Setan Berwujud Manusia: Tadabbur Al-Qur’an Bagian 3

Refleksi Kehidupan
0

 


Menurut bahasa setan berarti “ba’uda” atau “jauh”. Jauh dari Allah, karena ingkarnya melawan perintah Allah untuk sujud kepada Adam as. Semula, setan bersama para malaikat berada di dalam surga mengerjakan perintah Allah sambil menikmati segala fasilitas di dalamnya. Dalam buku Nahjul Balaghah, Ali Bin Abi Thalib menyebutkan bahwa setan pernah shalat/taat kepada Allah selama 6000 tahun. Lalu kesombongan lah yang menyebabkannya harus terusir dari surga untuk selama-lamanya.

 

Umumnya orang menganggap bahwa setan adalah makhluk ghaib yang memiliki rupa yang bermacam-macam. Menurut penuturan beberapa orang yang pernah ketemu dengan makhluk halus ini, setan bisa dideskripsikan dengan berbagai variasi bentuk yang berbeda. Banyaknya nama atau istilah yang di nisbahkan selama ini kepada setan merupakan bukti bahwa persepsi tiap orang berbeda tentang setan. Baiklah, kita tidak akan mempersoalkan tentang itu. Yang jelas, lazimnya orang menganggap bahwa setan itu menakutkan, mengerikan dan hanya dapat diindera oleh orang-orang tertentu dan pada waktu yang tertentu pula.

 

Mari kita tinggalkan setan dalam perspektif common sense. Sekarang mari kita lihat bagaimana terminologi Al-Qur’an mengenai klasifikasi setan yang sebenarnya. Anda mungkin atau boleh jadi terkejut sebagai mana terkejutnya saya dahulu. Bahwa sebenarnya setan itu ada dan sangat dekat disekitar kita, konkret atau nyata dan selalu mengelabui kita, atau jangan-jangan kita sendirilah setan yang dimaksud.

 

Didalam Al-Qur’an, setidaknya ada dua ayat yang menjelaskan bahwa sebenarnya setan itu tidak selalau seperti yang selama ini kita bayangkan, setan itu bisa juga berasal dari golongan jin dan manusia. Ayat pertama terdapat pada surah Al-An’am/6: 112: Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”.  

 

Ayat ini memberikan informasi kepada bahwa sebenarnya ada setan yang berwujud seperti manusia yang kerjanya membisikkan manusia perkataan-perkataan yang dianggap baik yang tujuannya adalah menipu manusia. Jadi, setan itu tidak selalu dalam bentuk yang abstrak, tetapi ada juga yang berwujud nyata. Dengan demikian, jika ada orang-orang disekitar kita yang kerjanya selalu menghasut, membisikkan, menebar kebencian dan melakukan tindakan provokatif lainnya itulah setan yang sesungguhnya. Silahkan anda cek sendiri, ternyata setan itu dekat sekali dengan kita.

 

Dengan nada yang sama namun redaksi yang berbeda, pada surah An-Nas/114: 5-6 dijelaskan: yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. dari (golongan) jin dan manusia”. Ayat ini memiliki makna yang sama dengan ayat sebelumnya, yakni menyebutkan kesamaan pekerjaan setan untuk merayu dengan tujuan menggelincirkan manusia supaya melakukan berbagai kemaksiatan.

 

Apa yang hendak penulis sampaikan dalam uraian yang amat singkat ini adalah bahwa setan itu sebenarnya sangat dekat dengan kita dan hadir selalu bersama kita atau boleh jadi kita sendiri setan yang dimaksud. Singkatnya, setan itu merupakan adjective atau sifat. Jika ada orang yang selalu menyuruh dan atau mempengaruhi kita kepada kemaksiatan atau menghalang-halangi kita untuk mengerjakan kebajikan, maka saat itu kita sedaang dirayu oleh setan. Atau jika perbuatan kita selalu mengarah kepada kejahatan maka pada saat itu kita telah menjadi setan. Demikian pula segala sifat-sifat yang dinisbahkan kepada setan semisal sombong, angkuh, pemarah, kikir dan lainnya, jika sifat tersebut telah melekat didalam diri manusia maka saat itu pula lah dia telah menjadi setan.

 

Ramadan memang bulan dimana setan dibelenggu. Bukan berarti setan tidak bisa menggoda manusia. Bahkan, godaannya selama Ramadan mungkin jauh lebih hebat. Setan dibelenggu oleh puasa itu sendiri. Jadi, puasa kitalah yang mengikatnya. Jika puasanya benar-benar dilakukan dengan serius. Jika tidak, setan itu tetap bisa menggoda manusia, atau setan itu lepas dari ikatannya kemudian menjelma menjadi wujud manusia, tetapi perilakunya seperti setan.

 

 

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)