Iktikaf (Bagian 2)

Refleksi Kehidupan
0

 




Secara filosofis, Iktikaf memang perlu dilakukan. Untuk apa? Banyak persoalan-persoalan kehidupan yang membutuhkan penyelesaian dengan pengambilan keputusan yang bijak. Iktikaf adalah satu di antara tawaran solutif.

 

Dalam prosesnya, Iktikaf bebas dari gangguan, kebisingan dan memungkinkan untuk konsentrasi. Kondisi ini efektif untuk dapat mengambil keputusan yang tepat. Pada saat yang sama, Iktikaf juga mampu meningkatkan kesadaran diri. Ini berguna terlebih untuk merefleksikan diri. Kalau konteksnya problem hidup, akan ditemukan apa sebab, mengapa terjadi, dan apa langkah yang tepat yang harus dilakukan.

 

Alasan berikut mungkin adalah yang paling penting, yakni membangun hubungan spiritual dengan yang Maha Memberi solusi. Jadi tujuan Iktikaf yang sebenarnya adalah menjaga diri dari kemeriahan duniawi untuk kemudian menjemput pengalaman spiritual. Setelah itu, solusi pasti datang dengan sendirinya.

 

Sejarah mencatat bahwa prang-orang suci dahulupun telah melakukan pengamalan konsep Iktikaf, perenungan, meditasi, atau kontemplasi. Nabi Muhammad saw. contohnya. Sebelum ia dilantik menjadi nabi, yang ditandai dengan turunnya wahyu pertama, Nabi Muhammad saw. terlebih dahulu Bertahannus di Gua Hira. Tahannus adalah Istilah yang digunakan untuk menggambarkan kegiatan Nabi Muhammad saw. Ini ketika beliau melakukan retret spiritual di sebuah gua yang terletak di dekat Mekah. Selama proses tersebut, Nabi Muhammad saw. menjauhkan diri dari kesibukan duniawi, dan memfokuskan diri pada ibadah, kontemplasi.

 

Budha Gautama juga melakukan pengasingan diri sebagai bagian dari proses spiritualnya. Sebelum mencapai pencerahan, Budha Gautama telah melakukan hal yang sama di salah satu hutan di India sana. Selama lebih kurang enam tahun ia melakukan meditasi, berpuasa, dan berlatih disiplin spiritual yang ketat. Beliau meninggalkan kehidupan mewah sebagai pangeran dan memilih hidup sebagai seorang pertapa. Apa hasilnya? Sampai sekarang kebijaksanaan Budha Gautama banyak diikuti dan berkembang menjadi sebuah agama dengan jumlah pengikut yang cukup banyak.

 

Kalau mau menyebut lainnya, mungkin pengalaman Al-Ghazali sangat baik dijadikan contoh. Suatu ketika, Imam Al-Ghazali mengalami krisis spiritual dan merasa bahwa dirinya telah terlalu terikat dengan dunia. Beliau merasa bahwa dirinya perlu melakukan pengasingan diri agar lebih dekat dengan Allah swt. Karena itu, Al-Ghazali memutuskan untuk mengasingkan diri di sebuah menara masjid. Beliau tinggal di menara masjid tersebut selama beberapa tahun, melakukan perenungan, berpuasa, dan berlatih disiplin spiritual yang ketat.

 

Selama masa pengasingan diri, Al-Ghazali melakukan refleksi tentang dirinya dan tentang ajaran Islam dengan serius. Beliau juga melakukan studi yang intensif tentang Al-Qur'an dan Hadis, dan karya-karya ulama dan sufi terdahulu. Hasil dari pengasingan diri tersebut adalah karya-karya tulis yang sangat berpengaruh, seperti: Ihya' Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama) dan Al-Munqiz min ad-Dalal (Penyelamat dari Kesesatan). Karya-karya tersebut sampai hari menjadi rujukan penting bagi para ulama dan pegiat kajian sufi seantero dunia.

 

Di masa lalu, dinamika spiritual orang-orang suci mencapai puncaknya setelah mereka melakukan perenungan diri yang mendalam. Hasilnya, sungguh luar biasa kebijaksanaan sebagai buah karya yang tetap relevan sampai kini dan kapanpun. Tentu saja dinamika spiritual manusia modern hari ini tidak sekompleks orang dulu. Kalaupun dianggap lebih ruwet, maka Iktikaf adalah jawabannya.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)