Menjemput Malam Lailatul Qadar

Refleksi Kehidupan
0

 


Sepuluh malam terakhir, tepatnya pada malam-malam ganjil Ramadan diyakini oleh banyak ulama sebagai malam dimana diturunkan tamu agung  atau malam Lailatul Qadar. Suatu malam yang penuh dengan kemuliaan, sehingga Al-Qur'an menyebutnya lebih baik dari 1000 bulan (QS. Al-Qadar/97: 3).

 

Umat Islam berlomba-lomba agar bisa mendapatkan malam kemuliaan ini, balasan pahalanya tak tanggung-tanggung, jika seseorang beribadah pada malam itu, ganjarannya lebih baik daripada 83 tahun. Siapa hari ini umat Islam yang usianya sampai 83 tahun?. Tidak banyak. Tetapi kuantitas usia yang relatif singkat itu jika dikonversi menjadi kualitas amal ibadah menggunakan parameter Lailatul Qadar tentunya akan jauh lebih berbobot.

 

Soal kapan waktunya, sudah terjawab. Kata ulama pada malam-malam ganjil di sepuluh malam yang akhir. Kapan spesifik waktunya? Tentu tidak ada yang bisa menjawab. Memang ada Hadis yang menyebut bahwa tanda-tanda alam akan sedikit berbeda dari malam biasanya: ditandai dengan cuaca yang sejuk, langit yang bersih tanpa awan, suasana yang tenang, matahari merah pada pagi hari, bulan nampak separuh, angin berhembus lembut, dan malam yang terang meskipun bulan hanya nampak separuh.

 

Yang jelas, sebagai muslim yang baik, tidak perlu menunggu malam yang spesifik, yang penting adalah fokus beramal maksimal. Nanti akan ketemu dengan Lailatul Qadar. Pak Quraish Shihab pernah membuat suatu perumpamaan yang sangat cantik sekali. Katanya begini: "Lailatul Qadar itu ibarat tamu agung, mungkin semua orang akan menjemputnya, katakan lah di bandara. Tapi tidak semua akan dilihat oleh tamu agung tersebut, kalaupun dilihat, tidak semua yang dilihat disenanginya, kalaupun disenanginya, tidak semua yang disenanginya itu akan dikunjunginya".

 

Lailatul Qadar akan mengunjungi orang-orang yang sudah sejak lama mempersiapkan diri. Kalau persiapannya hanya mengandalkan sepuluh malam terakhir, apa itu persiapan yang lama?. Di sinilah pentingnya hadis Nabi yang menyatakan: "Man shama ramadhana imamanan wahtisaban, ghufira lahu ma taqaddama mindzanbih", (Siapa yang puasa Ramadan dengan penuh keimanan dan persiapan yang matang, akan diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu).

 

Dengan demikian, Lailatul Qadar akan menghampiri orang-orang yang benar-benar siap sejak lama. Setidaknya, indikasi yang mendukung terhadap persiapan itu adalah niat awal ketika memasuki bulan Ramadan, kemudian konsistensi melaksanakan amalan-amalan, serta hati yang selalu berharap ampunan Allah swt.

 

Orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar akan merasakan perubahan yang signifikan dalam dirinya. Al-Qur'an menyebutnya dengan: "Salamun hiya hatta mathlail fajr" (Qs. Al-Qadar/: 5). Mereka yang mendapatkan malam Lailatul Qadar akan merasakan hati yang tenang dan damai, kesadaran spiritual yang semakin meningkat, dan doa-doa mereka akan dijawab. Mereka juga akan merasakan perasaan yang tak terhingga dan tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Tetapi, satu hal yang perlu diingat bahwa hanya Allah swt. saja yang tahu siapa yang mendapatkan malam Lailatul Qadar. Tugas kita harus terus berusaha dan berdoa untuk mendapatkannya

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)