Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah momen dimana seorang muslim harus “mengencangkan ikat pinggang”. Maksudnya, umat Islam harus lebih banyak melakukan amalan-amalan yang fokus kepada orientasi akhirat. Seperti pertandingan, sepak bola, yang dinanti dan mendebarkan sesungguhnya adalah dibagian akhir. Mulai dari perempat final, semi final dan finalnya.
Akan halnya
dengan Ramadan yang saat ini sudah berada di penghujung, seyogyanya kita semakin
fokus beribadah. Alih-alih fokus, konsentrasi umat ini justru disibukkan dengan
aktivitas keduniawian yang hampir mengaburkan makna final Ramadan. Tidak sedikit
yang sudah mulai sibuk dengan rencana pulang kampung, baju lebaran dan segala
pernak-pernik yang kemungkinan dijadikan bahan unjuk kesuksesan selama di perantauan.
Di antara
anjuran Rasulullah saw. ketika sepuluh malam terakhir Ramadan adalah
memperbanyak Iktikaf. Iktikaf adalah salah satu ibadah dalam Islam yang
dilakukan dengan berdiam diri di masjid selama beberapa waktu. Tujuan iktikaf
adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan kesadaran spiritual,
dan memperkuat hubungan dengan Allah.
Iktikaf
dilakukan dengan beberapa syarat. Pertama, niat. Ini menjadi kunci, sebab niat
adalah esensi yang membedakan apakah suatu pekerjaan menjadi ibadah atau tidak.
Tanpa niat, berdiam diri di masjid hanya dianggap sebagai istirahat biasa.
Kedua, adalah berdiam diri di masjid dan menjauhi aktivitas keduniawian dan
memperbanyak zikir.
Untuk dapat
melakukan Iktikaf dengan baik maka perlu dimulai dari perencanaan. Memilih
masjid dan waktu pelaksanaannya adalah langkah awal, untuk lebih memudahkan
mungkin masjid terdekat dengan tempat tinggal adalah pilihan yang tepat.
Selesai salat Subuh, Zuhur dan Asar mungkin adalah waktu yang pas. Jadi,
selesai salat jangan buru-buru pulang, diamlah sebentar. Dan jangan lupa memasang
niat Iktikaf.
Di atas
adalah berkaitan dengan pemilihan waktu dan tempat Iktikaf. Yang lebih penting
dari itu adalah muatan Iktikaf itu sendiri. Apa yang harus dilakukan? Kalau
berzikir apa bacaan spesifiknya?. Hemat penulis, istighfar adalah zikir terbaik,
memohon ampun kepada Allah swt. atas segala kesilapan. Bacalah kalimat ini
sebanyaknya, boleh juga dalam hati. Atau boleh juga di selingi dengan bacaan
yang juga sangat dianjurkan "Allahumma innaka 'afuwun Karim, tuhibbul
'affwa, fa'fuani ya Karim". Ya Tuhan kami, sesungguhnya engkaulah Maha
Pengampun lagi Maha Mulia, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku, duhai
yang Maha Mulia".
Agar iktikaf
berjalan lancar, perlu dukungan eksternal, yang seharusnya dilakukan oleh
takmir masjid adalah menyiapkan fasilitas yang nyaman bagi orang yang ingin
melakukan Iktikaf. Malam hari selepas salat Tarawih mungkin banyak yang ingin
Iktikaf, tidak ada salahnya jika perbekalan makanan ringan, teh dan kopi
disiapkan. Atau kalau kasnya cukup sekalian disiapkan makan sahurnya. Barang
kali bagi masjid yang telah memiliki banyak kas ini bisa dijadikan program
unggulan. Intinya, masjid harus menyahuti bagaimana caranya agar ibadah Iktikaf
jamaah bisa diakomodir dengan baik.