Nasehat Al-Qur'an: Tadabbur Al-Qur'an Bagian 4

Refleksi Kehidupan
0


Al-Qur'an merupakan petunjuk hidup manusia, di antara isi kandungan Al-Qur'an adalah akidah, ibadah, akhlak, syariah, muamalah, sejarah atau kisah, ilmu pengetahuan, etika, janji dan ancaman. Dari sini, dapat dikatakan bahwa kandungan Al-Qur’an bersifat universal. Karenanya, berdampak baik bagi seluruh umat manusia.

 

Salah satu kandungan dari Al-Qur'an adalah bahwa ia berisi nasehat-nasehat. Meskipun di dalam literatur, nasehat tidak disebutkan secara eksplisit. Di atas dari itu semua, agama inipun sesungguhnya merupakan nasehat (Addinu nasihah).

 

Nasehat yang dimaksud tidak hanya pada konten ayatnya, melainkan juga pada sindiran spiritual, real time bagi siapa saja yang membacanya, seolah-olah ia sedang dinasehati Al-Qur'an.

 

Dinasehati langsung oleh Al-Qur'an adalah sebuah kebahagiaan spiritual yang tidak terlukiskan. Memang, syaratnya sedikit banyak harus bisa, setidaknya menerjemahkan ayat Al-Qur'an secara harfiah. Tentu saja, untuk bisa sampai pada level ini, perlu membaca Al-Qur'an plus dengan terjemahannya.

 

Saat hati sedang gundah dan sedih, entah bagaimana ceritanya bisa sampai membaca ayat "La tahzan innalilahi ma'ana" (QS.At-Taubah/9: 40). “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”. Saat membaca ayat ini, seketika membangkitkan semangat, lupa akan kesedihan.

 

Saat sedang dibayang-bayangi oleh rasa takut, atau sedang ada yang meneror. Ketemulah dengan ayat "La khaufun 'alaihim wa la hum yahzanun" (QS. Yunus/10: 62). Orang yang beriman itu, tidak ada rasa takut padanya dan mereka tidak bersedih.

 

Bahkan, saat sedang berselisih dengan istri ketemu ayat "Fain karihtumuhunna fa’asa an takrahu syaian wa yaj'allahu fihi Khairan katsira" (QS. An-Nisa’/4: 19). “Jika kamu tidak menyukainya, bersabarlah. Karena boleh jadi sesuatu yang kamu tidak suka, Allah memberikan kebaikan yang banyak bagimu”. Nasehatnya, kalaupun marah, marahlah sekadarnya, karna lebih baik, atau banyak kebaikan yang telah, sedang dan akan diberikan oleh istri. Ini masih lebih baik ketimbang belum atau tidak beristri.

 

Dahulu sewaktu penulis hendak menikah ada satu nasehat dari Al-Qur'an yang membekas sampai sekarang, ketika mengetik tulisan ini kembali teringat. Ada ayat yang mengatakan: "Waankihul ayama minkum, washalihina min ibadikum wa imamikum, in yakunu fuqaraa yughnihimullahu minfadlihi, wallahu wasi’un ‘alim". (QS. An-Nur/24: 32). "Menikahlah dengan orang yang Sholeh, jika ia berada dalam kekurangan, Allah akan mencukupkannya dengan berkahnya, sesunguhnya Allah Maha meluaskan rezeki lagi Maha Mengetahui.

 

Ayat ini tidak hanya menjadi penyemangat, tetapi juga menjadi motivasi untuk lebih percaya diri sekaligus optimis menapaki setiap langkah kehidupan.

 

Demikian beruntungnya mereka yang setiap hari tidak lepas dari Al-Qur'an. Al-Qur'an hadir menasehatinya langsung, sesuai dengan kondisi pembacanya. Kata Quraish Shihab: "Kalau anda ingin bercakap-cakap dengan Allah, berdoalah. Tapi kalau anda ingin Allah yang berbicara kepada anda, bacalah Al-Qur'an".

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)