Secara
filosofis, Iktikaf memang perlu dilakukan. Untuk apa? Banyak
persoalan-persoalan kehidupan yang membutuhkan penyelesaian dengan pengambilan
keputusan yang bijak. Iktikaf adalah satu di antara tawaran solutif.
Dalam
prosesnya, Iktikaf bebas dari gangguan, kebisingan dan memungkinkan untuk
konsentrasi. Kondisi ini efektif untuk dapat mengambil keputusan yang tepat.
Pada saat yang sama, Iktikaf juga mampu meningkatkan kesadaran diri. Ini
berguna terlebih untuk merefleksikan diri. Kalau konteksnya problem hidup, akan
ditemukan apa sebab, mengapa terjadi, dan apa langkah yang tepat yang harus
dilakukan.
Alasan
berikut mungkin adalah yang paling penting, yakni membangun hubungan spiritual
dengan yang Maha Memberi solusi. Jadi tujuan Iktikaf yang sebenarnya adalah
menjaga diri dari kemeriahan duniawi untuk kemudian menjemput pengalaman
spiritual. Setelah itu, solusi pasti datang dengan sendirinya.
Sejarah
mencatat bahwa prang-orang suci dahulupun telah melakukan pengamalan konsep Iktikaf,
perenungan, meditasi, atau kontemplasi. Nabi Muhammad saw. contohnya. Sebelum
ia dilantik menjadi nabi, yang ditandai dengan turunnya wahyu pertama, Nabi
Muhammad saw. terlebih dahulu Bertahannus di Gua Hira. Tahannus
adalah Istilah yang digunakan untuk menggambarkan kegiatan Nabi Muhammad saw.
Ini ketika beliau melakukan retret spiritual di sebuah gua yang terletak di
dekat Mekah. Selama proses tersebut, Nabi Muhammad saw. menjauhkan diri dari
kesibukan duniawi, dan memfokuskan diri pada ibadah, kontemplasi.
Budha
Gautama juga melakukan pengasingan diri sebagai bagian dari proses
spiritualnya. Sebelum mencapai pencerahan, Budha Gautama telah melakukan hal
yang sama di salah satu hutan di India sana. Selama lebih kurang enam tahun ia
melakukan meditasi, berpuasa, dan berlatih disiplin spiritual yang ketat.
Beliau meninggalkan kehidupan mewah sebagai pangeran dan memilih hidup sebagai
seorang pertapa. Apa hasilnya? Sampai sekarang kebijaksanaan Budha Gautama
banyak diikuti dan berkembang menjadi sebuah agama dengan jumlah pengikut yang
cukup banyak.
Kalau mau
menyebut lainnya, mungkin pengalaman Al-Ghazali sangat baik dijadikan contoh.
Suatu ketika, Imam Al-Ghazali mengalami krisis spiritual dan merasa bahwa
dirinya telah terlalu terikat dengan dunia. Beliau merasa bahwa dirinya perlu
melakukan pengasingan diri agar lebih dekat dengan Allah swt. Karena itu,
Al-Ghazali memutuskan untuk mengasingkan diri di sebuah menara masjid. Beliau
tinggal di menara masjid tersebut selama beberapa tahun, melakukan perenungan, berpuasa,
dan berlatih disiplin spiritual yang ketat.
Selama masa
pengasingan diri, Al-Ghazali melakukan refleksi tentang dirinya dan tentang
ajaran Islam dengan serius. Beliau juga melakukan studi yang intensif tentang
Al-Qur'an dan Hadis, dan karya-karya ulama dan sufi terdahulu. Hasil dari
pengasingan diri tersebut adalah karya-karya tulis yang sangat berpengaruh,
seperti: Ihya' Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama) dan Al-Munqiz
min ad-Dalal (Penyelamat dari Kesesatan). Karya-karya tersebut sampai hari
menjadi rujukan penting bagi para ulama dan pegiat kajian sufi seantero dunia.
Di masa
lalu, dinamika spiritual orang-orang suci mencapai puncaknya setelah mereka
melakukan perenungan diri yang mendalam. Hasilnya, sungguh luar biasa
kebijaksanaan sebagai buah karya yang tetap relevan sampai kini dan kapanpun.
Tentu saja dinamika spiritual manusia modern hari ini tidak sekompleks orang
dulu. Kalaupun dianggap lebih ruwet, maka Iktikaf adalah jawabannya.