Puasa Kaffah

Refleksi Kehidupan
0


Syahdan, seorang raja memberikan tiga buah karung kepada masing-masing pengawalnya dan memerintahkan supaya mengisi karung tersebut dengan aneka makanan sampai penuh.

 

Pengawal pertama berpikir: "kok enak kali jadi raja, tinggal suruh, awak yang kerja, dia yang dapat makan". Alih-alih mengisi makanan, pengawal pertama justru mengisi karungnya dengan sampah sampai penuh.

 

Adapun pengawal kedua, hampir sama isi kepalanya dengan pengawal pertama, tetapi ia tidak ekstem, ia masih mengisi karungnya dengan setengah makanan dan setengahnya lagi sampah.

 

Sedangkan pengawal ketiga, patuh dan tunduk terhadap perintah raja. Ia mengisi karungnya penuh dengan makanan yang lezat dan terbaik. Tidak sedikitpun ada rasa membangkang, tegak lurus pada perintah raja.

 

Sampailah pada limit waktu penyerahan tugas, perintah raja segera diberikan. Setelah berkumpul di hadapan raja, ketiganya tunduk dengan rasa takut. Yang mengejutkan, perintah raja selanjutnya adalah menyuruh mereka masuk kedalam penjara dan selama berada di dalam penjara mereka makan dari hasil yang telah dikumpulkan di dalam karung tersebut.

 

Dapat dibayangkan, betapa menyesalnya pengawal pertama karena telah abai terhadap perintah raja. Alamat, ia akan memakan sampah selama berada di dalam penjara.

 

Betapa setengah menyesalnya si pengawal kedua, karena hanya mengisi setengah makanan, sementara setengahnya lagi hanya berisi sampah. Andai waktu bisa diulang, tentu ia akan patuh terhadap perintah raja.

 

Betapa beruntungnya pengawal ketiga, sami'na wa atha'na kepada perintah raja, apa yang diperintahkan benar-benar dilakukan. Tidak sekadar dilakukan, tetapi dilakukan dengan serius.

 

Kisah ini penulis kutip sepenuhnya dari isi ceramah ustaz M. Salim, S.Ag, M.Si pada malam kelima Ramadan yang lalu.

 

Apa poinnya? Deskripsi perilaku ketiga pengawal tersebut hampir sama dengan perilaku manusia  dalam mengamalkan perintah Allah. Ada orang yang abai terhadap perintah Allah, bahkan mengolok-olok perintah tersebut, ada juga yang melaksanakan tapi hanya sekadarnya saja. Yang lebih baik adalah melaksanakan dengan kesungguhan dan setulus hati.

 

Dalam konteks puasa, ada orang yang hanya sekedar menahan makan dan minum saja, ada yang mengelak dengan lebih banyak tidur daripada terjaga selama puasa. Tetapi ada yang memang benar-benar totalitas melaksanakan puasa, zahir dan batin. Imam Gazali menyebutnya dengan puasa (khawasul khawasul).

 

Seberapa besar ganjaran pahala yang akan diterima saat melakukan suatu ibadah, tergantung dari kesulitan dan kesungguhan dalam melaksanakannya. Termasuk puasa, kalau godaan besar, maka besar pula kemungkinan pahala yang akan diberikan. Demikian sebaliknya.

 

Ibadah yang kita lakukan tidak ada gunanya bagi Allah. Andaipun sedunia ini tidak ada lagi yang mau puasa, Allah tetap Allah, tidak akan berkurang kekuasaan hanya karena semua makhluknya membangkang. Jadi, perintah atau syariat Allah yang diberikan kepada manusia sesungguhnya untuk manusia itu sendiri. Allah sama sekali tidak perlu. Lalu apa perlunya bagi manusia? Untuk menjaga manusia itu sendiri: menjaga agama (hifzud din), menjaga jiwa (hifzun nafs), menjaga akal (hifzil 'aql), menjaga keturunan (hifzun nasl), dan menjadi harta (hifzul mal). Para ahli Ushuliyah menyebutnya dengan maqashid syariah.

 

Jadi, sekali lagi, manusialah yang butuh dengan perintah Allah. Termasuk puasa, manusialah yang butuh dengan puasa. Terutama untuk menjaga jiwa (hifzhun nafs), menjaga jiwa yang tidak terkendali, yang selalu berprasangka buruk, dan lain sebagainya.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)