Etika Komunikasi Dalam Al-Qur’an: Tadabbur Al-Qur'an Bagian 5

Refleksi Kehidupan
0

 


Komunikasi merupakan bagian terpenting dalam setiap aktivitas kehidupan manusia. Sejak semula dilahirkan manusia sudah mulai berkomunikasi untuk menyampaikan maksud dan tujuannya, tentu dengan bahasa isyarat dengan segala kesederhanaannya. Sampai pada usia tertentu manusia akan terus berkomusikasi dan berinteraksi dengan kecanggihan media pada zamannya. Pada akhirnya, di ujung senja usianya manusia juga masih terus berkomunikasi dengan kesederhanaan sebagaimana pada saat ketika dia dilahirkan dahulu.

 

Komunikasi yang baik dapat menyebabkan hubungan menjadi lebih akrab, sebaliknya komunikasi yang kurang baik akan menjadikan hubungan renggang dan tidak jarang karena komunikasi yang kurang baik dapat menjadi pemicu terjadinya permusuhan.

 

Sebagai kitab suci yang universal, Al-Qur’an sangat banyak memberikan rambu-rambu tentang bagaimana seharusnya melakukan komunikasi yang baik. Al-Qur’an menyebut istilah komunikasi dengan qaulan yang diulang setidaknya enam kali dalam beberapa ayat yang berbeda.

 

Pertama, berbicara dengan benar (qaulan sadida). Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”. (QS. Al-Ahzab/33: 70). Qaulan sadida dapat bermakna perkataan yang benar, lurus, jujur dan tidak berbelit-belit.

 

Kedua, berbicara dengan baik (qaulan ma’rufa).Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik”. (QS. An-Nisa’/4: 5). Qaulan ma’rufa dapat bermakna perkataan yang santun, dan pantas, tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan orang lain, serta sesuai dengan norma dan budaya.

 

Ketiga, berbicara dengan mulia (Qaulan karima). Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (QS. Al-Isra’/17: 23).

 

Qaulan karima dapat bermakna ucapan yang disertai dengan rasa penuh hormat, sebagaimana konteks ayat tersebut yang menggambarkan komunikasi anak dengan orangtuanya. Demikian hormatnya, sehingga mengatakan “ah” menjadi indikator tidak hormat kepada orangtua.

 

Keempat, berbicara dengan lembut (qaulan layina). maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Taha/20: 44). Konteks ayat ini sebenarya adalah ketika Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk berbicara dengan Firaun dengan cara yang lemah lembut, agar Firaun mau mendengarkan pesan mereka. Ini berarti, terhadap pemimpin yang lalim sekalipun, penting memperhatikan etika berbicara dengan lemah-lembut.

 

Bayangkan saja, orang sekelas Firaun masih dapat ditoleransi dengan lemah lembut, apalagi pemimpin saat ini yang belum mencapai level Firaun, mungkin setengahnya pun tidak sampai. Haruskah mencaci dan memaki mereka?, apakah yang mencaci sudah selevel dengan Nabi Musa dan Harun?. Pastilah tidak. Karena itu, tidak ada gunanya mencaci-maki, apalagi terhadap penguasa, sedangkan dengan lembut saja belum tentu diterima, apalagi dengan cacian.

 

Kelima, berbicara yang menggembirakan (qaulan maisura). Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang menggembirakan”. (QS. Al-Isra’/17: 28). Qaulan maisura dapat berarti perkataan yang mudah dipahami dan tidak membingungkan. Dalam kaitannya dengan hal ini, sangat penting memahami konteks lawan bicara. Perlu penyesuaian tingkat pemahaman penerima informasi dengan bahasa yang sesuai. Nabi sendiri berpesan: “Khatibun nas 'ala qadri 'uqulihim”. Bicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkat pengetahuannya.

 

Keenam, berbicara yang menyentuh (qaulan baligha).Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”. (QS. An-Nisa’/4: 63). Qaulan baligha dapat berarti perkataan yang, fasih, jelas, tegas dan berkesan positif menyentuh lawan bicara. Kalau ada pembicaraan yang menimbulkan kesan negatif pastilah bukan termasuk kedalam qaulan baligha.

 

Demikianlah beberapa etika komunikasi dalam Al-Qur’an, enam model komunikasi ini perlu dilakukan agar komunikasi menjadi cair dan mencapai tujuannya. Semua yang keluar dari lisan seseorang akan menjadi ukuran isi dalam dirinya, kalau baik yang keluar, baiklah yang ada di dalam. Kalau santun yang keluar, santun pula yang ada di dalam. Demikian seterusnya.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)