Iktikaf (Bagian 1)

Refleksi Kehidupan
0


 

Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah momen dimana seorang muslim harus “mengencangkan ikat pinggang”. Maksudnya, umat Islam harus lebih banyak melakukan amalan-amalan yang fokus kepada orientasi akhirat. Seperti pertandingan, sepak bola, yang dinanti dan mendebarkan sesungguhnya adalah dibagian akhir. Mulai dari perempat final, semi final dan finalnya.

 

Akan halnya dengan Ramadan yang saat ini sudah berada di penghujung, seyogyanya kita semakin fokus beribadah. Alih-alih fokus, konsentrasi umat ini justru disibukkan dengan aktivitas keduniawian yang hampir mengaburkan makna final Ramadan. Tidak sedikit yang sudah mulai sibuk dengan rencana pulang kampung, baju lebaran dan segala pernak-pernik yang kemungkinan dijadikan bahan unjuk kesuksesan selama di perantauan.

 

Di antara anjuran Rasulullah saw. ketika sepuluh malam terakhir Ramadan adalah memperbanyak Iktikaf. Iktikaf adalah salah satu ibadah dalam Islam yang dilakukan dengan berdiam diri di masjid selama beberapa waktu. Tujuan iktikaf adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan kesadaran spiritual, dan memperkuat hubungan dengan Allah.

 

Iktikaf dilakukan dengan beberapa syarat. Pertama, niat. Ini menjadi kunci, sebab niat adalah esensi yang membedakan apakah suatu pekerjaan menjadi ibadah atau tidak. Tanpa niat, berdiam diri di masjid hanya dianggap sebagai istirahat biasa. Kedua, adalah berdiam diri di masjid dan menjauhi aktivitas keduniawian dan memperbanyak zikir.

 

Untuk dapat melakukan Iktikaf dengan baik maka perlu dimulai dari perencanaan. Memilih masjid dan waktu pelaksanaannya adalah langkah awal, untuk lebih memudahkan mungkin masjid terdekat dengan tempat tinggal adalah pilihan yang tepat. Selesai salat Subuh, Zuhur dan Asar mungkin adalah waktu yang pas. Jadi, selesai salat jangan buru-buru pulang, diamlah sebentar. Dan jangan lupa memasang niat Iktikaf.

 

Di atas adalah berkaitan dengan pemilihan waktu dan tempat Iktikaf. Yang lebih penting dari itu adalah muatan Iktikaf itu sendiri. Apa yang harus dilakukan? Kalau berzikir apa bacaan spesifiknya?. Hemat penulis, istighfar adalah zikir terbaik, memohon ampun kepada Allah swt. atas segala kesilapan. Bacalah kalimat ini sebanyaknya, boleh juga dalam hati. Atau boleh juga di selingi dengan bacaan yang juga sangat dianjurkan "Allahumma innaka 'afuwun Karim, tuhibbul 'affwa, fa'fuani ya Karim". Ya Tuhan kami, sesungguhnya engkaulah Maha Pengampun lagi Maha Mulia, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku, duhai yang Maha Mulia".

 

Agar iktikaf berjalan lancar, perlu dukungan eksternal, yang seharusnya dilakukan oleh takmir masjid adalah menyiapkan fasilitas yang nyaman bagi orang yang ingin melakukan Iktikaf. Malam hari selepas salat Tarawih mungkin banyak yang ingin Iktikaf, tidak ada salahnya jika perbekalan makanan ringan, teh dan kopi disiapkan. Atau kalau kasnya cukup sekalian disiapkan makan sahurnya. Barang kali bagi masjid yang telah memiliki banyak kas ini bisa dijadikan program unggulan. Intinya, masjid harus menyahuti bagaimana caranya agar ibadah Iktikaf jamaah bisa diakomodir dengan baik.

 

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)