Epistemologi Ilmu Perspektif Islam dan Barat (Bagian 3)

Refleksi Kehidupan
0


Imam Ghazali pernah membuat analogi yang sangat cantik tentang bagaimana seseorang memperoleh ilmu dan hikmah melalui jalan spiritualitas. Kira-kira mirip seperti orang yang ingin mendapatkan air. Bagaimana agar air sampai ke rumahnya?.

 

Ada yang menempuh jalan normal yakni dengan mencari sumber air, kemudian membuat aliran air, apakah dalam bentuk parit atau melalui  pipa, nanti air akan dengan sendirinya sampai dirumah sipencarinya. Ini adalah jalan yang normal.

 

Al-Ghazali menawarkan satu metode lagi, seseorang tidak perlu repot-repot mencari sumber air, tidak juga perlu sibuk menyiapkan media untuk mengalirkan air. Ia cukup pergi ke belakang rumah, fokus menggali tanah sampai dalam sampai ketemu mata air, nanti air akan muncul sendiri.

 

Dalam konteks pencarian ilmu pengetahuan, orang bisa saja sekolah setinggi mungkin, membaca tumpukan buku, berdiskusi kesana-kemari, baru kemudian ia mendapatkan ilmu pengetahuan. Tapi ada juga bagi sebagian orang yang tidak perlu sekolah formal, tidak juga sibuk berdiskusi atau menghadiri seminar, cukup dengan membersihkan dirinya, nanti ilmu akan datang sendiri. Ilmu diberikan langsung oleh yang Maha Memilikinya.

 

Di kampung-kampung yang masih sangat kental dengan tradisi Islam, terlalu banyak contoh dimana ada orang yang tidak pernah mengenyam bangku sekolahan tapi keteladanannya, ajarannya, bahkan hikmah dari ucapannya selalu menyejukkan. Lebih sejuk bahkan dari petuah Profesor Doktor Yang yang katanya hebat-hebat itu.

 

Cobalah perhatikan, bandingkan ketika orang yang diberi hikmah diminta berbicara, karena ahli hikmah memang tidak pernah meminta untuk memberikan hikmah, ia justru diminta. Mereka ini lebih menyejukkan dari orang yang terlanjur dianggap pintar oleh kebanyakan orang.

 

Akhirnya, sebagai muslim yang baik, dua pendekatan ini, baik Islam dan Barat harus dikawinkan. Tidak boleh ada dikotomi metodologis antara Timur dan Barat. Ilmuan muslim sudah seharusnya menguasai metode empirik dan menajamkan aspek spiritualitasnya. Ilmuan Baratpun, sebaiknya pelan-pelan belajar mengambil hikmah spiritual yang hanya mungkin diberikan oleh yang Maha Otoritatif. Jalan satu-satunya adalah dengan mendekatkan diri kepada pemilik ilmu itu.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)