Menjemput Malam Lailatul Qadar (Bagian 2)

Refleksi Kehidupan
0


 

Tidak ada yang tau kapan persisnya malam Lailatul Qadar. Ini sudah diultimatum langsung oleh ayat Al-Qur'an: "Wa ma adraka ma lailatul qadar" (QS. Al-Qadr/97:2), Tahukah kamu (kapan) malam Lailatul Qadar itu?.

 

Ada yang mengartikan malam Lailatul Qadar itu sebagai malam turunnya Al-Qur'an, berarti malam 17 Ramadan. Ada juga yang mengatakan di sepuluh malam terakhir pada malam-malam ganjil. Sementara, banyak juga yang mengharuskan persiapan menjemput malam mulia ini sejak dari malam pertama Ramadan. Yang lebih ekstrem, persiapannya justru dua bulan sebelum Ramadan. Katanya, bulan Rajab adalah bulan meyemai, bulan Sya'ban adalah bulan menyiram, dan bulan Ramadan adalah bulan memanen.

 

Karena rumitnya persoalan waktu Lailatul Qadar ini, maka yang terpenting adalah sejauh mana persiapan menerimanya. Ini tentu sulit mengukurnya, biarlah masing-masing diri mengevaluasi. Yang mungkin dapat dilakukan adalah melihat indikator siapa yang berhasil menemukan malam kemuliaan ini. Siapa dia?

 

Pak Quraish Shihab memberikan dua indikator penting: pertama, "Tanazzalul malaikah...". Pada malam Lailatul Qadar malaikat turun ke bumi mencatat seluruh amalan manusia.  Lalu lintas langit dan bumi pada malam ini sebenarnya sangat padat, hanya saja manusia tidak bisa menjangkaunya.

 

Apa fungsi malaikat? Malaikat berfungsi untuk meneguhkan hati manusia, membuatnya lebih condong kepada kebaikan. Ilustrasinya begini, ketika menemukan barang berharga di jalan, yang tidak diketahui siapa pemiliknya, ada dua bisikan hati yang datang. Satu, mengatakan: “Jangan ambil, itu bukan hakmu”, yang satu lagi mengatakan: “Ambil saja, mumpung tidak ada yang lihat”. Dua bisikan hati tersebut masing-masing berasal dari malaikat dan setan. Jadi, malaikat berfungsi untuk mengarahkan manusia kepada jalan kebaikan, adapun setan sebaliknya.

 

Saat malam Lailatul Qadar, malaikat turun ke bumi penuh sesak, mengarahkan manusia kepada jalan kebaikan. Itulah mengapa indikator orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar adalah perilakunya akan cenderung pada kebaikan.

 

Indikator kedua, orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar adalah "Salamun hiya hatta mathlail fajr" (QS. Al-Qadar/97: 5). "Selamat (damai) lah hatinya sampai waktu fajar. Kedamaian hati merupakan tanda dari seorang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar.

 

Damai ada dua, pasif dan aktif. Tidak mengganggu orang adalah bentuk damai yang pasif. Sementara memberi, memuji, santun adalah bentuk kedamaian yang aktif. Jadi, orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar akan selalu merasakan kedamaian hati. Dirinya bebas dari berbagai penyakit hati dan senantiasa memiliki kerelaan menerima (Rida) terhadap ketentuan Allah swt.

 

Dua indikator tersebut hendaknya bertahan sampai manusia tersebut dipanggil oleh Allah. Seperti yang dijelaskan Al-Qur'an: "Hatta mathlail fajr" (QS. Al-Qadr/97: 5), “Sampai terbitnya fajar”. Maksudnya bukan hanya sampai terbit fajar di pagi harinya. Fajar dalam ayat tersebut adalah fajar awal kehidupan berikutnya. Jadi, kecenderungan berbuat baik dan kedamaian hati tersebut harus selalu terpelihara sampai nanti masuk kedalam fase kehidupan berikutnya.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)