Salah satu
sifat jelek dari masyarakat Indonesia menurut Antropolog terkenal Koentjaranigrat, adalah "Mentalitas Menerabas". Apa maksudnya? Masyarakat kita masih
suka menabrak aturan, menyerobot antrian, menerobos lampu merah dan
tindakan-tindakan menerabas lainnya.
Apa sebab?
Pertama, ada perasaan semacam takut tidak memperoleh haknya secara wajar, takut
haknya diambil orang. Karena itu, budaya antri di tempat kita masih belum
jalan.
Kedua, tidak
adanya kepercayaan terhadap sistem aturan yang telah ditetapkan. Aturan sering
kali dikangkakngi oleh mereka yang punya otoritas, atau sering kali yang punya
otoritas ini menyelamatkan orang-orang terdekatnya dari jeratan hukuman yang
seharusnya diterima. Atau bahkan aturannya sekalian yang dirubah untuk
memuluskan jalannya. Ini nyata, terang-terangan hampir setiap hari
dipertontonkan.
Ketiga,
tidak jarang sebuah jabatan yang seharusnya sudah menjadi haknya, malah diambil
alih, ditelikung oleh orang lain yang sama sekali tidak mempunyai kompetensi.
Ini hanya
sebagian kecil saja dari contoh mental yang buruk ini. Dalam dunia akademik,
mental menerabas juga mulai merebak, banyak yang menginginkan gelar akademik dengan cara-cara yang kurang
terpuji. Yang penting gelar itu bisa melekat pada nama formalnya, soal
prosesnya, terabas saja. Tidak ada perasaan malu atau setidaknya segan menyandang
gelar akademik yang diperoleh dengan cara tidak wajar.
Apa yang
pernah diungkapkan oleh Koentjaranigrat tadi benar-benar masih berlaku sampai
hari ini, masih banyak perilaku menabrak aturan sejadi-jadinya, nyata-nyata,
bahkan sering di depan mata kita sendiri. Tiap hari berita di tv dan media
massa menyajikan berbagai contoh mental-mental menerabas.
Puasa
sesungguhnya melatih kita untuk tidak menerabas aturan. Mengajarkan kita untuk
tau waktu, kapan saatnya diperbolehkan, kapan saatnya menahan. Jangankan untuk
hal-hal yang haram, untuk yang halal sekali pun di bulan Ramadan ada aturan dan
waktunya. Makan yang jelas-jelas halal dan hak kita ada waktunya, kapan harus
dinikmati.
Kaerena esensi
puasa adalah menahan. Maka, buah dari
puasa yang sesungguhnya adalah kesabaran, kesabaran untuk mengikuti proses
sampai selesai. Buah lainnya adalah kemampuan menahan untuk tidak melanggar
aturan, dan memupuk rasa malu pada diri sendiri kalau-kalau melanggar kepantasan,
meskipun secara administrasi diperbolehkan, tatapi jika melanggar kewajaran
tidak akan dilakukan.
