarat kepada kita bahwa sebagai manusia, kita
diberikan potensi baik dan potensi buruk.
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa
itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS. As-Syams/91:8).
Quraish Shihab berpendapat bahwa dalam
diri setiap manusia terdapat sisi yang menunjukkan kepada sisi dalam manusia
yang berpotensi baik dan buruk. Namun diperoleh isyarat bahwa potensi positif
(baik) manusia lebih kuat dari potensi negatif (buruknya). Hanya saja daya
tarik keburukan lebih kuat daripada daya tarik kebaikan. Karena itu, manusia
dituntut untuk memelihara kesucian nafs dan tidak mengotorinya. Oleh
karenanya, terlalu berlebihan jika kita mengharap agar semua orang menjadi
baik. Sama berlebihannya jika kita mengharap agar semua orang menjadi jahat.
Terlalu berlebihan juga jika kita menginginkan agar semua orang setuju dengan
pendapat kita.
Demikian seterusnya, bahwa sangat banyak
sekali keseimbangan bahasa Al-Qur’an jika
kita mau menelaahnya lebih lanjut. Misalnya an-Naf (Manfaat) dan al-Madharah
(mudarat) masing-masing diulang 50 kali, al-Har (panas) dan al-Bard
(dingin) 4 kali, as-Shalihat (kebajikan) dan al-Sayyiat
(kejahatan) 167 kali, at-Thuma’ninah (kelapangan) dan al-Dhiq
(kesempitan) 13 kali, ar-Rahbah (cemas) dan al-Raghbah (harap) 8
kali, al-Kufur (kafir) dan al-Iman (iman) 17 kali, al-Shayf
(musim panas) dan al-Syita’ (musim dingin) 1 kali.
Keterangan lebih lanjut bisa kita cari
pada kitab al-Mu’jam al-Mufahras li alfaz al-Qur’an Karya Muhammad Fu’ad
Abdul Baqi atau kitab al-I’jas al-Adaby li al-Qur’an al-Karim karya
Abdul Razak Naufal, atau yang paling populer biasa ditemukan di dalam buku Membumikan
Al-Qur’an karya Quraish Shihab.
.png)