Komunikasi merupakan bagian terpenting dalam setiap aktivitas
kehidupan manusia. Sejak semula dilahirkan manusia sudah mulai berkomunikasi
untuk menyampaikan maksud dan tujuannya, tentu dengan bahasa isyarat dengan
segala kesederhanaannya. Sampai pada usia tertentu manusia akan terus
berkomusikasi dan berinteraksi dengan kecanggihan media pada zamannya. Pada
akhirnya, di ujung senja usianya manusia juga masih terus berkomunikasi dengan kesederhanaan
sebagaimana pada saat ketika dia dilahirkan dahulu.
Komunikasi yang baik dapat menyebabkan hubungan menjadi lebih
akrab, sebaliknya komunikasi yang kurang baik akan menjadikan hubungan renggang
dan tidak jarang karena komunikasi yang kurang baik dapat menjadi pemicu
terjadinya permusuhan.
Sebagai kitab suci yang universal, Al-Qur’an sangat banyak
memberikan rambu-rambu tentang bagaimana seharusnya melakukan komunikasi yang
baik. Al-Qur’an menyebut istilah komunikasi dengan qaulan yang diulang
setidaknya enam kali dalam beberapa ayat yang berbeda.
Pertama, berbicara dengan benar (qaulan sadida). “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah
dan katakanlah perkataan yang benar”. (QS.
Al-Ahzab/33: 70). Qaulan sadida dapat bermakna perkataan yang benar,
lurus, jujur dan tidak berbelit-belit.
Kedua, berbicara dengan baik (qaulan ma’rufa).“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum
sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan
Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil
harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik”. (QS. An-Nisa’/4: 5). Qaulan ma’rufa dapat bermakna
perkataan yang santun, dan pantas, tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan
orang lain, serta sesuai dengan norma dan budaya.
Ketiga, berbicara dengan mulia (Qaulan karima). “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan
sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai
berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka
dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (QS. Al-Isra’/17: 23).
Qaulan karima dapat bermakna ucapan yang
disertai dengan rasa penuh hormat, sebagaimana konteks ayat tersebut yang
menggambarkan komunikasi anak dengan orangtuanya. Demikian hormatnya, sehingga
mengatakan “ah” menjadi indikator tidak hormat kepada orangtua.
Keempat, berbicara
dengan lembut (qaulan layina). “maka
berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut,
mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS.
Taha/20: 44). Konteks ayat ini sebenarya adalah ketika Allah memerintahkan Nabi
Musa dan Harun untuk berbicara dengan Firaun dengan cara yang lemah lembut,
agar Firaun mau mendengarkan pesan mereka. Ini berarti, terhadap pemimpin yang
lalim sekalipun, penting memperhatikan etika berbicara dengan lemah-lembut.
Bayangkan saja, orang
sekelas Firaun masih dapat ditoleransi dengan lemah lembut, apalagi pemimpin
saat ini yang belum mencapai level Firaun, mungkin setengahnya pun tidak
sampai. Haruskah mencaci dan memaki mereka?, apakah yang mencaci sudah selevel
dengan Nabi Musa dan Harun?. Pastilah tidak. Karena itu, tidak ada gunanya
mencaci-maki, apalagi terhadap penguasa, sedangkan dengan lembut saja belum tentu
diterima, apalagi dengan cacian.
Kelima, berbicara yang menggembirakan (qaulan
maisura). “Dan jika kamu berpaling dari mereka
untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada
mereka ucapan yang menggembirakan”. (QS.
Al-Isra’/17: 28). Qaulan maisura dapat berarti perkataan yang mudah
dipahami dan tidak membingungkan. Dalam kaitannya dengan hal ini, sangat
penting memahami konteks lawan bicara. Perlu penyesuaian tingkat pemahaman
penerima informasi dengan bahasa yang sesuai. Nabi sendiri berpesan: “Khatibun
nas 'ala qadri 'uqulihim”. Bicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkat
pengetahuannya.
Keenam, berbicara yang menyentuh (qaulan
baligha). “Mereka itu adalah orang-orang yang
Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu
dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka
perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”. (QS. An-Nisa’/4: 63). Qaulan baligha dapat berarti perkataan
yang, fasih, jelas, tegas dan berkesan positif menyentuh lawan bicara. Kalau ada
pembicaraan yang menimbulkan kesan negatif pastilah bukan termasuk kedalam qaulan
baligha.
Demikianlah beberapa etika komunikasi dalam Al-Qur’an,
enam model komunikasi ini perlu dilakukan agar komunikasi menjadi cair dan
mencapai tujuannya. Semua yang keluar dari lisan seseorang akan menjadi ukuran
isi dalam dirinya, kalau baik yang keluar, baiklah yang ada di dalam. Kalau santun
yang keluar, santun pula yang ada di dalam. Demikian seterusnya.
.png)