Tidak ada yang tau kapan persisnya malam Lailatul Qadar. Ini sudah diultimatum langsung oleh ayat Al-Qur'an: "Wa ma adraka ma lailatul qadar" (QS. Al-Qadr/97:2), Tahukah kamu (kapan) malam Lailatul Qadar itu?.
Ada yang
mengartikan malam Lailatul Qadar itu sebagai malam turunnya Al-Qur'an, berarti
malam 17 Ramadan. Ada juga yang mengatakan di sepuluh malam terakhir pada
malam-malam ganjil. Sementara, banyak juga yang mengharuskan persiapan
menjemput malam mulia ini sejak dari malam pertama Ramadan. Yang lebih ekstrem,
persiapannya justru dua bulan sebelum Ramadan. Katanya, bulan Rajab adalah
bulan meyemai, bulan Sya'ban adalah bulan menyiram, dan bulan Ramadan adalah
bulan memanen.
Karena
rumitnya persoalan waktu Lailatul Qadar ini, maka yang terpenting adalah sejauh
mana persiapan menerimanya. Ini tentu sulit mengukurnya, biarlah masing-masing
diri mengevaluasi. Yang mungkin dapat dilakukan adalah melihat indikator siapa
yang berhasil menemukan malam kemuliaan ini. Siapa dia?
Pak Quraish
Shihab memberikan dua indikator penting: pertama, "Tanazzalul malaikah...".
Pada malam Lailatul Qadar malaikat turun ke bumi mencatat seluruh amalan
manusia. Lalu lintas langit dan bumi
pada malam ini sebenarnya sangat padat, hanya saja manusia tidak bisa
menjangkaunya.
Apa fungsi
malaikat? Malaikat berfungsi untuk meneguhkan hati manusia, membuatnya lebih
condong kepada kebaikan. Ilustrasinya begini, ketika menemukan barang berharga
di jalan, yang tidak diketahui siapa pemiliknya, ada dua bisikan hati yang
datang. Satu, mengatakan: “Jangan ambil, itu bukan hakmu”, yang satu lagi
mengatakan: “Ambil saja, mumpung tidak ada yang lihat”. Dua bisikan hati
tersebut masing-masing berasal dari malaikat dan setan. Jadi, malaikat
berfungsi untuk mengarahkan manusia kepada jalan kebaikan, adapun setan
sebaliknya.
Saat malam
Lailatul Qadar, malaikat turun ke bumi penuh sesak, mengarahkan manusia kepada
jalan kebaikan. Itulah mengapa indikator orang yang mendapatkan malam Lailatul
Qadar adalah perilakunya akan cenderung pada kebaikan.
Indikator
kedua, orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar adalah "Salamun hiya
hatta mathlail fajr" (QS. Al-Qadar/97: 5). "Selamat (damai) lah
hatinya sampai waktu fajar. Kedamaian hati merupakan tanda dari seorang yang
mendapatkan malam Lailatul Qadar.
Damai ada
dua, pasif dan aktif. Tidak mengganggu orang adalah bentuk damai yang pasif.
Sementara memberi, memuji, santun adalah bentuk kedamaian yang aktif. Jadi,
orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar akan selalu merasakan kedamaian
hati. Dirinya bebas dari berbagai penyakit hati dan senantiasa memiliki
kerelaan menerima (Rida) terhadap ketentuan Allah swt.
Dua
indikator tersebut hendaknya bertahan sampai manusia tersebut dipanggil oleh
Allah. Seperti yang dijelaskan Al-Qur'an: "Hatta mathlail fajr"
(QS. Al-Qadr/97: 5), “Sampai terbitnya fajar”. Maksudnya bukan hanya sampai
terbit fajar di pagi harinya. Fajar dalam ayat tersebut adalah fajar awal
kehidupan berikutnya. Jadi, kecenderungan berbuat baik dan kedamaian hati
tersebut harus selalu terpelihara sampai nanti masuk kedalam fase kehidupan
berikutnya.
