Syahdan, seorang raja memberikan tiga buah karung kepada masing-masing pengawalnya dan memerintahkan supaya mengisi karung tersebut dengan aneka makanan sampai penuh.
Pengawal
pertama berpikir: "kok enak kali jadi raja, tinggal suruh, awak yang
kerja, dia yang dapat makan". Alih-alih mengisi makanan, pengawal pertama
justru mengisi karungnya dengan sampah sampai penuh.
Adapun
pengawal kedua, hampir sama isi kepalanya dengan pengawal pertama, tetapi ia
tidak ekstem, ia masih mengisi karungnya dengan setengah makanan dan setengahnya
lagi sampah.
Sedangkan
pengawal ketiga, patuh dan tunduk terhadap perintah raja. Ia mengisi karungnya
penuh dengan makanan yang lezat dan terbaik. Tidak sedikitpun ada rasa
membangkang, tegak lurus pada perintah raja.
Sampailah
pada limit waktu penyerahan tugas, perintah raja segera diberikan. Setelah
berkumpul di hadapan raja, ketiganya tunduk dengan rasa takut. Yang
mengejutkan, perintah raja selanjutnya adalah menyuruh mereka masuk kedalam
penjara dan selama berada di dalam penjara mereka makan dari hasil yang telah
dikumpulkan di dalam karung tersebut.
Dapat
dibayangkan, betapa menyesalnya pengawal pertama karena telah abai terhadap
perintah raja. Alamat, ia akan memakan sampah selama berada di dalam penjara.
Betapa
setengah menyesalnya si pengawal kedua, karena hanya mengisi setengah makanan,
sementara setengahnya lagi hanya berisi sampah. Andai waktu bisa diulang, tentu
ia akan patuh terhadap perintah raja.
Betapa
beruntungnya pengawal ketiga, sami'na wa atha'na kepada perintah raja,
apa yang diperintahkan benar-benar dilakukan. Tidak sekadar dilakukan, tetapi
dilakukan dengan serius.
Kisah ini
penulis kutip sepenuhnya dari isi ceramah ustaz M. Salim, S.Ag, M.Si pada malam
kelima Ramadan yang lalu.
Apa poinnya?
Deskripsi perilaku ketiga pengawal tersebut hampir sama dengan perilaku
manusia dalam mengamalkan perintah
Allah. Ada orang yang abai terhadap perintah Allah, bahkan mengolok-olok perintah
tersebut, ada juga yang melaksanakan tapi hanya sekadarnya saja. Yang lebih
baik adalah melaksanakan dengan kesungguhan dan setulus hati.
Dalam
konteks puasa, ada orang yang hanya sekedar menahan makan dan minum saja, ada
yang mengelak dengan lebih banyak tidur daripada terjaga selama puasa. Tetapi
ada yang memang benar-benar totalitas melaksanakan puasa, zahir dan batin. Imam
Gazali menyebutnya dengan puasa (khawasul khawasul).
Seberapa
besar ganjaran pahala yang akan diterima saat melakukan suatu ibadah,
tergantung dari kesulitan dan kesungguhan dalam melaksanakannya. Termasuk
puasa, kalau godaan besar, maka besar pula kemungkinan pahala yang akan
diberikan. Demikian sebaliknya.
Ibadah yang
kita lakukan tidak ada gunanya bagi Allah. Andaipun sedunia ini tidak ada lagi
yang mau puasa, Allah tetap Allah, tidak akan berkurang kekuasaan hanya karena
semua makhluknya membangkang. Jadi, perintah atau syariat Allah yang diberikan
kepada manusia sesungguhnya untuk manusia itu sendiri. Allah sama sekali tidak
perlu. Lalu apa perlunya bagi manusia? Untuk menjaga manusia itu sendiri:
menjaga agama (hifzud din), menjaga jiwa (hifzun nafs), menjaga
akal (hifzil 'aql), menjaga keturunan (hifzun nasl), dan menjadi
harta (hifzul mal). Para ahli Ushuliyah menyebutnya dengan maqashid
syariah.
Jadi, sekali
lagi, manusialah yang butuh dengan perintah Allah. Termasuk puasa, manusialah
yang butuh dengan puasa. Terutama untuk menjaga jiwa (hifzhun nafs),
menjaga jiwa yang tidak terkendali, yang selalu berprasangka buruk, dan lain sebagainya.
